Minggu, 17 Desember 2017         PDII LIPI       LIPI       Halaman Depan »

» ISSN ONLINE kontak kami »

Nomor ISSN yang telah diterbitkan :

» Kata kunci : tahun permohonan  
Pisahkan kata kunci dengan spasi. Untuk melihat daftar ISSN lengkap, klik tombol CARI tanpa menuliskan kata kunci apapun... halaman sebelumnya »

Nomor ID : 1380347664
Tanggal permohonan : Sabtu, 28 September 2013
Nama terbitan : JURNAL ILKES
Sinopsis : ABSTRACT THE PREPAREDNESS OF NURSES IN DISASTER MANAGEMENT AND FACTORS AFFECTING NURSES IN DISASTER MANAGEMENT PREPAREDNESS KELUD ERRUPTION IN BLITAR REGENCY By: Agus Khoirul Anam¹, Sri Andarini ², Kuswantoro R.P ³ Disaster preparedness is a series of efforts made to anticipate the disaster through organizing as well as the steps effectively and usefull. Identification of factors influencing nursing preparedness is beneficial in the preparation of government programs related to nursing preparedness in disaster management and nurses understand the factors that need to be considered. The aim of this study is to identify the preparedness of nurses in disaster management and factors affecting nurses in disaster management preparedness Kelud eruption. This research is a descriptive analytic study with cross-sectional designs. The number of samples is s 57 nurses who were in the Disaster-prone Region Kelud in Blitar district and the study was conducted from April 2013 until may 2013. The result of analysis used logistic regression method that shows the influencing variables on the preparedness is goverment policy(OR 0,290), attitude (OR 0,286), Infrastructure Fund budget (OR 0,274). Goverment policy is important for instructions (guidelines) so that nurses do not disorientation in disaster management. Key words: Preparedness, Nurse, Disaster Kelud Erruption ¹Program Magister Keperawatan Gawat Darurat Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya ² Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya ³Program Magister Keperawatan Gawat Darurat Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya Korespondensi : Agus Khoirul Anam. Poltekkes Kemenkes Malang Prodi .Keperawatan Blitar Jln.Dr.Sutomo No,46 Blitar Telp. (0342) 801043 Email : Aguskhoirulanam@gmail.com PENDAHULUAN Indonesia adalah negara rawan bencana dilihat dari aspek geografis, klimatologis dan demogafis. Letak geografis Indonesia di antara dua benua dan dua samudra menyebabkan Indonesia mempunyai potensi bagus dalam perekonomian sekaligus rawan dengan bencana (Badan Nasional Penanggulangan Bencana ,2012). Indonesia merupakan negara yang paling banyak memiliki gunung api di dunia yaitu 500 gunung api yang tersebar di Indonesia dan 129 diantaranya merupakan gunung api aktif, sekitar 70 dari gunung aktif tersebut sering meletus. Berdasarkan sebaran zona resiko tinggi yang dispasialkan dalam indeks rasio bencana letusan gunung api di Indonesia maka Badan Nasional Penanggulangan Bencana telah menyatakan penanggulangan bencana letusan gunung api dalam 5 tahun sejak tahun 2011 diarahkan pada wilayah rawan bencana gunung api diantaranya gunung Kelud yang berada di wilayah Blitar Jawa Timur (Badan Penanggulangan Bencana Daerah ,2007). Dampak bencana gunung Kelud meliputi daerah yang berdekatan dengan kawah gunung Kelud.Terdapat 3 kabupaten diantaranya kabupaten Blitar,Kediri dan Malang sebelah barat (Badan Penanggulangan Bencana Daerah,2007). Letusan gunung Kelud pada tahun 1919 mengakibatkan 5.190 korban jiwa dan letusan tahun 1966 dengan korban 210 jiwa. Letusan terakhir pada tahun 1990 dan pada tahun 2007 yang lalu hampir terjadi letusan kembali. Pola letusan oleh beberapa ahli dinyatakan terjadi setiap 15 tahun (Badan Penanggulangan Bencana Daerah,2007). Di dalam standart kompetensi perawat bencana International Council Nurse (2007) menyatakan bahwa dampak bencana meliputi kerusakan infrastruktur meliputi air, transportasi, komunikasi, listrik, pelayanan kesehatan dan kebutuhan finansial yang meningkat. Sebenarnya Indonesia sangat berpengalaman karena sudah sering daerah-daerah yang mengalami bencana tetapi penanganan pada saat kejadian ternyata kurang baik bahkan nampak tidak siap (United Nations Educational Scientific and Cultural Organization, 2007 ). Pada pasal 2 Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2008 tentang penyelenggaraan penanggulangan bencana menyatakan bahwa penanggulangan bencana dilaksanakan secara terencana, terpadu, terkoordinasi dan menyeluruh dalam rangka memberikan perlindungan kepada masyarakat dari ancaman, risiko dan dampak bencana. Penanggulangan bencana adalah serangkaian upaya mengurangi resiko bencana meliputi mengurangi resiko terjadinya bencana, kegiatan pencegahan bencana, tanggap darurat dan rehabilitasi (Badan Nasional Penanggulangan Bencana ,2010). Kondisi inilah yang mendorong diperlukannya upaya kesiapsiagaan yang terus menerus dilakukan agar apabila terjadi bencana maka semua lini masyarakat dan pemerintah siap dalam penanggulangan dampak bencana. Kesiapsiagaan unsur pemerintah diantaranya adalah tenaga kesehatan di daerah rawan bencana (Association of Women’s Health, Obstetric and Neonatal Nurses,2012). Perawat sebagai bagian terbesar tenaga kesehatan yang berada di daerah mempunyai peran sangat penting karena perawat sebagai lini terdepan pelayanan kesehatan. Masalah utama dalam kesiapsiagaan penanggulangan bencana menurut penelitian yang dilakukan oleh Kija Chapman dan Paul Arbon (2008) menyatakan bahwa pengetahuan perawat masih kurang dalam manajemen bencana meliputi pengetahuan tentang kesiapsiagaan bencana, tanggap bencana dan pemulihan setelah bencana. Perawat kurang baik dalam implementasi dan belum ada standarisasi kesiapsiagaan bencana. Menurut Chapman (2008) menyatakan bahwa 80 persen perawat yang menjadi relawan bencana tidak mempunyai pengalaman dalam tanggap bencana serta 23 persen perawat hanya pernah mendapatkan pendidikan kesiapsiagaan bencana dasar dan tidak ada pendidikan kelanjutannya. Penelitian yang dilakukan Fung (2008) menyatakan bahwa sebagian besar perawat ( 97 persen ) tidak mempunyai persiapan yang baik dalam penanganan bencana. Studi pendahuluan yang dilakukan pada tanggal 5 Maret 2013 di Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Blitar dan Puskesmas kawasan rawan bencana didapatkan bahwa pelatihan khusus kesiapsiagaan bencana untuk perawat belum pernah dilakukan. Pendidikan dan pelatihan ada sebatas pelatihan Pertolongan Pertama Gawat Darurat di rumah sakit Ngudi Waluyo Wlingi dan tidak semua perawat puskesmas mengikuti pelatihan tersebut. Wawancara dengan perawat kesehatan masyarakat di daerah Semen Kecamatan Gandusari pada tanggal 5 Maret 2013 menyatakan bahwa pemerintah daerah belum pernah memberikan pelatihan khusus bagi perawat tentang kesiapsagaan bencana. Secara lebih rinci International Council Nurse (2007) membagi kompetensi perawat disaster dalam empat klasifikasi yaitu kompetensi mitigasi (pencegahan), kompetensi preparedness (kesiapsiagaan), kompetensi respon (tanggap bencana) dan kompetensi recovery dan rehabilitasi. Menurut Godwin (2007) kesiapsiagaan bencana yang dapat di lakukan oleh perawat antara lain perawat berpartisipasi dalam mengembangkan rencana penanggulangan bencana (Community Disaster Plan), melaksanakan pengkajian resiko (Community Risk Assesment) meliputi kemungkinan terjadinya bencana, dampak dan kerugian yang timbul akibat bencana, pemetaan kawasan rawan bencana, pencegahan bencana (Disaster Prevention) meliputi mencegah dan mengurangi kerusakan akibat bencana, memindahkan korban dalam pengungsian, peringatan dini bencana kepada masayarakat serta membuat dan mengembangkan sistem peringatan dini, mengikuti dan berperan aktif dalam pelatihan serta pendidikan penanggulangan bencana, melakukan identifikasi kebutuhan pelatihan dan pendidikan penanggulangan bencana bagi perawat, mengembangkan data perawat yang dapat dimobilisasi untuk tanggap darurat dan melakukan triage bencana dan melakukan evaluasi semua komponen dalam penanggulangan bencana (Disaster Nursing Respon). Kemampuan dalam penanggulangan bencana harus didukung oleh pengetahuan dan sikap motivasi perawat yang selalu harus dievaluasi dan bahkan perlu adanya perubahan-perubahan karena adanya pengembangan teknologi, riset dan jenis bencana alam (International Council Nurse ,2007). Faktor yang mempengaruhi kesiapsiagaan perawat meliputi kemampuan kognitif, sikap (affektif) dan psikomotor (skill) dalam disaster manajemen (International Council Nurse, 2007). Pengetahuan perawat tentang penanggulangan bencana sangat penting dalam persiapan penanggulangan bencana. Persiapan ini tidak hanya bermanfaat bagi perawat tetapi secara keseluruhan organisasi kesehatan di daerah rawan bencana (Sylvia Back , 2011). Samantha Phang (2010) menyatakan bahwa sikap (attitude) sangat mempengaruhi perawat dalam bencana terutama sebagai penolong serta sebagai tenaga yang bekerja dalam sebuah sistem penanggulangan bencana. Selain itu sikap dapat mendukung kemauan perawat dalam meningkatkan pengetahuannya. Masih menurut Samantha Pang (2010) bahwa pengetahuan mampu mendukung kompetensi perawat dalam disaster manajemen. Selain hal tersebut faktor lain yang mempengaruhi kesiapsiagaan perawat menurut Arbon (2006) adalah kesiapan institusi kesehatan meliputi puskesmas atau rumah sakit, dukungan dalam peningkatan kompetensi perawat meliputi pelatihan-pelatihan disaster manajemen, adanya kebijakan petunjuk (guidelines) yang jelas sehingga perawat tidak disorientasi dalam penanganan bencana, pengalaman perawat dalam menangani kejadian bencana dan sarana prasarana yang tersedia dalam manajemen bencana. Menurut Bella (2011) perencanaan yang jelas oleh institusi pelayanan kesehatan, koordinasi antar instansi , dan pendidikan kompetensi yang berkelanjutan mempengaruhi kesiapsiagaan perawat disaster. Identifikasi faktor yang mempengaruhi kesiapsiagaan perawat bermanfaat dalam penyusunan program-program pemerintah yang berhubungan dengan kesiapsiagaan perawat dalam penanggulangan bencana dan perawat memahami faktor-faktor yang perlu diperhatikan. Berdasarkan data di atas maka peneliti ingin mengidentifikasi kesiapsiagaan perawat dalam penanggulangan bencana dan faktor-faktor yang mempengaruhi kesiapsiagaan perawat dalam penanggulangan bencana gunung Kelud. METODE Penelitian ini menggunakan desain penelitian deskriptif analitik dengan rancangan cross sectional yaitu untuk mengetahui hubungan korelatif antar faktor-faktor yang mempengaruhi kesiapsiagaan perawat dalam penanggulangan bencana gunung Kelud dan kesiapsiagaan perawat. Sampel pada penelitian ini adalah perawat di kawasan rawan bencana Gunung Kelud. Besar sampel 57 perawat di lima puskesmas yang masuk kawasan rawan bencana Gunung Kelud dengan menggunakan teknik total sampling dimana sampel adalah seluruh di Puskesmas Gandusari,Puskesmas Talun, Puskesmas Garum, Puskesmas Ponggok dan Puskesmas Nglegok. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner dengan menggunakan pertanyaan tertutup. Instrumen disusun oleh peneliti berdasarkan pengembangan dari beberapa teori yaitu untuk mengukur pengetahuan perawat tentang kesiapsiagaan bencana menggunakan modifkasi teori dari Rencana Nasional Penanggulangan Bencana BNPB dan Panduan Perencanaan Kontijensi Bencana BNPB. Instrumen pengukuran sikap dan kesiapsiagaan perawat menggunakan teori Godwin (2007). Instrument untuk mengukur kebijakan pemerintah dan sarana anggaran dana menggunakan keputusan menteri kesehatan ( Kepmenkes) Republik Indonesia nomor 1635 tentang Pedoman Penanganan Bencana Bidang Kesehatan tahun 2005. Instrumen ini belum pernah digunakan sebelumnya pada penelitian sehingga diperlukan uji validitas dan reliabilitas untuk mengukur keabsahan dan keandalan instrumen ketika di terapkan kepada responden. Analisis univariat dilakukan untuk menggambarkan variabel-variabel penelitian dengan menggunakan diskriptif statistik. Pada penelitian ini, peneliti menganalisa variabel kesiapsiagaan perawat dan faktor-faktor (pengetahuan, sikap, kebijakan pemerintah, sarana dan anggaran dana). Analisis bivariat pada penelitian ini adalah menghubungkan faktor-faktor yang mempengaruhi kesiapsiagaan perawat dalam penangggulangan bencana Gunung Kelud yaitu faktor pengetahuan, sikap, kebijakan pemerintah, sarana dan anggaran dana terhadap kesiapsiagaan perawat yang diduga berhubungan atau berkorelasi menggunakan uji korelasi Chi-Square jika memenuhi syarat dan sebagai alternatif dilakukan uji fisher. Uji bivariat bertujuan membandingkan dari masing-masing faktor, karena hipotesis yang digunakan adalah hipotesis komparatif kategorik. Uji ini dilakukan dengan menggunakan komputer program SPSS for Windows versi 17.0, dengan tingkat kemaknaan atau  = 0,05. Dimana H1 diterima jika nilai p value <  atau p value < 0,05 dan H0 diterima jika p value >  atau p value > 0,05. Analisis Multivariat bertujuan untuk mengetahui faktor yang paling berpengaruh terhadap kesiapsiagaan perawat dalam penangggulangan bencana Gunung Kelud. Pada analisis multivariat ini peneliti menggunakan analisis regresi logistik dimana variabel dependent adalah variabel katagorik. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Penelitian ini dilakukan sejak tanggal 26 April 2013 dan selesai pada tanggal 26 Mei 2013 dilaksanakan di Puskesmas yang masuk dalam Kawasan Rawan Bencana (KRB ) Gunung Kelud yaitu Puskesmas Gandusari,Puskesmas Talun, Puskesmas Garum, Puskesmas Ponggok dan Puskesmas Nglegok. Dalam penelitian ini didapatkan responden sebanyak 57 responden yang terdiri dari perawat di Puskesmas yang berada di kawasan rawan bencana Gunung Kelud Kabupaten Blitar. Gambar 1: Peta kawasan rawan bencana gunung Kelud (Sumber : Badan Nasional Penanggulangan Bencana ,2010). 1. Data Demografi Perawat di Kawasan Rawan Bencana Gunung Kelud. Tabel 1: .Data Demografi Perawat di Kawasan Rawan Bencana Gunung Kelud. Variabel n persen Jabatan Perawat Pelaksana 57 100 persen Pengalaman Pelatihan Belum pernah Satu Kali Lebih satu kali 28 24 5 49.1 42.1 8.8 Pelaksana Pelatihan PMI Dinkes PPNI Pemda & Jangkar Kelud 2 19 7 1 3.5 33.3 12.3 1.8 Menjadi Team Tanggap Bencana Belum pernah Pernah 35 22 61.4 38.6 Variabel n persen Mean SD Min-Maks Usia 57 100 32.84 7.77 21-50 Lama Bekerja 57 100 10.18 7.4 1-27 2. Faktor yang mempengaruhi kesiapsiagaan perawat dalam penanggulangan bencana gunung Kelud Tabel 2: Data faktor yang mempengaruhi kesiapsiagaan perawat dalam penanggulangan bencana gunung Kelud. Pengetahuan n persen Kurang 25 43.9 Baik 32 56.1 Sikap Negatif 29 50.9 Positif 28 49.1 Kebijakan Pemerintah Kurang 21 36.8 Baik 36 63.2 sarana prasarana dan anggaran dana Kurang 40 70.2 Baik 17 29.8 3. Analisis bivariat antara pengetahuan, sikap, kebijakan pemerintah dan sarana anggaran dana dengan kesiapsiagaan perawat dalam dalam penangggulangan bencana Gunung Kelud Tabel 3.Hasil Analisis Bivariat Variabel p-value Pengetahuan 0,014 Sikap 0,024 Kebijakan Pemerintah 0,007 Sarana Prasarana Anggaran Dana 0,024 Dari hasil analisis diatas yang merupakan hasil pengujian antara pengetahuan, sikap, kebijakan pemerintah dan sarana anggaran dana dengan kesiapsiagaan perawat dalam dalam penangggulangan bencana Gunung Kelud didapatkan nilai signifikasi kurang dari alpha (5 persen). Sehingga dapat disimpulkan bahwa hipotesis Ho ditolak dan dapat dikatakan bahwa terdapat hubungan antara pengetahuan, sikap, kebijakan pemerintah dan sarana anggaran dana dengan kesiapsiagaan perawat dalam dalam penangggulangan bencana Gunung Kelud tingkat batas kesalahan sebesar 5 persen. 4. Analisis multivariat Tabel 4.Hasil Analisis Multivariat Variabel p OR Sikap 0.050 0.286 Kebijakan Pemerintah 0.076 0.290 Sarana Prasarana Dan Anggaran Dana 0.060 0.274 Berdasarkan tabel diatas, dapat dilihat bahwa variabel yang berpengaruh terhadap kesiapsiagaan bencana adalah pengetahuan, sikap, kebijakan pemerintah dan sarana prasarana dan anggaran. Urutan kekuatan hubungan dari keempat variabel ini dapat dilihat dari nilai Odds Ratio (dilihat dari nilai Exp(B)). Sedangkan variabel yang mempunyai pengaruh paling kuat adalah kebijakan pemerintah dengan OR 0.290 disusul dengan sikap responden dengan OR 0.286.dan terakhir sarana prasarana dan anggaran dengan OR 0.274.Berdasarkan hasil analisis regresi logistik maka persamaan yang diperoleh untuk memprediksi probabilitas faktor-faktor yang mempengaruhi kesiapsiagaan perawat menghadapi bencana Gunung kelud yaitu : Keterangan: a = nilai koefisien tiap variabel (dilihat dari nilai [B]) x = nilai variabel bebas: 1) Sikap bernilai 1 jika terjadi positif, dan 0 jika negatif 2) Kebijakan Pemerintah bernilai 1 jika terjadi baik, dan 0 jika kurang dan 3) Sarana Prasarana dan Anggaran Dana bernilai1 jika terjadi baik, 0 jika kurang Setelah mendapatkan persamaan, selanjutnya nilai y akan dimasukkan ke dalam suatu model prediksi: = 1/(1+2,7 0,917) = 0,29 Jadi prediksi perawat dalam kesiapsiagaan penanggulangan bencana gunung Kelud Kabupaten Blitar adalah 29 persen dengan asumsi jika sikap, kebijakan dan sarana prasarana anggaran dana seperti hasil dalam penelitian ini. Pembahasan 1. Hubungan pengetahuan perawat tentang penanggulangan bencana dengan kesiapsiagaan perawat dalam menanggulangi bencana letusan gunung Kelud Di Kabupaten Blitar Berdasarkan hasil analisis didapatkan bahwa pengetahuan perawat tentang penanggulangan bencana gunung Kelud berhubungan dengan kesiapsiagaan perawat dalam menanggulangi bencana letusan gunung Kelud di kabupaten Blitar. Bella Magnaye (2011) menyatakan dalam penelitiannya pada 250 perawat di Philipina bahwa pengetahuan harus dipersiapkan sebelum kejadian bencana untuk meningkatkan kompetensi perawat saat bencana terjadi. Persiapan perawat meliputi training, workshop, seminar tentang keperawatan bencana ( Disaster Nursing). Pengetahuan adalah aspek intelektual yang berkaitan dengan apa yang diketahui manusia (Notoatmodjo, 2010). Pengetahuan merupakan hasil tahu seseorang terhadap obyek melalui indra yang dimilikinya. Penginderaan menghasilkan pengetahuan yang dipengaruhi oleh intensitas perhatian dan persepsi terhadap obyek. Pengetahuan yang dibutuhkan dalam kesiapsiagaan menurut Godwin (2007) adalah membuat dan memperbarui disaster plan, pengkajian resiko lingkungan, melakukan kegiatan pencegahan bencana, program pendidikan masyarakat, program pelatihan dan simulasi bencana. Salah satu teori perilaku yaitu teori Preced-Proceed yang di kembangkan oleh Lawrence Green menekankan analisa perilaku manusia dari tingkat kesehatan dimana pengetahuan masuk faktor predisposisi (predisposing factor) dalam pembentukan perilaku kesiapsiagaan bencana. Pengetahuan perawat tentang penanggulangan bencana gunung Kelud akan mendorong perawat untuk berusaha dalam kondisi siapsiaga mengahadapi bencana gunung Kelud. International Council Nurse (2007) menyatakan bahwa faktor yang mempengaruhi kesiapsiagaan perawat diantaranya adalah kemampuan kognitif disamping sikap (affektif) dan psikomotor (skill) dalam disaster manajemen. Pengetahuan perawat tentang penanggulangan bencana sangat penting dalam persiapan penanggulangan bencana. Persiapan ini tidak hanya bermanfaat bagi perawat tetapi secara keseluruhan organisasi kesehatan di daerah rawan bencana (Sylvia Back , 2011). Selanjutnya Samantha Pang (2010) menyatakan bahwa pengetahuan mampu mendukung kompetensi perawat dalam disaster manajemen. Penelitian Stanley.JM (2005) menyataan bahwa perawat merupakan bagian terbesar sebagai pekerja di bidang kesehatan sehingga kurangnya pengetahuan tentang kesiapsiagaan bencana dan ilmu tentang ancaman bencana menjadi hambatan bagi perawat saat melaksanakan tindakan pertolongan kejadian bencana di Amerika Serikat. Lebih lanjut Notoatmodjo(2010) menyatakan pengetahuan dipengaruhi oleh faktor pengalaman, fasilitas dan sosiobudaya dan pengetahuan mempengaruhi seseorang untuk berperilaku. Data yang didapat dari hasil survei terkait dengan pengalaman mengikut pelatihan penanggulangan bencana mayoritas perawat pernah mengikuti pelatihan tersebut sebanyak 29 perawat ( 50.9 persen) dan pelatihan terbanyak diselenggarakan oleh dinas kesehatan Kabupaten Blitar sebanyak 19 perawat ( 33.3 persen ) dan sisanya dilaksanakan oleh PMI, PPNI Kabupaten Blitar, Pemerintah daerah dan Jangkar Kelud. Pengetahuan tentang penanggulangan bencana dapat mempengaruhi kesiapsiagaan perawat dalam menanggulangi bencana sehingga diharapkan perawat mampu meningkatkan pengetahuan tentang penanggulangan bencana dengan memahami kompetensi perawat dalam disaster manajemen. Selain itu perawat dapat mengikuti pendidikan formal kekhususan tentang penanggulangan bencana atau pelatihan, workshop dan seminar tentang penanggulangan bencana. Dengan kebijakan yang tepat seharusnya pemerintah khususnya jajaran kesehatan daerah mampu mendukung dengan kebijakan yang memberikan peluang perawat untuk menambah wawasan dan kompetensinya di bisang penanggulangan bencana khususnya bencana letusan gunung Kelud di kabupaten Blitar. 2. Hubungan sikap perawat tentang penanggulangan bencana dengan kesiapsiagaan perawat dalam menanggulangi bencana letusan gunung Kelud Di Kabupaten Blitar Berdasar hasil analisis bahwa sikap perawat dalam penanggulangan bencana berhubungan dengan kesiapsiagaan perawat dalam penangggulangan bencana Gunung Kelud. Smith,E (2007), menyatakan dalam penelitiannya bahwa sikap kemauan perawat untuk merespon dalam tanggap bencana dan persiapannya sangat dibutuhkan dalam penanggulangan bencana. Bella Magnaye. (2011) menyatakan bahwa sikap dalam studinya terhadap 250 perawat sangat diperlukan dalam kesiapsiagaan terutama sikap terhadap perannya saat bencana terjadi, sikap dalam situasi kritis dan menerapkan skill manajemen dalam merawat korban bencana dengan latar belakang budaya dan situasi yang berbeda-beda. Sikap sangat penting dalam menunjukkan performa profesional saat bekerjasama dengan team dan anggota team kesehatan pada saat persiapan maupun saat kejadian bencana. Sikap perawat menurut Samantha Phang (2010) sangat mempengaruhi perawat dalam bencana terutama sebagai penolong serta sebagai tenaga yang bekerja dalam sebuah sistem penanggulangan bencana. Selain itu sikap dapat mendukung kemauan perawat dalam meningkatkan pengetahuannya tentang penanggulangan bencana. Smith,E (2007), menyatakan bahwa sikap kemauan perawat untuk merespon dalam tanggap bencana dan persiapannya sangat dibutuhkan dalam penanggulangan bencana. Sikap perawat terhadap penanggulangan bencana dapat mempengaruhi kesiapsiagaan perawat dalam penanggulangan bencana khususnya bencana letusan gunung Kelud sehingga sikap kemauan perawat untuk merespon dalam tanggap bencana dan persiapannya perlu ditingkatkan. Sikap menunjukkan performa profesional saat bekerjasama dengan team dan anggota team kesehatan pada saat persiapan maupun saat kejadian bencana. Selain itu sikap dapat mendukung kemauan perawat dalam meningkatkan pengetahuannya tentang penanggulangan bencana. Peningkatan sikap perawat dalam penanggulangan bencana dilakukan dengan melibatkan langsung perawat dalam persiapan penanggulangan bencana. Diharapkan dengan melibatkan secara aktif dalam perencanaan dan pelaksanaan penanggulangan bencana maka sikap perawat di harapkan menjadi lebih baik. Selain itu penanaman sikap positif terhadap penanggulangan bencana dapat dilakukan semenjak perawat berada di pendidikan sehingga sedini mungkin mereka memahami arti penting dari penanggulangan bencana serta pemahaman terhadap kompetensi disaster nursing. 3. Hubungan kebijakan pemerintah dengan kesiapsiagaan perawat dalam menanggulangi bencana letusan gunung Kelud Di Kabupaten Blitar Berdasarkan hasil analisis maka kebijakan pemerintah dalam penanggulangan bencana letusan gunung Kelud berhubungan dengan kesiapsiagaan perawat dalam penangggulangan bencana Gunung Kelud. Kebijakan dalam pelibatan team penanggulangan bencana didapatan hasil 61,4 persen perawat belum pernah terlibat dalam team penanggulangan bencana gunung Kelud. Menurut Arbon (2006) dalam penelitiannya bahwa kebijakan petunjuk (guidelines) yang jelas sehingga diharapkan perawat tidak disorientasi dalam penanganan bencana. Bella (2011) menyatakan bahwa perencanaan yang jelas oleh institusi pelayanan kesehatan, koordinasi antar instansi , dan pendidikan kompetensi yang berkelanjutan mempengaruhi kesiapsiagaan perawat disaster. Kebijakan menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (2011) dalam perencanaan kontinjensi penanggulangan bencana adalah arahan/pedoman bagi sektor-sektor untuk bertindak /melaksanakan kegiatan penanggulangan bencana. Kebijakan penanganan bencana bidang kesehatan maka sesuai permenkes 1653 tahun 2008 setiap kabupaten atau kota berkewajiban membentuk satuan tugas (satgas) kesehatan yang mampu mengatasi masalah kesehatan pada penanganan bencana di wilayahnya secara terpadu berkoordinasi dengan Satuan Pelaksana Penanggulangan Bencana ( Satlak PB ) . Pengorganisasian penanganan bencana bidang kesehatan di tingkat Kabupaten dan Kota adalah kepala dinas kesehatan Kabupaten atau Kota. Dalam pelaksanaan tugas di bawah koordinasi Satuan Pelaksana Penanggulangan Bencana ( Satlak PB ) yang diketuai Bupati atau Walikota. Kebijakan di tingkat puskesmas merujuk pada kebijakan di daerah kecamatan yang dilaksanakan oleh camat setempat meliputi membuat peta geomedik daerah rawan bencana, membuat jalur evakuasi, mengadakan pelatihan, inventarisasi sumber daya sesuai dengan potensi bahaya yang mungkin terjadi, menerima dan menindaklanjuti informasi peringatan dini (Early Warning System) untuk kesiapsiagaan bidang kesehatan, membentuk tim kesehatan lapangan yang tergabung dalam satuan tugas (satgas) dan mengadakan koordinasi lintas sektor. Menurut Godwin ( 2007 ) dalam kesiapsiagaan bencana perawat perlu memahami kebijakan yang dibuat oleh pemerintah sehingga dapat melaksanakan rencana tindakan darurat pada saat bencana secara menyeluruh Bella Magnaye.(2011)menyatakan bahwa Departemen Kesehatan diharapkan mampu melaksanakan persiapan pra bencana dengan melaksanakan kebijakan yang memihak pada kepentingan masyarakat di wilayah kawasan rawan bencana. Persiapan dilaksanakan dengan mengadakan program – program yang bersifat berkelanjutan dengan tujuan – tujuan yang jelas sesuai dengan kompetensi perawat disaster sehingga perawat siap dengan berbagai macam jenis bencana yang akan terjadi. Sesuai dengan keputusan menteri kesehatan nomor 1653 maka dalam memberikan pelayanan kesehatan pada penanganan koran bencana alam telah disusun pedoman kebijakan penanganan bencana dengan melibatkan unsur terkait. Dengan pedoman kebijakan ini di harapkan penanganan bencana pada masa yang akan datang bisa dilaksanakan lebih baik, lebih cepat dan teat di semua tingkat jajaran kesehatan secara terpadu. Selanjutnya pedoaman kebijakan ini bertujuan agar semua unit jajaran kesehatan dapat memahami dan melaksanakan peran dan fungsi masing-masing. Kebijakan lainnya yaitu BNPB telah memberikan arahan Nasional Penanggulangan Bencana (Renas PB) adalah perencanaan lima tahunan di tingkat nasional yang memuat program-program dan kegiatan penanggulangan bencana yang direncanakan oleh pemerintah untuk mengurangi risiko bencana di seluruh Indonesia. Kebijakan pemerintah dalam penanggulangan bencana dapat mempengaruhi kesiapsiagaan perawat dalam penanggulangan bencana sehingga pemerintah perlu menyusunan program-program pemerintah yang berhubungan dengan kesiapsiagaan perawat dalam penanggulangan bencana dan perawat harus terlibat aktif dalam melaksanakan kebijakan-kebijakan tersebut. Pemerintah membentuk tim kesehatan lapangan yang tergabung dalam Satuan Tugas. Perawat dimasukkan dalam tim kesehatan lapangan yang tergabung dalam Satgas. Pemerintah mengadakan koordinasi lintas sektor dengan bidang terkait dalam penanggulangan bencana gunung Kelud. Selain itu Pemerintah perlu menginventarisasi sumber daya perawat sesuai dengan potensi bahaya yang mungkin terjadi akibat bencana letusan gunung Kelud. 4. Hubungan antara sarana prasarana, anggaran dana dengan kesiapsiagaan perawat dalam menanggulangi bencana letusan gunung Kelud Di Kabupaten Blitar Dari hasil analisis diatas maka hubungan antara sarana prasarana, anggaran dana dengan kesiapsiagaan perawat dalam dalam penangggulangan bencana Gunung Kelud. Landesman (2001) dalam penelitiannya menyatakan bahwa salah satu issue penting dalam kesiapsiagaan bencana adalah faktor donasi atau anggaran dana disamping kebutuhan sukarelawan bencana Kebijakan pemerintah dalam penanganan bencana bidang kesehatan sesuai dengan keputusan menteri kesehatan 1653 tahun 2008 yaitu dalam penanganan bencana di bidang kesehatan tidak dibentuk sarana dan prasarana khusus tetapi mengggunakan sarana dan prasarana yang telah ada hanya intensitas kerjanya ditingkatkan dengan memberdayakan sumber daya pemerintah kabupaten serta masyarakat dan unsur swasta sesuai peraturan yang berlaku. Sesuai dengan keputusan menteri kesehatan (kepmenkes) no 1653 tahun 2005 menyatakan bahwa anggaran untuk penanganan bencana pada dasarnya menggunakan dana dan anggaran bencana yang dialokasikan masing-masing Kabupaten / Kota sesuai Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD). Penanganan tersebut meliputi sebelum, saat dan pasca bencana. Dalam hal kekurangan dapat mengusulkan secara berjenjang dari tingkat kabupaten /kota, provinsi dan pemerintah pusat. Penggunaan dana harus dilakukan evalusi dan monitoring secara berkala. Berdasarkan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara tahun 2013 Tanggap Darurat Bencana untuk Antisipasi, Perlindungan Masyarakat, serta Penanganan Pra, Saat dan Paska Bencana sebesar Rp. 4 Triliun dengan alokasi Dana Cadangan Penanggulangan Bencana Alam dialokasikan sebagai langkah antisipasi untuk melindungi masyarakat terhadap berbagai dampak yang ditimbulkan oleh bencana alam. Selanjutnya prioritas penggunaan dana adalah pada tahap pra-bencana dalam rangka meningkatkan pencegahan dan kesiapsiagaan menghadapi bencana, tahap penanganan tanggap darurat pascabencana serta tahap pemulihan pascabencana melalui proses rehabilitasi dan rekonstruksi. Sarana prasarana dan anggaran dana dapat mempengaruhi kesiapsiagaan perawat dalam penangggulangan bencana Gunung Kelud. Hal ini menunjukkan bahwa perawat harus memahami sarana dan prasarana yang tersedia khususnya dalam menghadapai bencana. 5. Faktor - faktor yang paling mempengaruhi kesiapsiagaan perawat dalam menanggulangi bencana letusan gunung Kelud Di Kabupaten Blitar Dari hasil analisis didapatkan bahwa faktor yang berpengaruh terhadap kesiapsiagaan bencana adalah pengetahuan, sikap, kebijakan pemerintah serta sarana prasarana dan anggaran. Urutan kekuatan hubungan dari keempat variabel ini dapat dilihat dari nilai Odds Ratio (dilihat dari nilai Exp(B)). Sedangkan variabel yang mempunyai pengaruh paling kuat adalah kebijakan pemerintah dengan OR 0.290 disusul dengan sikap perawat dengan OR 0.286 dan terakhir sarana prasarana dan anggaran dana dengan OR 0.274. Departemen Kesehatan diharapkan mampu melaksanakan persiapan pra bencana dengan melaksanakan kebijakan – kebijakan yang memihak pada kepentingan masyarakat di wilayah kawasan rawan bencana. Persiapan dilaksanakan dengan mengadakan program – program yang bersifat berkelanjutan dengan tujuan – tujuan yang jelas sesuai dengan kompetensi perawat disaster sehingga perawat siap dengan berbagai macam jenis bencana yang akan terjadi. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian, tingkat kesiapsiagaan perawat dalam menanggulangi bencana letusan Gunung Kelud di Kabupaten Blitar sebagian besar kurang.Adanya hubungan pengetahuan dan sikap perawat tentang penanggulangan bencana dengan kesiapsiagaan perawat dalam menanggulangi bencana letusan Gunung Kelud di Kabupaten Blitar. Adanya hubungan kebijakan pemerintah, sarana prasarana, anggaran dana dengan kesiapsiagaan perawat dalam menanggulangi bencana letusan Gunung Kelud di Kabupaten Blitar.Faktor yang paling mempengaruhi kesiapsiagaan perawat dalam menanggulangi bencana letusan Gunung Kelud di Kabupaten Blitar adalah kebijakan pemerintah dalam penanggulangan bencana. Saran Pemerintah diharapkan dapat memberikan informasi yang berkesinambungan tentang kebijakan dan anggaran kepada perawat serta melakukan peningkatkan pengetahuan dan sikap perawat terhadap penanggulangan bencana secara berkelanjutan dengan mengadakan pelatihan, seminar, workshop dan program – program yang bersifat berkelanjutan dengan tujuan yang jelas sesuai dengan kompetensi perawat disaster sehingga perawat siap dengan berbagai macam jenis bencana yang akan terjadi khususnya bencana Gunung berapi.Perlu dilakukan penelitian lanjutan dengan menambah perawat di kawasan rawan bencana gunung Kelud di Kabupaten Kediri dan kabupaten Malang sebelah barat sehingga merepresentasikan seluruh perawat di daerah kawasan rawan bencana gunung Kelud.Diperlukan penelitian tentang skill perawat dalam kesiapsiagaan bencana gunung Kelud. Penelitian ini merupakan studi kuantitatif sehingga studi kualitatif diperlukan dalam penelitian selanjutnya untuk mengeksplorasi lebih dalam kesiapsiagaan perawat dan faktor yang mempengaruhinya sesuai dengan perspektif dan pendapatnya. DAFTAR PUSTAKA Anne M Jorgensen, Glenn J. Mendoza, Joy L Henderson. 2010. Emergency Prearedness and Disaster Response Core Competency Set for Perinatal and Neonatal Nurses. AWHONN , 450-467. Ardia Putra, Wongchan, Khomapak. 2011. Review: Public Health Nurses' Roles and Competencies in Disaster Management. Nurse Media Journal Of Nursing , 1-14. Arbon Paul,Chapman. 2008. Are Nurses Ready? Disaster Preparedness In The Acute Setting. AENJ , 135-144. AWHONN. 2012. The role of the nurse in emergency preparedness. Washington DC , 322-324. Bella Magnaye. 2011. The role , Preparedness And Management Of Nurses During Disaster. Intenational Scientific Research Journal , 269-294. BNPB. 2007. Penataan Ruang Kawasan Gunung Api. BNPB. 2010.Rencana Nasional Penanggulangan Bencana. BNPB. 2011. Perencanaan Kontijensi Menghadapi Bencana. Jakarta. BPBD. 2007. Penanganan Daerah Rawan Bencana Gunung Kelud Kabupaten Blitar Boyle.C.2006. Public health emergencies:Nurses recommendationn for effective actions.AAOHN Journal, 54, 347-353. Catharine J Goodhue, Rita V Burke. 2010. Disaster Olympix: A Unique Nursing Emergency Preparedness Exercise. Journal of Trauma NUrsing , 5-10. Fung . 2008. Disaster preparedness among Hongkong Nurses .Journal of Advance Nursing , 62,698-703. Godwinn .2007. Disaster Nursing emergency Preparedness,Springer Publising Company, 4-19. Hassmiller, S. B. 2010. Public Health Nursing and the Disaster Management Cycle. New Jersey: STANHOPE. Huahua Yin, Haiyan He, Paul Arbon. 2011. A Survey Of The Practice Of Nurses' Skills In Wenchuan Earthquake Disaster Sites: Implication For Disaser Nursing. Journal Of Anvanced Nursing , 2231-2237. ICN, 2009. ICN Framework of Disaster Nursing Competencies, WHO Western Pacific Region. Jakeway. 2008. The rule of public health nursing in emergency preparedness and response:A position paper the association of state and territorial directors of nursing.Public Health Nursing, 25, 353-361. Landesman,L.Y . 2001,Public health management of disasterr.The practice guide.Washington,DC.American Public Health Association. BIBLIOGRAPHY l 1033 Moabi, R. M. 2008. Knowledge, Attitude and Practices of Health Care Workers Regarding Disaster Preparedness. University of the Witwatersrand, Faculty of Health Science, Johanesburg.2. Moabi, R. M. 2008. Knowledge, Attitude and Practices of Health Care Workers Regarding Disaster Preparedness. University of the Witwatersrand, Faculty of Health Science, Johanesburg. Notoatmodjo S. 2010. Ilmu Perilaku Kesehatan, Rineka Cipta Polivka,B.J. 2008. Public Health Nursing competencies for public health surge events.Public Health Nursing, 25, 159-165. R Tabari Khomeiran,ZP.Yekta. 2006. Professional Competence: Factors Described By Nurses As Influencing Their Development. International Council of Nurses , 66-71. Kepmenkes 1653 tahun 2005. Pedoman Penanganan Bencana Bidang Kesehatan . Kemenkes. Samantha Phang, Sunshine SS Chan.. 2010. Develompent and Evaluation of an Undergraduate Training Course Nurse Disaster Competency. Nursing Scholarship , 405-413. Suhardjo, D. 2011. Arti Penting Pendidikan Mitigasi Bencana Dalam Mengurangi Resiko Bencana. 2. Susan Orlando, Denise Danna. 2010. Perinatal considerations in the Hospital Disaster Management Process. AWHONN , 468-479. Sugeng Triutomo, B.Wisnu Widjaja,R.Sugiharto. 2011. Perencanaan Kontijensi Menghadapi Bencana(edisi 2). Jakarta: BNPB. Stanley.JM. 2005, Disaster competency development and integration in nursing education, Nursing linics of North America ,40(3),453-467. Smith,E 2007. Emergency healthcare workers wilingness to work during emergencies and disasters, Australian Journal of Emergency Medicine,22(2),21-24 Thelma Gambhoa, Hellen Hoop. 2012. Building Capacity for Cummunity Disaster Preparedness. Journal Of enviromental health , 24-29. WHO. 2007. Risk reduction and emergency preparedness. Yin, H. 2011. Optima Qualifications, Staffing And Scope Of Practice For First Responder Nurses In Disaster. JCN , 264-271. ABSTRACT CORRELATION BETWEEN NUTRITION STATUS WITH PRE MENSTRUAL SYNDROME TO THE 13-15 YEARS OLD FEMALE STUDENTS OF STATE ISLAMIC JUNIOR HIGH SCHOOL LANGKAPAN MARON IN SRENGAT SUB DISTRICT BLITAR REGENCY By : Devi Maulidatul Erviana1, Reni Yuli Astutik2, Ratna Hidayati3 Female teenagers who have experienced menstruation never far away from pre menstrual syndrome problem. One of the factors was nutrient statues also could be the factors of risk. Somebody nutrient statues could be influenced by a lot of factor such as genetic factor, life styles and environments. These things caused the sign of nutrient getting worse. The purpose of this research is to identify correlation between nutrition status with pre menstrual syndrome to the 13-15 years old female students of State Islamic Junior High School Langkapan Maron in Srengat Sub District Blitar Regency. Research design used analytic correlative with cross sectional approach. The independent variable was nutrition status and dependent variable was pre menstrual syndrome. Population were all 13-15 years old female students of State Islamic Junior High School Langkapan Maron in Srengat Sub District Blitar Regency. Sampling technique used stratified random sampling. Instruments used data collection sheets and questionnaire. Data were processed by using Spearman Rank statistical test. Result of Spearman Rank statistical test; value of ρ (rho) ρ ≠ 0 namely 0,99 and value of Z count 9,9 > Z table 1,96; therefore H1 was accepted. It meant that there was correlation between nutrition status with pre menstrual syndrome to the 13-15 years old. The relationship between the nutritional status of pre menstrual syndrome is due to an imbalance of the hormones estrogen and progesterone. Progesterone levels are not normal, it can decrease serotonin levels and depressed. If the hormonal balance is stable, then the pre menstrual syndrome will not show up. Key words: Nutrition Status, Pre Menstrual Syndrome, 13-15 years old teenagers 1 mahasiswa Program Studi DIII Kebidanan STIKES Karya Husada Kediri 2 dosen Program Studi DIII Kebidanan STIKES Karya Husada Kediri 3 dosen Program Studi S1 Ilmu Keperawatan STIKES Karya Husada Kediri Korespondensi : Reni Yuli Astutik HP: 081335554837 Email: reniyuliastutik@ymail.com PENDAHULUAN Remaja yang sudah haid tidak terlepas dari masalah pre menstrual syndrome hal ini juga ditunjang dengan berbagai faktor gaya hidup menjadikan gejala-gejala ini semakin buruk. Pre Menstrual Syndrome adalah suatu kumpulan keluhan dan atau gejala fisik, emosional, dan perilaku yang terjadi pada wanita usia reproduksi, yang muncul secara reguler dalam rentang waktu 7-10 hari sebelum menstruasi dan menghilang setelah darah haid keluar yang terjadi pada suatu tingkatan yang mampu mempengaruhi gaya hidup dan pekerjaan remaja tersebut kemudian diikuti oleh suatu periode waktu bebas gejala sama sekali (Suparman, 2010 : 1). Statistik di Amerika Serikat menyebutkan bahwa pre menstrual syndrome derajat sedang sampai berat diderita sekurang-kurangnya oleh 3-5 persen populasi wanita usia reproduksi. Clark (2004) bahkan menyebutkan angka prevalensi ini dapat mencapai 30 persen dari seluruh populasi wanita usia reproduksi, dan sepertiga di antara mereka mengalami pre menstrual syndrome derajat berat (Suparman, 2010 : 4). Dampak pre menstrual syndrome terhadap penurunan produktivitas kerja, sekolah, dan hubungan interpersonal penderita cukup besar. Hasil survei pada penderita pre menstrual syndrome oleh Robinson dan Swindle (2000) yang menganalisis persepsi subjektif penderita tentang dampak gangguan pre menstrual syndrome terhadap aktivitas sosial dan pekerjaan penderita menunjukkan bahwa 46,8 persen subjek penilaian pre menstrual syndrome yang dideritanya memberikan gangguan dalam derajat ringan, 36 persen menilai sedang, 14,2 persen menilai berat, dan 2,9 persen menilai sangat berat (Suparman, 2010 : 82). Tipe dan gejala bermacam-macam, menurut Guy E. Abraham, ahli kandungan dan kebidanan dari Fakultas Kedokteran UCLA, AS, membagi pre menstrual syndrome menurut gejalanya yakni pre menstrual syndrome termasuk tipe A, H, C, dan D. 80 persen gangguan pre menstrual syndrome termasuk tipe A. Penderita tipe H sekitar 60 persen, tipe C 40 persen, dan tipe D 20 persen. Kadang-kadang seorang remaja mengalami kombinasi gejala, misalnya tipe A dan D secara bersamaan, dan setiap tipe memiliki gejala sendiri-sendiri (Saryono, 2009 : 37). Berdasarkan penelitian yang dikutip oleh Nashruna, dkk, (2012), angka kejadian pre menstrual syndrome di Virginia pada 10,3 persen remaja obesitas (BMI≥30) mempunyai resiko mengalami pre menstrual syndrome 3 kali lebih besar dibandingkan remaja tidak obesitas. Menurut penelitiannya dengan mengukur IMT didapatkan data prevalensi over weight dan obesitas sebesar 25 persen terdiri dari over weight 10 persen dan obesitas 15 persen. Angka kejadian pre menstrual syndrome adalah 70 persen (Stikes ‘Aisyiyah surakarta, 2012 : 66). Penyebab pasti dari pre menstrual syndrome belum diketahui secara pasti. Remaja memerlukan zat gizi yang relatif besar jumlahnya. Bila konsumsi zat gizi tidak ditingkatkan mungkin terjadi defisiensi relatif terutama defisiensi vitamin-vitamin (Waryana, 2010 : 110). Dalam rangka mencegah dan menanggulangi keluhan pre menstrual syndrome pada siswi usia 13-15 tahun maka perlu dilakukan pendidikan gizi. Bidan atau tenaga kesehatan harus mampu memberikan informasi kesehatan reproduksi kepada remaja mulai dari hal fisiologis sampai dengan munculnya berbagai gangguan menstruasi yang kemungkinan akan dialami. Memberikan pendidikan mengenai gizi seimbang, metode pencegahan dan penanggulangan gangguan pre menstrual syndrome melalui asupan berbagai zat gizi yang cukup. Tujuan akhir dari penelitian ini adalah un tuk mengetahui adanya “Hubungan antara Status Gizi dengan Pre Menstrual Syndrome pada Siswi Usia 13-15 Tahun di MTsN Langkapan Maron Kecamatan Srengat Kabupaten Blitar Tahun 2012”. METODE Desain Penelitian ini menggunakan desain analitik korelasi yang bertujuan untuk mengetahui adanya hubungan antara status gizi dengan pre menstrual syndrome. Penelitian analitik korelasi ini menggunakan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah Semua siswi usia 13-15 tahun di MTsN Langkapan Maron Kecamatan Srengat Kabupaten Blitar pada tanggal 8 desember 2012 sebanyak 232 responden dengan menggunakan teknik stratified random sampling didapatkan besar sampel 147 responden. Variabel-variabel yang diteliti dalam penelitian ini terdiri atas : 1. Variabel Independen (X), yaitu status gizi. Berdasarkan data berat badan dan tinggi badan dihitung menggunakan indeks masa tubuh (IMT) dengan cara Berat badan (dalam kilogram) dibagi kuadrat tinggi badan (dalam meter). untuk menentukan status gizi remaja. Untuk batas ambang normal perempuan adalah 13,7 – 23,8. Setelah nilai IMT diperoleh kemudian dikatagorikan sesuai kategori yaitu: 1) Kurus :17,0-18,5 2) Normal :>18,5-25,0 3) Gemuk :>25,0-27,0 2. Variabel dependen (Y), yaitu pre menstrual syndrome. Indikator: 1) Gejala Fisik (1) sakit kepala, (2) payudara kencang dan terasa nyeri, (3) sakit punggung, (4) perut kembung dan sakit, (5) berat badan bertambah, (6) ekstremitas sembab, (7) retensi air, (8) nausea (mual) (9) nyeri otot serta persendian 2) Gejala Psikis (1) mudah marah, (2) depresi, (3) sering menangis (4) dengan berlimpah air mata, (5) cemas, (6) susah berkonsentrasi, (7) bingung, (8) sering tidak ingat (9) susah diam, (10) merasa kesepian, (11) kehilangan rasa percaya diri, (12) tertekan. 3) Gejala Perilaku (1) Rasa lelah, (2) insomnia, (3) Pusing (4) ketertarikan seksual berubah, (5) makan banyak seperti ngidam Skor jawaban dibedakan menjadi : Ya : 1 Tidak : 0 Hasil kuesioner diambil berdasarkan modus yaitu jawaban terbanyak. Kemudian dikategorikan sebagai berikut: Gejala di kelaskan menjadi : Tidak ada gejala/ sangat ringan= 0(0 -10) Ringan = 1(11-18) Sedang = 2(19-30) Berat = 3(>31) HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian 1. Karakteristik responden berdasarkan umur Dari 147 responden hampir setengah dari responden berumur 14 tahun yaitu 41,50 persen dan sebagian kecil dari responden berumur 15 tahun yaitu 21,77 persen. 2. Karakteristik responden berdasarkanpernah mendapatkan informasi tentang gizi seimbang Dari 147 responden hampir seluruh dari responden pernah mendapatkan informasi tentang gizi seimbang yaitu 95,92 persen dan sebagian kecil dari responden (4,08 persen) belum pernah mendapatkan informasi tentang gizi seimbang. 3. Karakteristik responden berdasarkan pernah mendapatkan informasi tentang pre mentrual syndrome Dari 147 responden sebagian besar dari responden pernah mendapatkan informasi tentang pre mentrual syndrome yaitu 69,39 persen dan hampir setengah dari responden (30,61 persen) belum pernah. 4. Karakteristik responden berdasarkan menstruasi Dari 147 responden hampir seluruh dari responden dengan saat ini tidak menstruasi yaitu 85,71 persen dan sebagian kecil dari responden (14,29 persen) sedang menstruasi. 5. Status gizi responden tentang Pre Menstrual Syndrome Tabel 1: Status Gizi Responden tentang Pre Menstrual Syndrome di MTsN Langkapan Maron Kecamatan Srengat Kabupaten Blitar No Status Gizi Frekuensi Prosentase( persen) 1. 2. 3. Kurus Normal Gemuk 45 49 53 30,62 33,33 36,05 Jumlah 147 100 6. Gejala Pre Menstrual Syndrome Tabel 2: Gejala Pre Menstrual Syndrome di MTsN Langkapan Maron Kecamatan Srengat Kabupaten Blitar, No Gejala Frekuensi Prosentase( persen) 1. 2. 3. 4. Sangat Ringan Ringan Sedang Berat 20 33 45 49 13,61 22,45 30,61 33,33 Jumlah 147 100 7. Hubungan antara status gizi dengan Pre Menstrual Syndrome pada Siswi Usia 13-15 Tahun Tabel 3: Hubungan antara Status Gizi dengan Pre Menstrual Syndrome pada Siswi Usia 13-15 Tahun di MTsN Langkapan Maron Kecamatan Srengat Kabupaten Blitar Status Gizi Gejala Total Berat Sedang Ringan Sangat Ringan n persen n persen n persen n persen n persen Kurus 0 0 10 22,2 20 44,5 15 33,3 45 100 Normal 9 18,4 22 44,9 13 26,5 5 10,2 49 100 Gemuk 40 75,5 13 24,5 0 0 0 0 53 100 Jumlah 49 93,9 45 91,6 33 70,0 20 43,5 147 100 Berdasarkan tabel 3 diketahui bahwa dari 147 responden terdapat hampir setengah dari responden yang memiliki status gizi yang gemuk dan memiliki gejala Pre Menstrual Syndrome berat yaitu 75,47 persen, sebagian kecil dari responden yang memiliki status gizi kurus dan mempunyai gejala sangat ringan sebanyak 33,3 persen. Dari hasil korelasi spearman rank didapatkan bahwa harga ρ (rho) ρ ≠ 0 yaitu 0,99 dan nilai Z hitung 9,9 lebih besar dari Z tabel 1,96 maka Ho ditolak dan H1 diterima, pada taraf signifikan 0,05 dapat disimpulkan bahwa terdapat Hubungan antara Status Gizi dengan Pre Menstrual Syndrome pada Siswi Usia 13-15 Tahun di MTsN Langkapan Maron Kecamatan Srengat Kabupaten Blitar. Pembahasan 1. Status Gizi Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pada 02-08 Desember 2012 di MTsN Langkapan Maron Kecamatan Srengat Kabupaten Blitar hampir setengah dari responden mempunyai status gizi kurus yaitu sebanyak 30,61 persen, sedangkan hampir setengah dari responden yang memiliki status gizi normal yaitu sebanyak 33,33 persen, dan hampir setengah dari responden yang memiliki status gizi gemuk yaitu sebanyak 36,05 persen. Penilaian status gizi secara langsung dapat dibagi menjadi 4 penilaian yaitu antropometri, klinis, biokimia, dan biofisik sedangkan penilaian status gizi secara tidak langsung dapat dibagi 3 yaitu survey konsumsi makanan, statistik vital, faktor ekologi. Antropometri merupakan cara penentuan status gizi yang paling mudah dan murah. Indeks Massa Tubuh (IMT) direkomendasikan sebagai indikator yang baik untuk menentukan status gizi remaja. Adapun kategori ambang batas IMT untuk orang Indonesia adalah kurus (<17,0), normal (>18,5 – 25,0), gemuk (>25,0) (Waryana, 2010 : 111). Menurut Febry dkk, (2012: 61) status gizi seseorang dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya faktor keturunan, remaja yang mempunyai orang tua gemuk maka kemungkinan remaja tersebut juga bisa mengalami kegemukan (obesitas) ataupun sebaliknya, bila orang tua kurus, maka remaja tersebut juga mengalami hal yang sama. Faktor gaya hidup, banyaknya tayangan media massa tentang berbagai makanan cepat saji, dapat memicu remaja untuk mengikuti gaya hidup tersebut akibat konsumsi makanan cepat saji yang berlebihan dapat menyebabkan terjadinya obesitas. Faktor lingkungan, pengaruh lingkungan tidak kalah pentingnya terhadap perilaku remaja, kebiasaan ikut-ikutan dengan teman sekelompoknya atau teman sebayanya merupakan salah satu masalah yang dapat terjadi pada remaja. Bila kebiasaan remaja buruk seperti minum-minuman ber-alkohol, merokok, bergadang tiap malam sangatlah mempengaruhi keadaan gizi remaja tersebut (Dewi dkk, 2012 : 62). Masalah status gizi tidak hanya terjadi pada bayi dan anak-anak akan tetapi juga dapat terjadi pada remaja bahkan orang dewasa. Gizi kurang merupakan salah satu dari masalah gizi yang disebabkan karena tidak tercukupinya konsumsi gizi dalam waktu tertentu. Remaja dan anak, makan dengan persentase total kalori yang sama dari karbohidrat, protein, dan lemak. Jumlah makan yang tertunda dan makan di luar rumah meningkat mulai awal remaja sampai remaja akhir (Paath, 2005 : 7). Pertumbuhan remaja yang pesat memerlukan zat gizi yang relatif besar jumlahnya, bila konsumsi zat gizi tidak ditingkatkan mungkin terjadi defisiensi relatif terutama defisiensi vitamin-vitamin. Defisiensi sumber energi dapat menyebabkan tubuh langsing, bahkan kurus. (Waryana, 2010 : 110). Apabila dalam tubuh lemak melebihi dari yang diperlukan untuk fungsi tubuh normal maka akan terjadi penimbunan lemak, sehingga menyebabkan berat badan lebih dari normal (Waryana, 2010 : 122). Dari hasil penelitian berdasarkan umur responden diketahui bahwa hampir setengah dari 36,05 persen berusia 13 tahun, hampir setengah 40,82 persen berusia 14 tahun sedangkan sebagian kecil dari 23,13 persen berusia 15 tahun. Masa remaja adalah periode yang paling rawan dalam perkembangan hidup seorang manusia setelah ia mampu bertahan hidup, dimana secara fisik ia akan mengalami perubahan fisik spesifik. Perubahan fisik karena pertumbuhan yang terjadi akan menimbulkan masalah gizi baik berupa masalah gizi lebih maupun kurang (Waryana, 2010: 108). 2. Pre Menstrual Syndrome Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian kecil dari responden yang memiliki gejala sangat ringan tentang pre menstrual syndrome yaitu 13,61 persen, sedangkan sebagian kecil dari responden yang memiliki gejala ringan tentang pre menstrual syndrome yaitu 22,45 persen, sedangkan hampir setengah dari responden yang memiliki gejala sedang tentang pre menstrual syndrome yaitu 30,61 persen, sedangkan hampir setengah dari responden yang memiliki gejala berat tentang pre menstrual syndrome yaitu 33,33 persen. Menurut Suparman (2010 : 1) Pre Menstrual Syndrome adalah suatu kumpulan keluhan dan atau gejala fisik, emosional, dan perilaku yang terjadi pada wanita usia reproduksi, yang muncul secara reguler dalam rentang waktu 7-10 hari sebelum menstruasi dan menghilang setelah darah haid keluar yang terjadi pada suatu tingkatan yang mampu mempengaruhi gaya hidup dan pekerjaan wanita tersebut dan kemudian di ikuti oleh suatu periode waktu bebas gejala sama sekali. Faktor resiko wanita yang beresiko tinggi terkena atau mengalami pre menstrual syndrome antara lain Riwayat keluarga, wanita yang pernah melahirkan, status perkawinan, usia, stres, diet, kebiasaan merokok dan minum alkohol juga dapat memperberat gejala pre menstrual syndrome, kegiatan fisik dan kurang berolah raga menyebabkan semakin beratnya pre menstrual syndrome (Saryono, 2009 : 41-43). Siklus menstruasi biasanya terjadi adalah 28 hari. Pada pertengahan siklus (sekitar hari ke-14), produksi LH- Luteinizing Hormon (Hormon yang bertanggung jawab terhadap ovulasi) tertekan, yang memicu ovulasi. Selama masa separuh ke-2 dari siklus menstruasi (sekitar hari ke-14 sampai hari ke-28), jika keseimbangan estrogen dan progesteron stabil, maka pre menstrual syndrome tidak akan muncul. Apabila kadar progesteron tidak normal, kadar serotonin dapat menurun dan tertekan. Kadar progesteron juga akan menurun dibandingkan dengan kadar estrogen. Ketidakseimbangan ini menyebabkan gejala yang mengganggu bahkan terasa sakit (Saryono, 2009 : 25). Dampak pre menstrual syndrome terhadap penurunan produktivitas kerja, sekolah, dan hubungan interpersonal penderita cukup besar (Suparman, 2010 : 82). Karakteristik dasar responden berdasarkan umur responden diketahui bahwa hampir setengah dari 38,10 persen berusia 13 tahun, hampir setengah dari 39,45 persen berusia 14 tahun sedangkan sebagian kecil dari 22,45 persen berusia 15 tahun. Remaja yang sudah haid tidak terlepas dari masalah pre menstrual syndrome, ditambah dengan berbagai faktor gaya hidup menjadikan gejala-gejala ini semakin buruk. Memperbanyak waktu istirahat menghindari kelelahan dan mengurangi stres berperan juga dalam terapi pre menstrual syndrome (Saryono, 2009 : 67). Menurut statistik di Amerika Serikat menyebutkan bahwa pre menstrual syndrome derajat sedang sampai berat diderita sekurang-kurangnya oleh 3-5 persen populasi wanita usia reproduksi. Clark (2004) bahkan menyebutkan angka prevalensi ini dapat mencapai 30 persen dari seluruh populasi wanita usia reproduksi, dan sepertiga di antara mereka mengalami pre menstrual syndrome derajat berat (Suparman, 2010 : 4). Menurut Guy E.Abraham (Saryono, 2009 : 39-40) Gejala ini timbul akibat ketidakseimbangan hormon estrogen dan progesteron. Hormon estrogen terlalu tinggi dibandingkan dengan hormon progesteron. Pemberian hormon progesteron kadang dilakukan untuk mengurangi gejala, tetapi beberapa penelitian mengatakan, pada penderita pre menstrual syndrome bisa jadi kekurangan vitamin B6 dan magnesium. 3. Hubungan Antara Status Gizi dengan Pre Menstrual Syndrome pada Siswi Usia 13-15 Dari analisa data yang diperoleh di MTsN Langkapan Maron Kecamatan Srengat Kabupaten Blitar, 02-08 Desember 2012 bahwa hampir setengah dari responden yang memiliki status gizi yang gemuk tentang pre menstrual syndrome bergejala berat sebanyak 40 responden (75,47 persen), sebagian kecil dari responden yang memiliki status gizi yang normal tentang pre menstrual syndrome bergejala sedang sebanyak 22 responden (44,90 persen), sebagian kecil dari responden yang memiliki status gizi yang kurus tentang pre menstrual syndrome bergejala ringan sebanyak 20 responden (44,45 persen), sebagian kecil dari responden yang memiliki status gizi yang kurus tentang pre menstrual syndrome bergejala sangat ringan sebanyak 15 responden (33,3 persen). Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pada 147 responden dan telah dilakukan dari hasil korelasi spearman rank secara manual didapatkan bahwa harga ρ (rho) ρ ≠ 0 yaitu 0,99 dan nilai Z hitung 9,9 lebih besar dari Z tabel 1,96 maka diputuskan Ho ditolak dan H1 diterima, pada taraf signifikan 0,05 dapat disimpulkan bahwa terdapat Hubungan antara status gizi dengan pre menstrual syndrome pada siswi usia 13-15 Tahun di MTsN Langkapan Maron Kecamatan Srengat Kabupaten Blitar. Kekurangan berbagai zat gizi, vitamin dan mineral tertentu. Defisiensi kalsium, magnesium, mangan, vitamin B dan E, dan asam linoleik, Diet yang kaya akan gula, minuman berkafein, dan alkohol. Masalah tersebut merupakan faktor meningkatkan risiko terjadinya pre menstual syndrome (Arisman, 2010 : 77). Gejala umum pre menstrual syndrome seperti peningkatan untuk mengkonsumsi karbohidrat disebabkan karena kadar serotonin yang rendah. Saat serotonin rendah, otak mengirim sinyal ke tubuh untuk makan karbohidrat, dimana untuk merangsang produksi serotonin dari yang alami dengan asam amino building block. Pola makan yang teratur dan mengurangi komposisi lemak dapat menjaga berat badan, karena berat badan yang berlebihan dapat meningkatkan risiko menderita pre menstrual syndrome (Saryono, 2009 : 68-69). Apabila dalam tubuh lemak melebihi dari yang diperlukan untuk fungsi tubuh normal maka akan terjadi penimbunan lemak, sehingga menyebabkan berat badan lebih dari normal (Waryana, 2010 : 122). Menurut Mu’tadin (2002), ada beberapa faktor pencetus obesitas diantaranya: faktor genetik, pola makan yang berlebihan, kurang aktifitas, emosi serta lingkungan (Aryani, Ratna dkk, 2010 : 20). Masalah gizi yang biasa dialami pada fase remaja adalah obesitas dan anemia. Penyebab obesitas beraneka ragam. Kebutuhan energi karena remaja lebih banyak melakukan aktifitas fisik, misalnya olahraga, bermain, atau membantu orang tua. Remaja biasanya mempunyai banyak perhatian dan aktivitas di luar rumah, sehingga sering melupakan waktu makan (Waryana, 2010 : 109). Menurut C Longcape et al dan MN Woods et al (Arisman, 2010 : 95) membuktikan bahwa jika perempuan mengurangi asupan lemak dari 40-25 persen kalori total sembari meningkatkan asupan serat dari 12 menjadi 40 gr, akan berakibat menurunnya kadar estrogen darah sebesar 36 persen. Gejala pre menstrual syndrome juga turun hanya dengan penurunan asupan lemak. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan 1. Dari hasil penelitian status gizi diidentifikasi hampir setengah dari responden dengan status gizi gemuk yaitu 36,05 persen. 2. Dari hasil penelitian gejala pre menstrual syndrome dapat diidentifikasi bahwa hampir setengah dari responden dengan gejala pre menstrual syndrome berat yaitu 49 responden (33,33 persen) 3. Berdasarkan dari hasil korelasi spearman rank didapatkan harga ρ (rho) ρ ≠ 0 yaitu 0,99 dan nilai Z hitung 9,9 lebih besar dari Z tabel 1,96 maka diputuskan Ho ditolak dan H1 diterima, pada taraf signifikan 0,05 dapat disimpulkan bahwa terdapat Hubungan antara Status Gizi dengan Pre Menstrual Syndrome pada Siswi Usia 13-15 Tahun di MTsN Langkapan Maron Kecamatan Srengat Kabupaten Blitar. Saran 1. Bagi Profesi Dapat meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan reproduksi wanita dengan memberikan konseling pada remaja tentang kesehatan reproduksi seperti gejala pre menstrual syndrome bagaimana cara mencegah dan mengatasinya, konseling status gizi meliputi cara pemenuhan kebutuhan gizi yang seimbang, resiko dari status gizi abnormal bagi kesehatan khususnya kesehatan reproduksi. 2. Bagi institusi pendidikan Melakukan penyuluhan kepada siswa tentang menstruasi dan gangguan menstruasi bagaimana cara mencegah dan mengatasi gejala sebelum menstruasi, serta cara pemenuhan kebutuhan nutrisi yang baik. 3. Bagi Responden Bagi para siswa sebaiknya memperbanyak informasi seperti membaca buku, majalah atau melalui media informasi lain, memperhatikan pemenuhan nutrisi yang berhubungan, serta lebih peka dalam mengenali adanya gejala sebelum menstruasi. 4. Bagi peneliti selanjutnya, Hasil penelitian ini dapat menjadi bahan acuan tambahan pengetahuan dan informasi serta memotivasi untuk mengembangkan dalam penelitian lebih lanjut seperti faktor resiko dan faktor penyebab lain misal riwayat keluarga, wanita yang pernah melahirkan, status perkawinan, usia, kebiasaan merokok dan minum alkohol, kegiatan fisik. DAFTAR PUSTAKA Abdurahman, maman. 2011. Dasar-Dasar Metode Statistika untuk Penelitian. Bandung: CV.Pustaka Setia. Hal 179-180 Almatsier, Sunita. 2009. Prinsip-Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta : Gramedia. Hal 3, 13 Arikunto. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta. Hal 246, 276 Arisman. 2010. Gizi Dalam Daur Kehidupan. Jakarta: EGC. Hal 77, 85-88, 90, 92-93, 95 Aryani, Ratna dkk. 2010. Kesehatan Reproduksi Problem dan Solusinya. Jakarta: Salemba Medika. Hal: 11-13, 20 Budiarto, Eko. 2002. Biostatistika (untuk Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat). Jakarta: EGC. Hal 12 Dewi, Ayu dkk. 2012. Ilmu Gizi untuk Praktisi Kesehatan. Yogyakarta: Graha Ilmu. Hal 62, 66 Kumalasari, Intan. 2012. Kesehatan Reproduksi (untuk Kebidanan dan Keperawatan). Jakarta: Salemba Medika. Hal 13-15, 21-23 Nashruna, Irfana. 2012. Hubungan Aktivitas Olahraga dan Obesitas dengan Kejadian Sindrom Pramenstruasi. http://www.jurnal.stikes-aisyiyah.ac.id persen2Fi (dikutib 1 Februari 2012). Hal 66 Notoatmodjo, Soekidjo. 2010. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta. Hal 19, 37, 83, 84, 87, 103, 115, 121-122, 176 Nursalam. 2011. Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan (Pedoman Skripsi, Tesis, dan Instrumen Penelitian Keperawatan). Surabaya: Salemba Medika. Hal 77, 91-93, 97-98, 101, 103, 111 Paath, Erna Frencin dkk. 2004. Gizi dalam Kesehatan Reproduksi. Jakarta: EGC. Hal 70, 71 Riduwan. 2010. Pengantar Statistika untuk Penelitian: Pendidikan, Sosial, Komunikasi, Ekonomi, dan Bisnis. Bandung: Alfabeta. Hal 76 Saryono. 2009. Sindrom Premenstruasi. Yogyakarta: Nuha Medika. Hal 7, 24-25, 27-29, 32-33, 37-43, 49, 68-70 Sugiyono. 2010. Statistik Nonparametris untuk Penelitian. Bandung: CV Alfabeta. Hal 106 Supariasa, I Dewa Nyoman. 2002. Penilaian Status Gizi. Cetakan 1. Jakarta: EGC. Hal 13, 18-19, 56-61, 69-70, 73 Suparman, Eddy. 2010. Premenstrual Syndrome. Jakarta: EGC. Hal 1, 4, 12, 27, 61-78, 82 Suyanto. 2008. Riset untuk Kebidanan. Jogyakarta: Mitra Cendikia Press. Hal 51, 57 Tambing,Yane. 2012. Aktivitas Fisik Dan Sindrom Premenstruasi Pada Remaja.. http://www.ph-gmu. orgtestwisudapublikasionlinefoto_beritaYaneTambing. pdf. (diakses 24 November 2012 pukul 16.24). Hal 17 Waryana. 2010. Gizi Reproduksi. Yogyakarta: Pustaka. Rihama. Hal 6-7, 107, 109-111 ABSTRACT FACTORS THAT INFLUENCE THE BEHAVIOR OF NURSES IN HEALTH CARE IN THE ER PACE DR. ISKAK AND MARDI WALUYO REGION GENERAL HOSPITAL BLITAR MUNICIPAL By: Filia Icha Sukamto¹, Sri Andarini ², Kuswantoro R.P ³ Behavior is expressed attitude (Expressed attitudes). Behavior deft in performing its responsibilities quickly provide health care to all patients who come to the emergency department in accordance with the procedures with respect to the condition of the patient will influence patient waiting time. The purpose of this study was to identify factors that influence the behavior of nurses in health care in the ER pace. Research design using a cross sectional study. Sampling technique used total sampling, obtained 59 respondents. The data was collected using questionnaires and observation sheets. Measurement results obtained significant influence knowledge, attitudes nurses, nurses' workload, supervision karu, availability of facilities and infrastructure to conduct nurse. Dominant factors that influence the behavior of nurses are nurses attitudes. The study recommends to examine other factors that influence the behavior of nurses as policy leaders. Lack of knowledge, attitudes nurses, nurses' workload, supervision karu, physician attitudes as perceived by nurses, the availability of good facilities to improve the behavior of nurses. Keywords: Behavior, Knowledge, Attitude, workload, supervision, availability of facilities. ¹Program Magister Keperawatan Gawat Darurat Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya ² Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya ³Program Magister Keperawatan Gawat Darurat Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya Korespondensi : Filia Icha Sukamto Email: Filiaicha_3105@yahoo.com PENDAHULUAN Menurut Myers (1983), perilaku adalah sikap yang diekspresikan (expressed attitudes). Perilaku baru terjadi apabila ada sesuatu yang diperlukan untuk menimbulkan reaksi, yang disebut rangsangan. Berarti rangsangan tertentu akan menghasilkan perilaku tertentu (Sunaryo, 2004). Menurut Green (2000), perilaku dipengaruhi oleh 3 faktor utama yaitu: faktor predisposisi (predisposing factor), faktor pemungkin (enabling factor), dan faktor penguat (reinforcing factor) (Notoatmodjo, 2003; Green, 2000). Perilaku cekatan dalam melakukan tanggung jawabnya memberikan pelayanan kesehatan dengan cepat kepada semua pasien yang datang ke IGD sesuai dengan prosedur dengan memperhatikan kondisi pasien kebutuhan biopsikososiospiritual dan kebutuhan terhadap pendidikan kesehatan akan berpengaruh terhadap kecepatan dalam layanan kesehatan. Sedangakan hasil dari studi yang dilakukan Talombo (2007), menunjukkan untuk mutu pelayanan kesehatan, pelanggan menilai negatif untuk perilaku tenaga kesehatan. Penilaian terendah adalah terhadap waktu dalam pelayanan, prosedur administrasi, keramahan dan perhatian terhadap pasien. Perilaku perawat dalam melakukan tindakan juga dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya adalah faktor pengetahuan dan sikap. Pengetahuan adalah kumpulan informasi yang dipahami, diperoleh dari proses belajar selama hidup dan dapat digunakan sewaktu – waktu sebagai alat penyesuaian diri baik terhadap diri sendiri maupun lingkunganya. Setelah seseorang mengetahui stimulus atau obyek, kemudian mengadakan penilaian atau pendapat terhadap apa yang diketahui, proses selanjutnya diharapkan akan melaksanakan atau mempraktekkan apa yang diketahui. Melalui tindakan dan belajar seseorang akan mendapatkan kepercayaan, pengetahuan dan sikap terhadap sesuatu yang pada giliranya akan mempengaruhi perilaku. Untuk mewujudkan sikap menjadi suatu perbuatan nyata diperlukan faktor pendukung, atau suatu kondisi yang memungkinkan, antara lain adalah fasilitas. Faktor ini terwujud dalam lingkungan fisik, tersedia atau tidak tersedianya fasilitas – fasilitas atau sarana yang merupakan sumber daya untuk menunjang perilaku. (Martini, 2007). Dari data kunjungan di IGD RSUD dr. Iskak Tulungagung didapatkan jumlah kunjungan pasien di iGD pada tahun 2011 sejumlah 31.533, tahun 2012 mencapai 32.162, sedangkan data kunjungan pada bulan Januari 2013 sejumlah 15.740 dan meningkat pada bulan Maret mencapai 3.293. Dari hasil wawancara terhadap10 pasien yang datang di IGD semuanya menunggu mendapatkan layanan kesehatan dari perawat/ dokter lebih dari 30 menit, mereka mengeluhkan lamanya pelayanan, terutama kalau ada yang harus dikonsulkan dengan konsulen. Selain itu hal ini disebabkan karena ketersediaan fasilitas seperti apotik dan loket masih tergabung dengan fasilitas umum sehingga pasien harus menunggu lama untuk mendapatkan obat dan dilakukan tindakan. Dari 10 orang pasien yang diputuskan dirawat, mereka harus menunggu sekitar 4-5 jam untuk diantar keruang rawatan karena mereka harus menunggu hasil tes laboratorium dan menunggu mendapatkan ruangan. Meningkatnya jumlah kunjungan pasien yang tidak diimbangi dengan peningkatan fasilitas, jumlah tenaga kesehatan serta perilaku tenaga kesehatan yang baik akan mempengaruhi kepuasan pasien dalam pelayanan kesehatan di IGD. Pengamatan awal menunjukkan bahwa proses pelayanan di IGD belum menunjukkan indikator yang baik, hal ini dapat dilihat dengan tingginya angka kematian di IGD dimana pada tahun 2012 angka kematian di IGD menunjukkan 297 kematian sedangkan untuk tahun 2013 angka kematian mulai bulan Januari sampai dengan Mei mencapai 116 kematian. Kunjungan pasien ke IGD menunjukkan kecendrungan peningkatan, namun tidak diikuti dengan penurunan tingkatrujukan dan tingkat kematian. Angka kematian di IGD sayangnya tidak memisahkan mana yang meninggal karena kegagalan resusitasi dan mana yang meninggal karena datang sudah dalam fase terminal. Jumlah pasien pulang juga mengalami peningkatan yang jenis kasusnya non emergency, ini terjadi oleh karena jam poliklinik RSUD dr Iskak Tulungagung hanya hari Senin sampai hari Jumat sehingga pasien sebagian masuk lewat IGD meskipun jenis kasusnya non emergency dan juga sebagian masyarakat tidak memahami fungsi IGD yang sebenarnya. METODE PENELITIAN Desain penelitianini adalah analitik korelasi dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah semua perawat di IGD RSUD dr Iskak Tulungagung dan RSD Mardi Waluyo Blitar sejumlah 59 orang. Tehnik pengambilan sampling dengan tehnik total sampling dimana sampel yang diambil adalah semua perawat IGD yaitu sejumlah 59 orang. Alat ukur yang digunakan adalah kuisioner yang sebelumnya sudah dilakukan uji validitas dengan menggunakan uji korelasi pearson dan reabilitasnya dengan uji cronbach alpha serta menggunakan lembar observasi. Analisis penelitian ini adalah univariat, bivariat dengan menggunakan uji chi square serta multivariat dengan menggunakan uji regresi logistik. HASIL PENELITIAN Hasil Penelitian 1. Data bivariat pada responden di IGD Rumah Sakit dr.Iskak Tulungagung dan Rumah Sakit Mardi Waluyo Blitar Tabel 1 Data Bivariat pada Responden di IGD Rumah Sakit dr.Iskak Tulungagung dan Rumah Sakit Mardi Waluyo Blitar Variabel / perilaku Baik Kurang Baik ρ OR IK 95 persen n persen n persen Min Maks Pengetahuan Perawat IGD Baik < baik 28 10 80.0 41.7 7 14 20.0 58.3 0,003 5.60 1.75 17.85 Sikap perawat IGD Positif Negatif 28 10 80.0 41.7 7 14 20.0 58.3 0,003 5.60 1.75 17.85 Beban Kerja perawat IGD Berat Ringan 27 38 87.1 64.4 4 17 12.9 60.7 0.000 10.43 2.85 38.09 Supervisi Karu Baik < baik 30 8 78.9 13.5 8 13 21.1 61.9 0.002 6.09 1.87 19.76 Ketersediaan fasilitas Baik < baik 30 8 75.0 42.2 10 11 25.0 57.9 0.014 4.12 1.29 13.13 2. Hubungan Pengetahuan dengan perilaku perawat dalam kecepatan layanan kesehatan di IGD Hasil tabulasi silang dari 35 responden yang mempunyai pengetahuan baik kecepatan layanan kesehatan di IGD terdapat 28 (80 persen) responden yang berperilaku baik dan 7 (20 persen) responden berperilaku kurang baik dalam kecepatan layanan kesehatan di IGD. Hasil uji statistik Chi Square didapatkan hasil tingkat signifikasi ρ value = 0.003, α = 5 persen = 0,05. Kekuatan hubungan (RO) yaitu sebesar 5.60 dengan IK 95 persen 1.75-17.85. Dari analisa ρ value < α maka H1 gagal ditolak, yang berarti ada hubungan yang bermakna antara tingkat pengetahuan dengan perilaku perawat dalam kecepatan layanan kesehatan di IGD Rumah Sakit dr.Iskak Tulungagung dan Rumah Sakit Mardi Waluyo Blitar. 3. Hubungan Sikap Perawat dengan perilaku perawat dalam kecepatan layanan kesehatan di IGD Hasil tabulasi silang didapatkan dari 35 responden yang mempunyai sikappositif dalam kecepatan layanan kesehatan di IGD terdapat 28 (80 persen) responden yang berperilaku baik dan 7 (20 persen) responden berperilaku kurang baik dalam kecepatan layanan kesehatan di IGD. Hasil uji statistik Chi Square didapatkan hasil tingkat signifikasi ρ value = 0.003, α = 5 persen = 0,05. Kekuatan hubungan (RO)yaitu sebesar 5.60 dengan IK 95 persen 1.75 - 17.85. Dari analisa ρ value < α maka H1 gagal ditolak, yang berarti ada hubungan yang bermakna antara tingkat sikap perawat dengan perilaku perawat dalam kecepatan layanan kesehatan di IGD Rumah Sakit dr.Iskak Tulungagung dan Rumah Sakit Mardi Waluyo Blitar. 4. Hubungan Beban Kerja dengan perilaku perawat dalam kecepatan layanan kesehatan di IGD Hasil tabulasi silang didapatkan dari 31 responden yang mempunyai beban kerja berat terdapat 27 (87.1 persen) responden yang berperilaku baik dan 4 (12.9 persen) responden yang menyatakan menyatakan supervisi Karu/Pengawas di IGD kurang baik. Hasil uji statistik Chi Square didapatkan hasil tingkat signifikasi ρ value = 0.000, α = 5 persen = 0,05. Kekuatan hubungan (RO) yaitu sebesar 10.43 dengan IK 95 persen 2.85 – 38.09. Dari analisa ρ value < α maka H1 gagal ditolak, yang berarti ada hubungan yang bermakna antara beban kerja perawat dengan perilaku perawat dalam kecepatan layanan kesehatan di IGD Rumah Sakit dr.Iskak Tulungagung dan Rumah Sakit Mardi Waluyo Blitar. 5. Hubungan Kegiatan Supervisi Karu dengan perilaku perawat dalam kecepatan layanan kesehatan di IGD Hasil tabulasi silang didapatkan dari 38 responden yang menyatakan supervisi Karu/Pengawas di IGD baik terdapat 30 (78.9 persen) responden yang berperilaku baik dan 8 (21.1 persen) responden berperilaku kurang baik. Hasil uji statistik Chi Square didapatkan hasil tingkat signifikasi ρ value = 0.002, α = 5 persen = 0,05. Kekuatan hubungan (RO) yaitu sebesar 6.09 dengan IK 95 persen 1.87 – 19.76. Dari analisa ρ value < α maka H1 gagal ditolak, yang berarti ada hubungan yang bermakna antara supervisi karu/Pengawas dengan perilaku perawat dalam kecepatan layanan kesehatan di IGD Rumah Sakit dr.Iskak Tulungagung dan Rumah Sakit Mardi Waluyo Blitar. 6. Hubungan ketersediaan Fasilitas dengan perilaku perawat dalam kecepatan layanan kesehatan di IGD Berdasarkan tabel 1 hasil tabulasi silang didapatkan dari 40 responden yang menyatakan ketersediaan fasilitas dan sarana prasarana di IGD baik terdapat 30 (75 persen) responden yang berperilaku baik dan 10 (25 persen) berperilaku kurang baik. Hasil uji statistik Chi Square didapatkan hasil tingkat signifikasi ρ value = 0.014, α = 5 persen = 0,05. Kekuatan hubungan (RO)yaitu sebesar 4.12 dengan IK 95 persen 1.29 – 13.13. Dari analisa ρ value < α maka H1 gagal ditolak, yang berarti ada hubungan yang bermakna antara ketersediaan fasilitas dan sarana prasarana dengan perilaku perawat dalam kecepatan layanan kesehatan di IGD Rumah Sakit dr.Iskak Tulungagung dan Rumah Sakit Mardi Waluyo Blitar. 2. Analisis faktor yang mempengaruhi perilaku perawat dalam kecepatan layanan kesehatan di IGD Tabel 2: Hasil Analisis Regresi Logistik Variabel Koef ρ OR IK95 persen Langkah 3 Sikap perawat 1 -1.339 0.079 0.26 0.05-1.16 Penget 1 -1.426 0.064 0.24 0.05-1.08 Supervisi 1 -1.494 0.049 0.22 0.05-0.99 Beban kerja 1 -2.458 0.003 0.08 0.02-0.42 Konstanta 3.907 <0.001 49.74 Hasil analisis dari tabel 2 didapatkan hasil bahwa variabel yang berpengaruh terhadap perilaku perawat dalam kecepatan layanan kesehatan di IGD adalah pengetahuan perawat, sikap perawat, supervisi dan beban kerja perawat. Kekuatan hubungan dilihat dari nilai OR , kekuatan hubungan dari yang terbesar ke yang terkecil adalah sikap perawat (OR = 0.26), pengetahuan (OR = 0.24), supervisi (OR = 0.22),dan beban kerja (OR = 0.08). Dari persamaan didapatkan nilai variabel bebas yaitu, pengetahuan kurang baik: 0, baik : 1; sikap negatif : 0, positif : 1; supervisi kurang baik: 0, baik :1; dan beban kerja ringan: 0, berat: 1. Jadi nilai probabilitas perawat yang berpengetahuan kurang baik, sikap negatif, supervisi kurang baik dan yang memiliki beban kerja ringan untuk berperilaku kurang baik dalam kecepatan layanan kesehatan di IGD adalah: Y = 3.907 +(-1,339) sikap perawat) + (-1,426 (pengetahuan) + (1,494(supervisi)+ (-2,458 (bebankerja) Y = 3.907 +(-1,339( 0)) + (-1,426 (0)) + (-1,494 (0)) + (-2,458 (0)) = 3.907 P = 1/(1+e-y) P = 1/(1+2,7-3.907) P = 0,98 = 98 persen Dengan demikian probabilitas perawat yang berpengetahuan kurang baik, sikap negatif, supervisi kurang baik dan yang memiliki beban kerja ringan untuk berperilaku kurang baik dalam kecepatan layanan kesehatan di IGD. Pembahasan 1. Pengaruh pengetahuan terhadap perilaku perawat Berdasarkan hasil analisis didapatkan bahwa tingkat pengetahuan perawat tentang kecepatan layanan kesehatan di IGD memiliki pengaruh terhadap perilaku perawat dalam kecepatan layanan kesehatan di IGD. Hal ini sesuai dengan penelitian yang telah dilakukan oleh oleh Ariyani P (2008), bahwa pengetahuan berpengaruh pelaksanaan triage dengan P-Value sebesar 0.005. Pengetahuan merupakan hal penting yang harus dimiliki oleh seorang perawat profesional agar dapat melaksanakan tugas dan tanggungjawabnya dengan baik. Beberapa faktor dapat mempengaruhi tingkat pengetahuan seseorang, menurut Wawan dan Dewi (2010), pengetahuan dipengaruhi oleh faktor internal (pendidikan, usia, pekerjaan) dan faktor eksternal (lingkungan, sosial budaya). Dari hasil penelitian ini mayoritas perawat mempunyai latar belakang pendidikan DIII Keperawatan 49 (83 persen), hal ini mungkin merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kurangnya pengetahuan perawat karena pendidikan dapat mempengaruhi seseorang termasuk juga perilaku seseorang akan pola hidup terutama dalam memotivasi untuk sikap berperan serta dalam pembangunan (Nursalam 2003, dalam Wawan dan Dewi, 2010). Hal ini menyatakan bahwa semakin tinggi pendidikan seseorang akan memudahkan dalam menerima informasi sehingga dapat melakukan peran dan berperilaku dengan baik. Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa tingkat pengetahuan perawat masih berada pada tingkat tahu sehingga triage belum dapat dilaksanakan dengan baik sehingga tindakan yang dilakukan pada pasien sesuai prioritas belum maksimal yang berpengaruh dalam kecepatan layanan kesehatan di IGD. Tingkat pengetahuan yang dimiliki oleh seorang perawat IGD sebaiknya berada pada tingkat evaluasi sehingga penilaian dan penentuan tindakan yang tepat. Secara konsep pendidikan mempengaruhi pengetahuan yang dimiliki seseorang, tetapi dalam melakukan tindakan di IGD selain pendidikan formal juga perlu ditambah dengan pelatihan yang berhubungan dengan keperawatan gawat darurat 2. Pengaruh sikap perawat terhadap perilaku perawat Berdasarkan hasil analisis didapatkan bahwa sikap perawat dalam kecepatan layanan kesehatan di IGD memiliki pengaruh terhadap perilaku perawat dalam kecepatan layanan kesehatan di IGD. Menurut Secord dan Backman (1964), seperti yang dikemukakan Sunaryo (2004), sikap adalah keteraturan tertentu dalam hal perasaan (afeksi), pemikiran (kognisi), dan predisposisi tindakan (konasi) seseorang terhadap suatu aspek di lingkungan sekitarnya. Hal ini diperkuat dengan pernyataan Robbins (2007), bahwa sikap mengandung komponen kognitif, afektif dan konatif. Pernyataan tersebut berarti bahwa sikap berkaitan dengan pengetahuan dan perilaku. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian dari Ariyani P (2008), dimana nilai korelasi antara sikap dengan pelaksanaan triage sebesar 0.587 dengan P-Value sebesar 0.027, artinya sikap mempengaruhi pelaksanaan triage, dapat disimpulkan bahwa semakin baik sikap maka pelaksanaan triage akan semakin baik. Menurut Notoatmojo (1996), dalam Wawan dan Dewi (2010), sikap terdiri dari berbagai tingkatan dari menerima, merespon, menghargai sampai dengan bertanggungjawab. Didalam sikap saat melakukan tindakan sebaiknya perawat mempunyai tingkatan sikap bertanggungjawab karena perilaku yang baik saat melakukan tindakan yang cepat dan tepat akan mempengaruhi kecepatan layanan kesehatan di IGD dan berkaitan erat dengan keselamatan pasien sehingga perawat harus bisa mengatasi semua resiko saat melakukan tindakan. Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa dengan melihat tingkat sikap yang ada pada perawat kemungkinan berhubungan dengan pengetahuan yang dimiliki. Jika pengetahuan perawat ditingkatkan mungkin juga akan mempengaruhi peningkatan sikap. Hal ini sesuai dengan teori sikap yang mengatakan bahwa melalui tindakan dan belajar seseorang akan mendapatkan kepercayaan dan sikap terhadap sesuatu yang pada giliranya akan mempengarui perilaku. Teori perubahan perilaku mengatakan berdasarkan anggapan bahwa perubahan perilaku individu tergantung kepada kebutuhan. Perilaku dilatar belakangi oleh kebutuhan individu yang bersangkutan. Peningkatan sikap harus diimbangi dengan peningkatan pengetahuan serta perilaku perawat. 3. Pengaruh beban kerja terhadap perilaku perawat Berdasarkan hasil analisis bahwa beban kerja mempengaruhi perilaku perawat, dimana semakin berat bebankerja perawat di IGD maka semakin kurang baik juga perilaku perawat dalam pemberian pelayanan kesehatan di IGD . Sesuai dengan penelitian yang dilakukan Budi Widiastuti tahun 2005, menyatakan ada hubungan yang positip antara beban kerja dengan kinerja pegawai administrasi di bagian tata usaha Dinas Kesehatan propinsi Jawa Tengah (Martini, 2007). Menurut Sumakmur dalam Martini (2007) dimana setiap pekerjaan merupakan beban bagi pelakunya, beban dimaksud bisa fisik, mental, sosial. Pada penelitian ini didapatkan 31 responden memiliki beban kerja berat, beban kerja dipengaruhi salah satunya oleh kapasitas kerja, seseorang yang bekerja dengan beban kerja maksimal akan menyebabkan produktivitas menurun sehingga berpengaruh juga terhadap kecepatan perawat dalam memberikan pelayanan kesehatan di IGD. 4. Pengaruh supervisi kepala ruangan terhadap perilaku perawat Berdasarkan analisis menunjukkan bahwa supervisi dari Karu mempunyai pengaruh terhadap perilaku perawat dalam memberikan pelayanan kesehatan pada pasien sehingga mampu mengurangi waktu tunggu pasien di IGD . Hal ini sesuai dengan penelitian Hyrkas dan Paunonen-Ilmonen (2001), membuktikan bahwa supervisi klinik yang dilakukan dengan baik berdampak positif bagi quality of care. Di beberapa negara maju terutama US dan Eropa, kegiatan supervisi klinik keperawatan di rumah sakit dilakukan dengan sangat sistematis. Peran dan kedudukan perawat supervisor begitu penting. Peran supervisor dapat menentukan apakah pelayanan keperawatan (nursing care delivery) mencapai standar mutu atau tidak. Dari urian diatas dapat disimpulkan bahwa jadwal supervisi yang sitematis serta kemampuan supervisor yang terlatih atau sesuai dengan perawannya akan sangat berpengaruh terhadap perilaku perawat. Namun fakta menunjukkan pelaksanaan supervisi keperawatan di berbagai rumah sakit Rumah Sakit dr.Iskak Tulungagung dan Rumah Sakit Mardi Waluyo Blitar belum optimal dimana kapala ruangan dan pengawas hanya melakukan pengawasan saja bukan dengan kegiatan membina, membimbing dan mengajarkan kepada perawat tentang hal-hal yang berkaitan dengan tanggung jawab dan tugas rutin perawat dalam pemberian layanan kesehatan di IGD sehingga mampu mengurangi waktu tunggu pasien di IGD. Penelitian Mularso (2006), menemukan bahwa kegiatan supervisi lebih banyak pada kegiatan ‘pengawasan’; bukan pada kegiatan bimbingan, observasi dan penilaian. Di Indonesia model supervisi klinik keperawatan juga belum jelas seperti apa dan bagaimana implementasinya di rumah sakit. 5. Pengaruh ketersediaan fasilitas terhadap perilaku perawat. Berdasarkan analisis menyatakan bahwa ketersediaan fasilitas dan sarana prasarana mempengaruhi perilaku perawat di IGD. Hal ini sesuai dengan penelitian yang diterbitkan oleh “the Ontario Health Quality Council” tahun 2008 menegaskan bahwa perawat atau dokter di IGD sering menghabiskan sejumlah besar waktunya untuk mencari peralatan, misalnya mesin EKG, mesin USG, monitor tanda – tanda vital, manset tekanan darah, dan termometer. Hal tersebut akan berdampak pada lamanya waktu yang digunakan untuk memberikan pelayanan kesehatan pada pasien di IGD, di mana kondisi pasien yang segera memerlukan tindakan yang cepat dan tepat. Untuk mewujudkan sikap menjadi suatu perbuatan nyata diperlukan faktor pendukung, atau suatu kondisi yang memungkinkan, antara lain adalah fasilitas. faktor ini terwujud dalam lingkungan fisik, tersedia atau tidak tersedianya fasilitas – fasilitas atau sarana yang merupakan sumber daya untuk menunjang perilaku. Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa untuk mewujudkan sikap menjadi suatu perbuatan nyata diperlukan faktor pendukung, atau suatu kondisi yang memungkinkan, antara lain adalah fasilitas. faktor ini terwujud dalam lingkungan fisik, tersedia atau tidak tersedianya fasilitas – fasilitas atau sarana yang merupakan sumber daya untuk menunjang perilaku perawat terhadap waktu tunggu pasien di IGD. Sehingga perawat bisa dengan segera memberikan pelayanan kesehatan sehingga meminimalkan waktu tunggu pasien di IGD. Peningkatan fasilitas dan sarana prasarana di IGD sangat mendukung perawat dalam perilaku memberikan pelayanan kesehatan di IGD . 6. Analisis Hubungan yang Paling Mempengaruhi perilaku perawat di IGD Rumah Sakit dr.Iskak Tulungagung dan Rumah Sakit Mardi Waluyo Blitar Dari hasil analisis didapatkan bahwa faktor berpengaruh terhadap perilaku perawat dalam kecepatan layanan kesehatan di IGD adalah pengetahuan perawat, sikap perawat, supervisi dan beban kerja perawat. Sikap perawat memiliki hubungan yang paling kuat dengan perilaku perawat dalam kecepatan layanan kesehatan di IGD dengan nilai (OR = 0.26) dilanjutkan dengan pengetahuan (OR = 0.24), supervisi (OR = 0.22),dan beban kerja (OR = 0.08). Berdasarkan fakta diatas jelas bahwa faktor yang paling berpengaruh terhadap perilaku perawat dalam kecepatan layanan kesehatan di IGD adalah sikap perawat. Hal tersebut sesuai dengan penelitian Yuliastuti (2007), dalam penelitiannya bahwa sikap secara signifikan berpengaruh terhadap kinerja perawat. Sikap merupakan penilaian seseorang terhadap stimulus atau obyek. Setelah orang mengetahui stimulus atau obyek proses selanjutnya akan menilai atau bersikap terhadap stimulus atau obyek tersebut. Suatu sikap yang dipunyai individu mengenai pekerjaannya dihasilkan dari persepsi mereka terhadap pekerjaannya, didasarkan pada faktor lingkungan kerja, gaya supervisi, kebijakan dan prosedur. Sikap perawat mempunyai pengaruh terhadap tindakan yang dilakukan dan tindakan yang tepat, cepat dan cermat pada penanganan terhadap pasien di IGD. Hal ini sesuai dengan teori sikap yang mengatakan bahwa melalui tindakan dan belajar seseorang akan mendapatkan kepercayaan dan sikap terhadap sesuatu yang pada giliranya akan mempengaruhi perilaku. Rumah sakit khususnya IGD diharapkan mampu melaksanakan kegiatan yang mampu meningkatkan sikap, pengetahuan dan ketrampilan perawat dengan program pelatihan dan program berkelanjutan dengan tujuan yang jelas sesuai dengan kompetensi perawat di IGD. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Lebih dari setengah responden memiliki perilaku yang baik dalam kecepatan layanan kesehatan di IGD. Terdapat hubungan yang bermakna antara pengetahuan, sikap perawat, beban kerja perawat, supervisi karu, ketersediaan fasilitas dan sarana prasarana dengan perilaku perawat dalam kecepatan pelayanan kesehatan di Instalasi Gawat Darurat RSUD dr.Iskak Tulungagung dan RSD Mardi Waluyo Blitar Saran Pemerintah diharapkan dapat memberikan informasi berkesinambungan serta melakukan peningkatan pengetahuan, sikap dan ketrampilan perawat sdan tenaga kesehatan lain di IGD secara berkelanjutan dengan pelatihan, seminar, workshop dan program yang berkelanjutan dengan tujuan yang jelas sesuai dengan kompetensi perawat di IGD. Diperlukan pegembangkan penelitian ini dengan menggubah kerangka pikir, paradigma dan metodologi penelitian untuk mengetahui faktor tersebut lebih mendalam. Pengembangan dapat dilakukan dengan menambah variabel yang mempunyai pengaruh terhadap perilaku perawat diataranya adalah kebijakan pimpinan. DAFTAR PUSTAKA A Hanafi M. 2005. Study in Outpatients Waiting Time in Hospital University Kebangsaan Malaysia Through the Six Sigma Approach. Departement of Statistics Malaysia Al- haratari. 2010. Optimizing Wait Time use Smart Phone as a Patient Empowerment . California State University Arikunto, S. 1998. Prosedur Penelitian.Jakarta: PT.Rineka Cipta Azwar, S. 2002. Sikap Manusia, Teori dan Pengukurannya. Yogyakarta : Pustaka Pelajar Brockopp, Hastings-Tolsma. 2002. Fundamentals of Nursing Research. Edisi 2 : EGC Canadian Institute for Health Information. 2005, “Understanding Emergency Department Wait Times”, Dahlan, M Sopiyudin, 2008. Statistik Kedokteran dan Kesehatan, Jakarta : Salemba Medika Depkes RI. 2008. Kepmenkes No.129/Menkes/SK/II/2008 Tentang Standart Layaynan Minimal Kesehatan. Jakarta Dekes RI. 2007. Standar Pelayanan Minimal Rumah sakit. Direktorat Jendral Bina Pelayanan Medik. Jakarta GAO. 2009. Hospital Emergency Departements : Crowding Continues To Occur and Some Patients Wait Longer Than Recommended Times Frame. United States Accountability Office Washington DC.205.48 Gillis. 1989. Nursing Managemen Aproch. Sounders Company. Philadelpia. Grossman, Valerie. 2003. Quick Reference to Triage. USA : Lippincot Hidayat, Aziz Alimul. 2004. Pengantar Konsep Keperawatan.Jakarta: Salemba Medika P Hyrkas K.,& Paunonen-Ilmonen M, 2001, The effects of clinical supervision on the quality of care: examining the results of team supervision, Journal of Advanced Nursing, 33(4): 492-502. Ilyas,Yaslis. 2000. Perencanaan SDM Rumah Sakit. Depok : Pusat Kajian Ekonomi Kesehatan FKM UI Kepmenkes.RI. 2010. Petunjuk Teknis Penggunaan Alokasi Khusus Bidang Kesehatan. Jakarta Mahardini dan Maliya. 2009. Hubungan Antara Tingkat pengetahuan dengan perilaku pencegahan penularan dari klien HIV/AIDS di Ruang Melati RSUD DR MOEWARDI. Berita Ilmu Keperawatan ISSN 1979-2697, Vol 2. No.2. Juni 2009, 75-80 Martini. 2007. Hubungan karakteristik perawat, sikap, beban kerja ketersediaan fasilitas, dengan praktek pendokumentasian asuhan keperawatan. Universitas Diponegoro. Semarang Marquis, B.L. and Huston, C. 2006. Leadership roles and management function in nursing : theory and application. 5th Ed. Philadelphia: Lip. Mashuri. 2012. Analisis Faktor Yang Berhubungandengan Waktu Tunggu perencanaan Cito di IGD.Universitas Indonesia Milne D.,& James IA, 2005, Clinical supervision: ten test of a model, Clinical Psychology Forum 151: 6-9. Ministry of Health and Long Term Care. 2010.. Hospital Emergency Departement Moewardi, 2003. Materi Pelatihan PPGD. Surakarta. N. Kartikawati Dewi. 2011. Dasar – Dasar Keperawatan Gawat Darurat. Jakarta: Salemba Medika Notoatmodjo, Soekidjo. 2010. Ilmu Perilaku Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta Notoatmodjo, Soekidjo. 2007. Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku. Jakarta: Rineka Cipta Notoatmodjo S. 2002. Pendidikan kesehatan : PT.Rineka Cipta Nursalam. 2011. Manajemen Keperawatan : Aplikasi Dalam Praktik Keperawatan Profesional. Ed.3. Jakarta. Salemba Medika Nursalam, 2008. Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan,Jakarta : Salemba Medika Page S.,& Wosket V, 1995, Clinical Supervision for Nurses and Allied Health Professionals: the 4S Model, Routledge & New York, Available from: www.northwestsolutions.co.uk. Pardede, H. 2000. Studi Faktor Yang Berhubungan Dengan Waktu Tunggu RS Bhakti Yuda. Universitas Indonesia Pollit & Beck.2010. Essencial Nursing Research : Apraising Evidence for Nursing Practice. Philadelphia: Lippincot Williams and Wilkins Rijadi, S. 1997. Pelatihan Manajemen Unit Gawat Darurat, Pokja Pelayanan Kesehatan. Pusat Penelitian Kesehatan. Universitas Indonesia Robbins, Stehpen. 2007, Organizational Behaviour , USA : Prentice Hall S. Ajami, et al. 2012. Wait Time Emergency Depatement (ED) Processes. Med.ARH. 2012; 66 (1) : 53-57. Original Paper S. Ajami, et al. 2011. Waiting Time Emergency Depatement by Simulation. International Perspectives Health Informatics. Doi.10. 3233/978_1_60750_ 709_ 3_196 Sullivan, S. 2011. Strategy to Reduce Emergency Departement Wait Times in New Foundland and Labarador Supratman & Sudaryanto. 2008. Model – Model Supervisi Keperawatan Klinik. Berita Ilmu ABSTRACT THE DIFFERENCE OF SATISFACTION LEVEL FROM POSTPARTUM WHO RECEIVE MATERNITY INSURANCE AND NON MATERNITY INSURANCE PROGRAM IN MARDI WALUYO REGION GENERAL HOSPITAL BLITAR MUNICIPAL 2013 Dyah Priliasari1, Ita Eko Suparni2, Anis Setyowati3 Maternity insurance is a program to increase partum with help from medical staffs and to eliminate financial problem for gravidas to get partum guarantee. The existence of Maternity Insurance and non Maternity Insurance program are able to stimulate difference of satisfaction level from postpartum to that service. The purpose of this research is to identify the difference of satisfaction level from postpartum who receive partum guarantee and non Maternity Insurance program in Mardi Waluyo Region General Hospital in Blitar Municipal. The study design was case control analytic. Research was held on 10th until 24th of February 2013 in Mardi Waluyo Region General Hospital in Blitar Municipal by using instrument of questionnaire. Research “comparative study” with independent variable of satisfaction level from postpartum mothers. Population consisted of all postpartum who received Maternity Insurance and non-Maternity Insurance program in Neonatus Room of Mardi Waluyo Region General Hospital in Blitar Municipal. Sample size were 48 respondents, 34 respondents for mothers who receive maternity insurance program and 14 respondents for mothers who did not receive maternity insurance program taken by using proportional random sampling and being analyzed chi square. Based on analysis result of chi square α = 5 persen showed x2count (11,85)> x2table. It meant that there was difference of satisfaction level from postpartum who receive maternity insurance and Non maternity insurance program in Mardi Waluyo Region General Hospital in Blitar Municipal. The difference of patient’s satisfaction in Mardi Waluyo Region General Hospital is laid in dimension of tangible and assurance. In the Maternity Insurance service, many mothers are not satisfied because of lack of service facilities and individual perception to Maternity Insurance program where they consider the service of this program is not good as non-Maternity Insurance program, because individual satisfaction tend to subjective. Key words : Maternity Insurance, Postpartum, Satisfaction Level 1 mahasiswa Program Studi DIII Kebidanan STIKES Karya Husada Kediri 2 dosen Program Studi DIII Kebidanan STIKES Karya Husada Kediri 3 dosen Program Studi DIII Kebidanan STIKES Karya Husada Kediri Korespondensi: Ita Eko Suparni Email: ita.sekar@gmail.com PENDAHULUAN Berdasarkan kesepakatan global pada tahun 2015, diharapkan angka kematian ibu menurun dari 228 pada tahun 2007 menjadi 102 pada tahun 2015 dan angka kematian bayi menurun dari 34 pada tahun 2007 menjadi 23 pada tahun 2015. Menurut hasil studi Jampersal oleh dr.Tety Rachmawati, di 14 Kabupaten/ Kota tentang studi evaluatif implementasi jampersal 2012. Menyatakan bahwa pengguna jampersal salah satunya di Kabupaten Blitar. Pemanfaatan Jampersal 2011, untuk pelayanan pemeriksaan ibu hamil (ANC) 5, untuk pelayanan masa nifas (PNC) 3, untuk pelayanan Persalinan 100, dan untuk tindakan Prarujukan 4 . Didapatkan hasil bahwa kepuasan pasien sangatlah minim yaitu sebesar 7,1 persen. Kebanyakan untuk ibu yang tidak menggunakan pelayanan jampersal karena mereka tidak tahu sebesar 7 persen, Dilarang oleh suami 55 persen , dan alasan lainnya sebesar 38 persen. Seperti dituangkan dalam hasil Riset Kesehatan Dasar Indonesia ( Riskesdas) 2010, persalinan oleh tenaga kesehatan pada kelompok sasaran miskin (Quintile 1) baru mencapai sekitar 69 persen. Menurut data profil kesehatan jatim tahun 2008 data kunjungan ibu bersalin ke Rumah Sakit pemerintah atau swasta 12 persen, puskesmas 38 persen, klinik swasta perorangan 50 persen. Umumnya fasilitas kesehatan milik pemerintah kurang atau tidak dimanfaatkan oleh masyarakat khususnya ibu bersalin, salah satu sebabnya adalah bahwa mutu pelayanan kesehatan yang diselenggarakan oleh fasilitas pelayanan kesehatan milik pemerintah masih belum atau tidak memenuhi harapan atau kepuasan pasien dan atau masyarakat (Pohan, 2006). Pelayanan kesehatan yang bermutu merupakan suatu layanan kesehatan yang dibutuhkan, dalam hal ini akan ditentukan oleh profesi layanan kesehatan, dan sekaligus di inginkan baik oleh pasien/konsumen ataupun masyarakat serta terjangkau oleh daya beli masyarakat (Pohan, 2007). Menurut Lumenta dalam Sumartono (2007) kepuasan pasien merupakan dasar suatu ukuran kualitas atau mutu pelayanan kesehatan dan merupakan alat yang dapat dipercaya serta sahih dalam menyusun perencanaan, pelaksanaan dan penilaian pengelolaan suatu tempat pelayanan. Kepuasan pasien akan tercapai apabila diperoleh hasil yang optimal bagi pasien dalam pelayanan kesehatan dengan memperhatikan kemampuan pasien dan keluarganya, perhatian terhadap kebutuhan pasien, kondisi fisik serta tanggap terhadap kebutuhan pasien sehingga tercapai keseimbangan sebaik-baiknya antara rasa puas dan tidak puas. METODE PENELITIAN Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah analitikk bersifat “comparative study”, dengan pendekatan case control yaitu rancang bangun dengan melihat ke belakang dari suatu kejadian yang diteliti. Pada penelitian ini variabel yang digunakan adalah variabel tunggal yaitu tingkat kepuasan ibu postpartum. Sampel pada penelitian ini adalah ibu postpartum yang mendapatkan pelayanan jampersal dan non jampersal di RSD Mardi Waluyo. Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah proporsional random sampling yaitu suatu cara pengambilan sampel yang digunakan bila anggota populasi tidak homogen yang terdiri atas kelompok yang homogen yang kurang secara proporsional dengan instrumen lembar kuisioner. Analisa data menggunakan uji statistik Chi Kuadrat. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian 1. Tingkat kepuasan ibu postpartum yang mendapatkan pelayanan jampersal Tabel 1: Tingkat Kepuasan Ibu Postpartum yang Mendapatkan Pelayanan Jampersal No Tingkat Kepuasan Frekuensi Prosentase ( persen) 1. Puas 13 38,3 2. Tidak Puas 21 61,7 Jumlah 34 100 2. Tingkat kepuasan ibu postpartum yang mendapatkan pelayanan non- jampersal Tabel 2: Tingkat Kepuasan Ibu Postpartum yang Mendapatkan Pelayanan Non- Jampersal No Tingkat Kepuasan Frekuensi Persen ( persen) 1. Puas 13 92.8 2. Tidak Puas 1 7.14 Jumlah 14 100 3. Perbedaan tingkat kepuasan ibu postpartum yang mendapatkan pelayanan jampersal dan non-jampersal di RSD Mardi Waluyo Kota Blitar Tabel 3: Perbedaan Tingkat Kepuasan Ibu Postpartum yang Mendapatkan Pelayanan Jampersal dan Non-Jampersal di RSD Mardi Waluyo Kota Blitar Jenis Pelayanan Tingkat Kepuasan Jumlah Puas Tidak Puas Jampersal 13 (38,2 persen) 21 (61,76 persen) 34 (100 persen) Non Jampersal 13 (92,8 persen) 1 (7,14 persen) 14 (100 persen) Jumlah 26 22 48 Berdasarkan hasil penelitian yang sudah dilakukan pada 48 responden, sebagian besar responden yaitu (61,76 persen) tidak merasa puas dengan pelayanan jampersal dan hampir seluruh responden yaitu (92,85 persen) merasa puas dengan pelayanan non jampersal. Setelah di uji dengan menggunakan uji statistik chi square dengan kriteria H0 ditolak jika x2 hitung ≥ x2 tabel, dengan signifikansi atau 0,05 dengan dk=1 didapatkan x2 tabel sebesar 3,841 dan x2 hitung sebesar 11,85. Dapat disimpulkan x2 hitung (11,85) ≥ x2 tabel (3,841) sehingga H0 ditolak dan H1 diterima yang artinya ada perbedaan tingkat kepuasan ibu postpartum yang mendapatkan pelayanan jampersal dan non jampersal. Pembahasan Kepuasan responden terhadap jasa pelayanan yang diterima mengacu pada beberapa faktor seperti dituangkan Budiastuti,2003: 68 : kualitas produk atau jasa yang didapatkan mereka akan semakin merasa puas bila hasil evaluasi mereka menunjukkan bahwa produk atau jasa yang digunakan berkualitas. Persepsi konsumen terhadap kualitas atau jasa dipengaruhi oleh dua hal yaitu kenyataan kualitas produk atau jasa yang sesungguhnya dan pandangan masyarakat lain tentang pelayanannya. Kualitas pelayanan memegang peranan penting dalam mempengaruhi tingkat kepuasan seseorang. Pelanggan dalam hal ini pasien akan merasa puas jika mereka memperoleh pelayanan yang baik atau sesuai yang diharapkan. Dimensi pelayanan yang menimbulkan perbedaan kepuasan yang menonjol disini adalah dimensi tangible dan assurance . Dimensi tangible meliputi fasilitas fisik, peralatan, kenyamanan ruangan, menggunakan indra penglihatan untuk menilai kualitas. Sedangkan dimensi assurance meliputi pemenuhan keamanan, kenyamanan, keramahan dari petugas kesehatan dalam memberikan pelayanan (Gde Muninjaya, 2012: 11). Adanya variasi kepuasan pasien terhadap kualitas pelayanan jampersal ataupun non jampersal kemungkinan disebabkan oleh beberapa faktor. Faktor- faktor tersebut bersifat subjektif dan objektif yaitu mereka membandingkan pelayanan yang diterima sekarang dengan pengalaman pelayanan yang pernah diterima sebelumnya, serta disebabkan dari persepsi yang memandang pelayanan jampersal itu gratis, dan mereka sadar diri bahwa mereka tidak mengeluarkan biaya membuat tenaga kesehatan menjadi kurang maksimal dalam memberikan pelayanan. Selain itu dilihat dari dimensi tangible menyebabkan mereka merasa puas dengan pelayanan non jampersal di Ruang Nifas RSD Mardi Waluyo Blitar adalah karena fasilitas yang ada, fasilitas pasien dengan pelayanan non jampersal di kelas I dan II terdapat fasilitas yang cukup dibandingkan dengan pelayanan jampersal di kelas III. Selain itu kalau di ruang perawatan kelas III berbentuk bangsal atau satu pasien dalam satu ruangan yang besar, sedangkan di kelas I dan II ruang perawatannya disekat oleh pembatas sehingga privasi mereka terjaga. Dari dimensi assurance antara pasien jampersal dan non jampersal mengalami perbedaan pada prosedur persyaratan administrasi yang harus diepenuhi oleh pasien jampersal, sehingga kurang nyaman. Beberapa persyaratan tentang kelengkapan diantaranya sesuai dengan peraturan ketentuan persyaratan menjadi pasien jampersal. Tetapi untuk dimensi responsivenes, reability, dan emphaty tidak ada perbedaan yang menonjol dikarenakan pada dimensi responsivenes tenaga kesehatan dituntut untuk mampu menyelesaikan keluhan yang dialami pasien secara cepat tanggap dan bisa memenuhi harapan pasien tanpa membedakan status sosial pasien. Pada dimensi Empathy petugas kesehatan harus mempunyai rasa peduli dan perhatian pada masing- masing pasien, dan memahami kebutuhan mereka, memberikan kemudahan kepada pasien untuk dihubungi saat mereka membutuhkan bantuan. Sedangkan untuk dimensi reliability, sebagai petugas kesehatan harus mampu memberikan pelayanan secara tepat waktu dan benar tanpa kesalahan yang bisa membahayakan pasien. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pada tanggal 10 - 24 Februari 2013 di Ruang Nifas RSD Mardi Waluyo Kota Blitar pada 48 responden didapatkan hasil: Dari 48 responden, yang terbagi kedalam 34 responden jampersal dan 14 responden non jampersal. Setelah dilakukan analisa dengan menggunakan chi kuadrat, dengan kriteria H0 ditolak jika x2 hitung ≥ x2 tabel, didapatkan hasil, x2 hitung (11,85) ≥ x2 tabel (3,841) dengan α = 0,05, dk= 1. Yang artinya terdapat perbedaan tingkat kepuasan ibu postpartum yang mendapatkan pelayanan jampersal dan non jampersal. Saran 1. Bagi Institusi Pendidikan Diharapkan ada yang mengadakan penelitian yang serupa dengan metode dan tempat penelitian yang berbeda, sehingga hasil penelitian dapat digeneralisasi pada populasi yang lebih luas. Untuk mahasiswa mengetahui bahwa pentingnya kualitas pelayanan saat kita sudah terjun di dalam masyarakat. Untuk institusi pendidikan lebih meningkatkan kualitas ketrampilan serta kemampuan keluaran pemberi jasa pelayanan yang lebih baik. 2. Bagi Organisasi profesi kebidanan Bagi profesi kebidanan hendaknya selalu meningkatkan mutu kualitas asuhan yang diberikan dalam upaya meningkatkan kualitas pelayanan melalui peningkatan kualitas pelayanan dari tenaga kesehatan dengan cara melakukan pendidikan yang berkelanjutan, seminar dan pelatihan tentang kualitas pelayanan yang sesuai standar mutu. 3. Bagi RSD Mardi Waluyo Dari pihak RSD mardi waluyo dengan meningkatkan fasilitas kesehatan yang telah ada, yang lebih memenuhi harapan pasien. Seperti fasilitas ruangan yang menjaga privasi pasien dan kenyamanan pasien. Selain itu dengan menyediakan angket atau kuesioner evaluasi pelayanan segera setelah pasien pulang, sebagai sarana masukan serta kritikan secara langsung terhadap pelayanan yang diberikan di RS 4. Bagi Masyarakat Hendaknya masyarakat bersikap positif dengan program yang telah diberikan oleh pemerintah yang bertujuan untuk meringankan beban masyarakat dalam hal kesehatan ibu dan bayi. Dikarenakan mereka sudah memilih suatu pelayanan, mereka harus mampu menerima pelayanan yang telah diberikan oleh pemberi jasa pelayanan. DAFTAR PUSTAKA Arikunto, Suharsimi. 2010. Prosedur Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta. Hal : 235 Aritonang, Lerbi. 2005. Kepuasan Pelanggan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Hal 2 Brown dan Bennet. 2011. Mayes Textbook for Midwives. London. Hal 233 Irawan, Handi. 2007. 10 Prinsip Kepuasan Pelanggan. Jakarta: Elek media komputindo. Hal 3 Muninjaya, Gde. 2012. Manajemen Mutu Pelayanan Kesehatan. Jakarta : EGC. Hal 11 Notoatmodjo, Soekidjo. 2010. Metedologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta. Hal 159, 176 Nursalam, 2003. Konsep Dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika. Hal 81, 9 Pohan, S, Imbalo. 2006. Jaminan Mutu Layanan Kesehatan. Jakarta: EGC. Hal 144, 156, 159 Tjitono Fandy. 2005.. Pemasaran Jasa. Malang: Bayu Media Publishing. Hal 260, 349, 366 Tety Rachmawati. 2012.Hasil Study Jampersal.pdf . www.kesehatanibu.depkes.go.id. (Download hari Minggu, 7 Oktober 2012) Laporan riskesdas 2010.pdf. www.litbang.depkes.go.id. (Download hari Minggu, 7 Oktober 2012) Peraturan Menteri Kesehatan Juknis Jampersal.pdf 2012. www.depkes.go.id. ( Download hari Sabtu, 6 Oktober 2012) ABSTRACT THE RELATION BETWEEN KNOWLEDGE AND ATTITUDE OF A MOTHER THE ELECTION HELPER CHILDBIRTH IN THE WORK AREA PUBLIC HEALTH CENTER PANGKALAN DISTRICT KARAWANG 2012 By: Ari Antini Infant mortality rate and the mortality rate in indonesia is still high in comparison with other asean countries. One factor absolutely influences the occurrence of deaths of mothers and babies are strongly influenced by factors service capability and skill health workers as auxiliary the first in childbirth where in accordance with the first key MPS ( making pregnancy safer ) which is that every childbirth should were being helped by health workers trained. In addition, still high childbirth at home and problems associated culture and behavior and signs of pain on neonatal difficult recognizable, is also the cause of death of a newborn infant. According to skinner health of a person health of a person behavior strongly influenced by itself. Knowledge is a domain that is very important in forming the act of someone. Knowledge someone extremely plays an important role in determining attitude. Attitude was no the act of going but predisposes behavior. The aim of this research is to analyze the relation between knowledge and attitude of a mother the election helper childbirth in the work area public heakth center pangkalan district karawang 2012 Design research is research design of case control analytic. Research of variable knowledge, attitude and the election helper in childbirth. Sampling for case and control group in this study using stratified random sampling technique as much as 94 people (40 people each group of cases and controls). The collection of data by questionnaire. Analysis of data through univariat and bivariat by test statistics chi-square. The knowledge of the most high 61 persen, an attitude is largely positive test 54 persen. There was no correlation meaningfui between knowledge by election helper childbirth ( p-value 0,527 ), and there are meaningfui relations between attitude by election helper childbirth ( p-value 0,023 ) Mother with knowledge high more choose helper childbirth non nakes. Attitude mums the positive test on the gestation period will affect someone in an election helper childbirth. Advised medic and public figures can society, in cooperation in turn of thought health workers to improve services with the class antenatal. Keywords : knowledge, attitude, helper childbirth Korespondensi : Ari Antini, S.ST. Poltekkes Kemenkes Bandung Prodi Kebidanan Karawang Jl. Kertabumi No.74 Karawang HP 081584341191 PENDAHULUAN Angka Kematian Bayi dan Angka Kematian Ibu di Indonesia masih cukup tinggi dibandingkan dengan negara ASEAN lainnya. Angka Kematian Ibu (AKI) sebagai salah satu indikator derajat kesehatan perempuan juga menjadi target pembangunan era millenium (MDGs) yang ke 5 yaitu meningkatkan kesehatan ibu. AKI tahun 2007 adalah 228 per 100.000 Kelahiran Hidup. Sedangkan Angka Kematian Bayi 35 per 1000 Kelahiran Hidup. Selain penyebab faktor obstetrik ternyata masih ada faktor lain yang diduga berperan yakni pemberdayaan perempuan yang tak begitu baik, latar belakang pendidikan, sosial ekonomi keluarga, lingkungan masyarakat, nilai budaya dan kondisi politik maupun kebijakan pemerintah. Salah satu faktor yang sangat mempengaruhi terjadinya kematian ibu maupun bayi adalah faktor pelayanan yang sangat dipengaruhi oleh kemampuan dan keterampilan tenaga kesehatan sebagai penolong pertama pada persalinan tersebut, di mana sesuai dengan pesan pertama kunci MPS (Making Pregnancy Safer) yaitu setiap persalinan hendaknya ditolong oleh tenaga kesehatan terlatih. Di samping itu, masih tingginya persalinan di rumah dan masalah yang terkait budaya dan perilaku dan tanda-tanda sakit pada neonatal yang sulit dikenali, juga merupakan penyebab kematian bayi baru lahir. Menurut Skinner dalam Notoatmodjo kesehatan seseorang sangat dipengaruhi oleh perilaku kesehatan seseorang itu sendiri. Pengetahuan merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang. Pengetahuan seseorang sangat memegang peranan penting dalam menentukan sikap. Sikap belum merupakan tindakan akan tetapi merupakan predisposisi perilaku. Departemen Kesehatan menetapkan target 90 persen persalinan ditolong oleh tenaga medis pada tahun 2010. Pada Tahun 2010 berdasarkan Riskesdas didapatkan hasil adanya trend penurunan persalinan oleh tenaga kesehatan yaitu 78,3 persen. Berdasarkan laporan profil KIA Kabupaten Karawang pada tahun 2010 cakupan linakes hanya 78,64 persen, lebih rendah dari target sebesar 90 persen. Hal ini menunjukkan bahwa masih banyak masyarakat di Kabupaten Karawang yang melakukan pertolongan persalinan dukun. Dari pertolongan persalinan oleh dukun ini menimbulkan berbagai masalah diantaranya partus lama mencapai 5 persen, infeksi 3,6 persen dan kematian bayi baru lahir 2 persen. Tahun 2011 cakupan linakes sebesar 91,68 persen dari target 90 persen, namun dari 48 Puskesmas di Kabupaten Karawang masih terdapat Puskesmas dengan cakupan linakes rendah sekaligus terendah yaitu Puskesmas Pangkalan dengan cakupan linakes sebesar 68,8 persen (2009), 73,2 persen (2010), dan 75,75 persen (2011), padahal program Jamkesmas dan Jampersal sudah dilaksanakan. Hal ini berdampak pada tingginya angka kematian bayi, berdasarkan data pelaksana KIA Puskesmas Pangkalan didapatkan terdapat 7 kematian bayi pada tahun 2010, 8 kematian bayi pada tahun 2011, dan 11 kematian bayi pada tahun 2012. Tujuan Penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan antara pengetahuan ibu dengan pemilihan penolong persalinan di wilayah kerja Puskesmas Pangkalan Kabupaten Karawang Menganalisis hubungan antara sikap ibu dengan pemilihan penolong persalinan di wilayah kerja Puskesmas Pangkalan Kabupaten Karawang METODE PENELITIAN Rancangan penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan rancangan case control. Penelitian ini merupakan rancangan penelitian yang membandingkan antara kelompok kasus dengan kelompok kontrol untuk mengetahui proporsi pemilihan penolong persalinan berdasarkan riwayat ada tidaknya paparan pengetahuan, sikap. Analisa data yang digunakan dalam penelitian ini adalah adalah chi-square. Variabel dalam penelitian ini terdiri dari variabel dependen dan variabel independen dimana pemilihan penolong persalinan merupakan variabel dependen yang dapat dipengaruhi oleh variabel independen yaitu pengetahuan dan sikap ibu. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu pasca salin baik yang ditolong oleh tenaga medis maupun tenaga non medis di wilayah kerja Puskesmas Pangkalan Kabupaten Karawang pada Tahun 2012. Besarnya sampel diperoleh 47 per kelompok, sehingga sampel yang digunakan dalam penelitian ini untuk kelompok kasus adalah 47 ibu pasca salin ditolong oleh tenaga non kesehatan pada tahun 2012 dan sebagai kelompok kontrol adalah 47 ibu pasca salin yang ditolong oleh tenaga kesehatan pada tahun 2012. Pengambilan sampel untuk kelompok kasus dan kontrol dalam penelitian ini menggunakan teknik stratified random sampling. Analisa data dilakukan secara komputerisasi dengan menggunakan perangkat lunak statistika dan dianalisis secara univariat untuk mendeskripsikan masing-masing variabel yang diteliti meliputi variabel terikat yaitu pemilihan penolong persalinan, variabel bebas yaitu pengetahuan dan sikap dimana hasilnya berupa distribusi frekuensi dan persentase. Analisis bivariabel digunakan untuk melihat hubungan antar variabel. Analisis yang digunakan untuk menguji signifikan dan tidaknya kedua variabel menggunakan uji chi square karena data berbentuk kategorik dengan tingkat kemaknaan (α) 0,05, apabila hasil uji statistik menunjukan p-value < (α) 0,05 maka dikatakan bahwa kedua variabel itu berhubungan. Untuk melihat derajat hubungan menggunakan ukuran rasio prevalens dan interval koefisiensi 95 persen. HASIL PENELITIAN Hasil Penelitian 1. Pengetahuan ibu tentang pemilihan penolong persalinan Tabel 1: Distribusi Frekuensi Pengetahuan Ibu tentang Pemilihan Penolong Persalinan di wilayah kerja Puskesmas Pangkalan Kabupaten Karawang Tahun 2012 Pengetahuan Frekuensi Persentase ( persen) Tinggi 57 61 Rendah 37 39 Total 94 100 2. Sikap ibu terhadap pemilihan penolong persalinan Tabel 2: Distribusi Frekuensi Sikap Ibu terhadap Pemilihan Penolong Persalinan di wilayah kerja Puskesmas Pangkalan Kabupaten Karawang Tahun 2012 Sikap Frekuensi Persentase ( persen) Positif 51 54 Negatif 43 46 Total 94 100 3. Pemilihan penolong persalinan Tabel 3: Distribusi Frekuensi Pemilihan Penolong Persalinan di wilayah kerja Puskesmas Pangkalan Kabupaten Karawang Tahun 2012 Penolong Persalinan Frekuensi Persentase ( persen) Nakes 47 50 Non Nakes 47 50 Total 94 100 4. Hubungan antara pengetahuan dengan pemilihan penolong persalinan Tabel 4: Hubungan antara Pengetahuan Ibu tentang Pemilihan Penolong Persalinan dengan Pemilihan Penolong Persalinan di di wilayah kerja Puskesmas Pangkalan Kabupaten Karawang Tahun 2012 Pengetahuan Pemilihan Penolong Persalinan Kemaknaan (p- value) Non Nakes Nakes N persen N persen 1. Tinggi 27 57 30 64 0,527 2. Rendah 20 43 17 36 5. Hubungan antara sikap dengan pemilihan penolong persalinan Tabel 5: Hubungan antara Sikap Ibu dengan Pemilihan Penolong Persalinan di di wilayah kerja Puskesmas Pangkalan Kabupaten Karawang Tahun 2012 Sikap Pemilihan Penolong Persalinan Kemaknaan (p- value) Non Nakes Nakes N persen N persen 1. Positif 20 43 31 66 0,023 2. Negatif 27 57 16 34 Pembahasan 1. Hubungan pengetahuan dengan pemilihan penolong persalinan Hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa ibu yang memiliki pengetahuan tinggi lebih banyak memilih penolong persalinan non Nakes dibandingkan pengetahuan rendah. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan pengetahuan Ibu dengan pemilihan penolong persalinan dengan nilai p=0,527. Hasil nilai Odds Ratio (OR (IK 95 persen))=0.765(0.334-1.754) artinya subjek yang memiliki pengetahuan rendah memilih penolong persalinan non nakes hanya 0,77 kali dibandingkan pengetahuan tinggi. Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan hasil penelitian Juliwanto di Aceh Tenggara didapatkan bahwa ibu yang memilih penolong persalinan oleh dukun 63,6 persen terdapat pada ibu yang berpengetahuan kurang, dibandingkan ibu dengan pengetahuan baik (14,8 persen). Hal ini berarti bahwa semakin baik pengetahuan ibu, maka semakin kecil kemungkinan memilih penolong persalinan oleh dukun. Hal ini juga tidak sejalan dengan hasil penelitian Yenita didapatkan responden dengan pengetahuaan rendah (37 persen) lebih memilih bersalin dengan dukun daripada responden dengan pengetahuan tinggi (13,2 persen), dan didukung hasil OR. Ibu bersalin yang memiliki tingkat pengetahuan rendah memiliki peluang 3,85 kali untuk memilih dukun sebagai penolong persalinannya dibandingkan dengan ibu yang memiliki tingkat pengetahuan tinggi. Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian Wahyudi dan Widiharti, faktor pengetahuan maternal kesehatan tidak mempengaruhi ibu hamil dalam memilih penolong persalinan di Desa Tambak Wilayah kerja Puskesmas Omben Kecamatan Omben Kabupaten Sampang, dengan hasil tingkat kemaknaan (ρ > α) yaitu (0.725 > 0.05). Pengetahuan merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang. Pengetahuan seseorang sangat memegang peranan penting dalam menentukan sikap. Pengetahuan tentang kehamilan yang rendah mempengaruhi pemilihan penolong persalinan. Menurut hasil penelitian, masih ada ibu-ibu yang mempunyai tingkat pengetahuan tinggi akan tetapi persalinanya masih ditolong oleh dukun, hal ini juga bisa disebabkan oleh faktor lain seperti sosial budaya dan pengaruh suami keluarga dimana memang sudah menjadi kebiasaan dalam keluarga ibu tersebut untuk melahirkan dengan dukun. Hal ini juga sejalan dengan pendapat Azwar (2006) bahwa pemanfaatan seseorang terhadap sarana pelayanan kesehatan dipengaruhi oleh sosial budaya. Dalam penelitian ini ibu dengan pengetahuan tinggi lebih banyak memilih penolong persalinan Non Nakes, hal ini dikarenakan faktor kebiasaan secara turun temurun yang diturunkan oleh keluarga, serta pandangan keluarga yang sangat dipegagng teguh oleh para ibu bahwa melahirkan di non Nakes lebih nyaman untuk ibu dan keluarga serta melahirkan di Nakes hanya untuk persalinan yang bermasalah. 2. Hubungan sikap dengan pemilihan penolong persalinan Hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukkan ibu yang memiliki sikap positip lebih banyak memilih penolong persalinan nakes dibandingkan sikap negatip. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa terdapat hubungan sikap Ibu dengan pemilihan penolong persalinan dengan nilai p=0,023. Hasil nilai Odds Ratio (OR (IK 95 persen))=0.382 (0.166-0.882) artinya subjek dengan sikap negatip 0.38 kali memilih penolong persalinan Non Nakes dibandingkan sikap positip. Sikap adalah merupakan reaksi atau respon tertutup seseorang terhadap stimulus atau objek tertentu, yang sudah melibatkan faktor pendapat dan emosi yang bersangkutan (senang-tidak senang, setuju-tidak setuju, baik-tidak baik, dan sebagainya). Menurut Campbell, sikap itu suatu sindrom atau kumpulan gejala dalam merespon stimulus atau objek, sehingga sikap itu melibatkan pikiran, perasaan, perhatian, dan gejala kejiwaan lainnya. Newcomb menyatakan bahwa fungsi sikap belum merupakan tindakan (reaksi terbuka) atau aktivitas, akan tetapi merupakan predisposisi perilaku (tindakan), atau reaksi tertutup. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Juliwanto di Aceh Tenggara didapatkan proporsi ibu yang memilih dukun bayi mayoritas mempunyai sikap kurang setuju (40 persen) dibandingkan ibu yang mempunyai sikap setuju (11,5 persen). Hasil uji chi square menunjukkan ada hubungan yang signifikan antara sikap ibu dengan pengambilan keputusan penolong persalinan (P<0,05). Menurut Erlina, sikap positif lebih banyak memanfaatkan tenaga kesehatan sebagai penolong persalinan dibandingkan sikap negatif. Demikian juga menurut Setiyadi, sikap akan menentukan responden dalam memilih penolong persalinan. Sikap banyak dipengaruhi oleh faktor pengetahuan, pendidikan dan lingkungan tempat tinggal. Sikap dan perilaku pada masa kehamilan akan mempengaruhi seseorang dalam pemilihan penolong persalinan, sikap juga sangat dinamis dan dapat dirubah. Jadi bila sikap negatif terhadap pemanfaatan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan itu dirubah dengan pendekatan yang baik dari petugas kesehatan maka akan meningkatkan pemanfaatan tenaga kesehatan sebagai penolong persalinan. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan 1. Tidak terdapat hubungan pengetahuan ibu dengan pemilihan penolong persalinan dilihat dari nilai p=0,527 2. Terdapat hubungan sikap ibu dengan pemilihan penolong persalinan dilihat dari nilai p=0,023 Saran Saran bagi petugas kesehatan dan tokoh masyarakat agar dapat berkerjasama dalam mengubah pemikiran masyarakat tentang kebiasaan-kebiasaan atau mitos-mitos yang berhubungan dengan kesehatan terutama pemilihan penolong persalinan Selain itu petugas kesehatan meningkatkan pelayanan dengan memberikan pelayanan pada masa kehamilan secara optimal, dan memberikan lefleat pada ibu hamil mengenai pentingnya kelas antenatal serta jadwal pelaksanaan DAFTAR PUSTAKA Dinas Kesehatan kabupaten Karawang. 2011. Profil Kesehatan Kabupaten Karawang tahun 2010. Karawang. Dinas Kesehatanan Kabupaten Karawang. 2012. Profil Kesehatan Kabupaten Karawang Tahun 2011. Karawang. Eryando T. 2006. Reason Behind the utilization of Maternal Helth Services. Departemen Kependudukan dan Biostatistik FKM, UI, Depok. Hernawati I. 2011. Analisis Kematian Ibu di Indonesia tahun 2010. Bandung Hidayat AA. 2011. Metode Penelitian Kebidanan dan Teknik Analisis Data. Jakarta: Salemba medika Juliwanto E. 2008. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Keputusan Memilih Penolong Persalinan Pada Ibu Hamil Di Kecamatan Babul Rahmah Kabupaten Aceh Tenggara Tahun 2008. TESIS. Kemenkes RI. Pedoman Pelaksanaan Kemitraan Bidan dan Dukun. _________. 2010. Angka Kematian Ibu Melahirkan. Diakses melalui http://www.kesehatanibu.depkes.go.id pada tanggal 15 Juni 2012 Nikelas Erlina. 2009. Hubungan Karakteristik Ibu Terhadap Pemanfaatan Pertolongan Persalinan Di Desa Setiris Kecamatan Maro Sebo Kabupaten Muaro Jambi Tahun 2007. Jurnal Ilmiah Universitas Batanghari Jambi: 9(1); 49. Notoatmodjo, S. 2010. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta. _________. 2010. Promosi Kesehatan teori dan Aplikasi. Jakarta: Rineka cipta _________.2010. Ilmu Perilaku Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta _________.2012.. Promosi Kesehatan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta: Rineka cipta Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) 2010. Setiyadi NA. 2009. The influencing factors of their choice auxilary of child birth benefactor in the blerong village district of guntur II and regency of Demak on 2001. Jurnal Profesi: 3; 13. UPTD Puskesmas Pangkalan Dinas Kesehatan Kabupaten Karawang. 2010. Laporan Pembangunan Desa. UPTD Puskesmas Pangkalan Dinas Kesehatan Kabupaten Karawang. 2011. Laporan Pembangunan Desa. UPTD Puskesmas Pangkalan Dinas Kesehatan Kabupaten Karawang. 2012. Laporan Pembangunan Desa. Wahyudi A, Widiharti. Faktor-faktor yang mempengaruhi ibu hamil dalam memilih penolong persalinan (dukun bayi dan bidan) di desa tambak wilayah kerja Puskesmas Omben Kecamatan Omben Kabupaten Sampang. Jurnal Infokes STIKES Insan Unggul Surabaya. Yenita, Sri. 2011. Faktor Determinan Pemilihan Tenaga Penolong Persalainan di Wilayah Kerja Puskesmas Desa Baru Kabupaten Pasaman Barat Tahun 2011. Tesis. ABSTRACT THE DIFFERENCES IN PAIN INTENSITY OF PRIMARY DYSMENORHEA BEFORE AND AFTER GIVEN CLASSICAL MUSIC DISTRACTION IN MIDWIFEY DIPLOMA PROGRAM KEDIRI 2011/2012. By: Estin Gita Maringga A Great pain during menstruation that occurs at age 15-25 without anatomical abnormalities is called primary dysmenorhea. One of non-pharmacological methods are easy, inexpensive, effective, and safe that can be used to reduce pain intensity of primary dysmenorhea by using classical music distraction. The purpose of this study was to determine the differences in pain intensity of primary dysmenorhea before and after given classical music distraction. This study use a pre experimental design with one-group pre-post test design, with population all student of Midwifey Diploma Program Kediri 2011/2012 which had primary dysmenorhea, by using technique total sampling, so in this study get sample counted 13 people. Data was gotten by using sheets of identical numerical analog pain scale completed by the respondent before and after given distraction classical music for 30 minutes, then analyzed using the wilcoxon matched pairs test. The results showed that there were 12 people (92,31 persen) experienced a decrease in pain intensity ( mild dysmenorhea) and there is one person (7,69 persen) with a fix intensity of pain (weight dysmenorhea) after the distraction of classical music. Analysed by using wilcoxon matched pairs test the obtainment for T count 3 < T table 17. This research found the differences in pain intensity before and after given classical music distraction to The Student of Midwifey Diploma Program Kediri 2011/2012. Recommendation from trhis research is use to classical music as a distraction method to reduce pain intensity of primary dysmenorhea mild-moderate. Key words: Pain intensity, primary dysmenorhea, classical music distraction Korespondensi: Estin Gita Maringga. Program Studi DIII Kebidanan STIKES Karya Husada Kediri Email: est.teenz88@gmail.com PENDAHULUAN Angka kejadian dismenorhoe di Amerika Serikat diperkirakan hampir 90 persen, dan 10-15 persen diantaranya mengalami dismenorhoe berat, yang menyebabkan mereka tidak mampu melakukan kegiatan apapun. Sedangkan dari sebuah penelitian yang dilakukaan di Kanada, dari 1.546 wanita yang mengalami menstruasi didapatkan 60 persen diantaranya mengalami dismenorhoe, 51 persen wanita yang mengalami dismenorhoe tersebut mengatakan membatasi aktivitasnya saat terjadi dismenorhoe, dan 17 persen dilaporkan tidak bisa hadir dalam aktivitas keseharian mereka (Dawood, M.Yusoff. 2006). Di Indonesia angka kejadian dismenorhoe sebesar 64.25 persen yang terdiri dari 54,89 persen dismenorhoe primer dan 9,36 persen dismenorhoe sekunder. Di Surabaya di dapatkan 1,07 persen-1,31 persen dari jumlah penderita dismenorhoe datang kebagian kebidanan. Terdapat berbagai cara untuk mengatasi dismenorhoe primer, baik secara farmakologis maupun non farmakologis (Batbual, Bringiwatty. 2010). Pengobatan secara farmakologis yang akhir-akhir ini sering dipakai , ternyata memberikan dampak negatif bagi tubuh, diantaranya dapat menimbulkan iritasi lambung, kolik usus, diare, leukopeni, dan serangan asma bronchiale (Tamsuri, Anas.2007). Salah satu cara non farmakologis yang dapat digunakan untuk mengurangi nyeri dismenorhoe primer adalah dengan teknik distraksi musik (Wigram, Anthony L. 2002). Teknik distraksi adalah pengalihan dari fokus perhatian terhadap nyeri ke stimulus yang lain. Teknik ini didasarkan pada teori bahwa aktivasi retikuler meghambat stimulus nyeri. Jika seseorang menerima input sensori yang berlebihan dapat menyebabkan terhambatnya impuls nyeri ke otak, dimana nyeri akan berkurang atau tidak dirasakan oleh klien (Tamsuri, Anas. 2007). Studi pendahuluan yang dilakukan pada 51 mahasiswa yang ada di lingkungan Prodi Kebidanan Kediri pada 27 Januari 2012, terdapat 29 mahasiswa (56 persen) mengatakan mengalami dismenorhoe primer. Dari 29 mahasiswa yang mengalami dismenorhoe primer tersebut, secara keseluruhan mengatakan suka mendengarkan musik. METODE PENELITIAN Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian pre eksperimental dengan one-group pra –post test design, yaitu dengan mengungkapkan hubungan sebab akibat dengan cara melibatkan satu kelompok subjek (Nursalam. 2008). Variabel independent dalam penelitian ini adalah distraksi musik klasik dan variabel dependentnya adalah Intensitas nyeri dismenorhoe primer. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah seluruh mahasiswi DIII di Prodi Kebidanan Kediri Tahun Akademik 2011/2012 yang mengalami dismenorhoe primer dan sesuai dengan kriteria inklusi dalam penelitian yaitu sejumlah 13 responden, Sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah total sampling (sampel jenuh). Penelitian ini menggunakan alat bantu berupa lembar observasi skala nyeri numerik 1-10, multimedia mini card speaker, earphone, MP3 musik klasik mozart, dan arloji, Pengambilan data pada penelitian ini dengan cara memberikan lembar observasi skala nyeri yang pertama pada responden dan mempersilahkan responden untuk mengisi skala nyeri pada lembar observasi, sesuai dengan tingkat nyeri yang dirasaknnya. Selanjutnya memposisikan responden pada tempat yang tenang dan nyaman (duduk bersandar atau tidur dalam posisi setengah duduk sesuai keinginan dan kenyamanan resoponden) dan memberitahukan responden untuk berkonsentrasi mendengarkan irama lagu musik mozart selama 30 menit. Memberikan earphone pada responden, dan meminta responden untuk memakainya di telinga, meyalakan musik klasik mozart dengan volume sesuai dengan tingkatan nyeri awal responden saat mengisi skala nyeri, jika nyeri ringan volume dikecilkan dan jika nyeri sedang-berat volume dinaikkan sesuai dengan kenyamanan pasien. Setelah 30 menit, memberikan lembar observasi skala nyeri yang kedua pada responden dan mempersilahakan responden untuk mengisinya. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian 1. Distribusi responden berdasarkan intensitas nyeri dismenorhoe sebelum dilakukan distraksi musik klasik Tabel 1: Data Distribusi Responden Berdasarkan Intensitas Nyeri Dismenorhoe Sebelum Dilakukan Distraksi Musik Klasik No. Kategori Frekuensi persen 1. Dismenorhoe Ringan 6 46,15 2. Dismenorhoe Sedang 6 46,15 3. Dismenorhoe Berat 1 7,7 Jumlah 13 100 2. Distribusi responden berdasarkan intensitas nyeri dismenorhoe sesudah dilakukan distraksi musik klasik Tabel 2: Data Distribusi Responden Berdasarkan Intensitas Nyeri Dismenorhoe Sesudah Dilakukan Distraksi Musik Klasik No. Kategori Frekuensi persen 1. Dismenorhoe Ringan 12 92,31 2. Dismenorhoe Sedang 0 0 3. Dismenorhoe Berat 1 7,69 Jumlah 12 100 3. Distribusi perubahan intensitas nyeri dismenorhoe sebelum dan sesudah dilakukan distraksi musik klasik Tabel 3: Data Distribusi Perubahan Intensitas Nyeri Dismenorhoe Sebelum dan Sesudah Dilakukan Distraksi Musik Klasik Kategori Sebelum dan Sesudah T X1 (f) persen X2 (f) persen t= 17 Dismenorhoe Ringan 6 46,15 12 92,31 Dismenorhoe Sedang 6 46,15 0 - Dismenorhoe Berat 1 7,69 1 7,69 Nilai t hitung berdasarkan Wilcoxon Matched Pairs Test Pada saat terjadi nyeri, jika digunakan teknik distraksi dengan mendengarkan musik klasik, maka input sensori yang akan dikirim ke otak adalah impuls musik dan nyeri yang akan dikirim secara bersamaan. Berdasarkan teori aktivasi retikuler, yaitu pada saat pengiriman impuls musik melebihi impuls nyeri, maka akan menyebabkan terhambatnya impuls nyeri yang akan dikirim ke otak, sehingga sensasi nyeri akan berkurang (Roux, FH.Lee. 2002). Penggunaan musik klasik sebagai salah satu metode distraksi dalam menurunkan intensitas nyeri memiliki efek yang tidak permanen seperti penggunaan metode farmakologis, namun begitu dari hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan musik tersebut direkomendasikan untuk digunakan di berbagai fasilitas kesehatan dalam membantu mereduksi nyeri (Greer, 2003). Hal ini disebabkan karena penggunaan musik sebagai metode distraksi memiliki beberapa keuntungan, yaitu metode distraksi musik merupkan metode yang mudah, murah, efektif dan tidak menimbulkan efek samping bagi setiap indivu, meningkatkan kenyamanan pasien, dan metode ini sebagai salah satu usaha untuk memberikan pendidikan kesehatan bagi setiap orang bahwa setiap orang bisa secara mandiri mengatasai nyeri dengan distraksi musik. Metode distraksi dengan mendengarkan musik klasik dalam menurunkan intensitas nyeri pada saat dismnenorhoe primer, bertujuan untuk mengalihkan perhatian seseorang terhadap nyeri yang dirasakan dengan mekanisme aktivasi retikuler. Namun, mekanisme tersebut tidak bisa digunakan untuk seseorang yang mengalami dismenorhoe dengan intensitas nyeri berat, karena impuls musik klasik mozart yang diberikan tersebut lebih kecil dibandingkan dengan impuls nyeri yang dirasakan. Sehingga, meskipun telah dilakukan teknik distraksi mendengarkan musik klasik mozart, seseorang yang mengalami dismenorhoe primer dengan intensitas nyeri yang berat tersebut tetap mengalami intensitas nyeri yang berat, bahkan tidak menutup kemungkinan bisa berubah menjadi intensitas nyeri yang lebih berat lagi. Oleh karena itu, sebagai bidan dalam menghadapi kasus dismenorhoe primer yang terjadi pada remaja perlu diperhatikan intensitas nyerinya terlebih dahulu. Jika pada awalnya seseorang mengalami dismenorhoe dengan intensitas nyeri ringan sampai sedang, maka penggunaan distraksi mendengarkan musik klasik ini perlu direkomendasikan dalam menurunkan intensitas nyerinya. Namun, jika dismenorhoe yang dirasakannya memiliki intensitas nyeri yang berat maka diperlukan suatu pengobatan farmakologis selain penggunaan teknik distraksi dalam menurunkan intensitas nyeri dismenorhoe primer. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Sebelum dilakukan distraksi musik klasik sebagian besar mengalami dismenorhoe primer dengan intensitas nyeri ringan sampai sedang dan sebagian kecil mengalami intensitas nyeri berat dan setelah dilakukan distraksi musik klasik sebagian besar mengalami dismenorhoe primer dengan intensitas nyeri ringan dan sebagian kecil tetap mengalami intensitas nyeri berat. Saran 1. Bagi tempat penelitian Diharapkan bagi tempat penelitian dapat merekomendasikan penggunaan distraksi musik klasik sebagai salah satu metode yang aman, mudah, murah, efektif, dan tanpa menimbulkan efek samping dalam menurunkan intensitas nyeri dismenorhoe primer bagi remaja. 2. Bagi peneliti selanjutnya Diharapkan pada peneliti selanjutnya bisa menggunakan hasil penelitian ini sebagai data awal untuk mengembangkan penelitian mengenai penggunan musik klasik yang dikombinasikan dengan metode non farmakologis lainnya dalam menurunkan intensitas nyeri dismenorhoe primer, sehingga penurunan intensitas nyeri tersebut bisa bersifat permanen dan dapat meminimalkan penggunaan metode pengobatan secara farmakologis. 3. Bagi institusi pendidikan Diharapakan hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai salah satu referensi bahan ajar mata kuliah Kesehatan Reproduksi dan Endokrinologi, khususnya yang terkait dengan penanganan masalah gangguan haid (dismenorhoe primer) secara non farmakologis. DAFTAR PUSTAKA Batbual, Bringiwatty. 2010. Hypnosis Hypnobirthing. Yogyakarta: Gosyen Publishing Campbell. 2002. The Mozart Effect. Jakarta: Gramedia Corwin, J Elizabeth. 2009. Buku Saku Patofisiologi Edisi ke-3. Jakarta: EGC Craty, Mc Rollin.2001. The Effect Of Different Types Of Music On Mood, Tension, And Mental Clarity: Columbia accessed 22nd January 2012 Dawood, M. Yusoff.2006. Primary Dysmenorrhea Advances In Pathogenesis And Management. American: The American College Of Obstericians And Gynecologist accessed 20th January 2012 Demir, Yurdanur. 2005. Non-Pharmacological Therapies in Pain Management. Turkey: Abant Izzet Baysal University, Bolu Health Sciences High School accessed 15th March 2012 Djohan. 2006. Terapi Musik Teori dan Aplikasi. Yogyakarta: Galangpress Erfandi. 2009. Konsep Terapi Musik. Jakarta: EGC Greer. 2003. The Effect of Music on Pain Perception. Austin State University accessed 24th September 2011 Harel. 2006. Dysmenorrhea in Adolescents and Young Adults: Etiology and Management. Journal of Pediatric and Adolescent Gynecology accessed 5th December 2011 Hillard, Paula J.Adams. 2006. Dysmenorrhea. Pediatrics in Review < http://pedsinreview.aappublications.org/content/27/2/64.full> accessed 5th December 2011 Lukman. 2008. Nyeri accessed 12nd Januari 2012 Manuaba. 2002. Kapita Selekta Penatalaksanaan Rutin Obstetric dan Ginekologi KB. Jakarta: EGC Maraiya.2009. Reduce Menstrual Cramp < http://www.wikihow.com/Reduce-Menstrual-Cramp >accessed 15th March 2012 Maria, Eva. 2008. Pengaruh Teknik Distraksi (Mendengarkan Musik) Terhadap Penurunan Nyeri Saat Menstruasi Hari Ke-1 Pada Mahasiswa Psikologi UMY.Yogyakarta: UMY accessed 15th March 2012 Mc. Kinney. 2002. Maternal Child Nursing. Philadelphia: WB.Saunders Co Memmott, Jenny E. 2002. The Effect Of Music-Assisted Progressive Muscle Relaxation On The Self Reported Symptoms Of Women With Primary Dysmenorrhea. Kansas: B.A The Universityof kansas accessed 15th March 2012 Mengel. 2007. Ambulatory Medicine The Primary Care of Family. Hipokrates: Jakarta Merritt, Stephanie. 2003. Simfoni Otak. Bandung: Kaifa Mucci, Kate & Richard Mucci. 2002. The Healing of Music Sound. Jakarta: Gramedia Notoatmodjo, Soekidjo. 2005. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta Nursalam. 2008. Konsep Dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika Potter, Perry. 2006. Fundamental Keperawatan. Jakarta: EGC Ramali, Ahmad. 2005. Kamus Kedokteran. Jakarta: Djambatan Roux, FH.Lee. 2002. Pain Management And Music. South African: Med Spec Publishing accessed 15th March 2012 Sipahutar, M.Adil. 2007. Tipe Nyeri dan Skala Intensitas Nyeri accessed 14th February 2012 Sugiyono. 2006. Statistika Untuk Penelitian. Bandung: Alfabeta Smeltzer & Bare. 2002. Keperawatan Medikal Bedah. Edisi 8 Vol I.Jakarta: EGC Tamsuri, Anas. 2007. Konsep Dan Penatalaksaan Nyeri. Jakarta: EGC Wigram, Anthony Lewis. 2002. The Effect Of Vibroacoustic Therapy On Clinical And Non Clinincal Population. London: ST. Georges Hospital Medical School accessed 15th March 2012 Wiknjosastro. 2005. Ilmu Kandungan. Jakarta: YBP-SP Yuliarti, Nurheti. 2009. A to Z Women Health And Beauty. Yogyakarta: C.V Andi Offset ABSTRACT CORELATION BETWEEN OF OLD TIES PRE-HOSPITAL TIME WITH INCREASING NUMBER OF GRANULOCYTES, LYMPHOCYTES, MONOCYTES AND PLATELETS WITH NEUROLOGICAL DEFICITS IN HYPERACUTE AND ACUTE PHASE AT ISCHEMIA STROKE PATIENTS IN BAYANGKARA KEDIRI HOSPITAL. By: Didit Damayanti1, Rinik Eko Kapti2, Edi Widjajanto3 Stroke the third leading cause of death in the developed world after heart disease and cancer. The role of Long pre-hospital time is preventing further complications by reducing the inflammatory process, which is one mechanism of ischemia in stroke patients. Cerebral inflammatory process leads to the activation of leukocytes and platelet components that can lead to further neurological deficits in stroke ischemia. This study uses descriptive correlation with the "cross-sectional", which connects the old pre-hospital time with an increasing number of granulocytes, lymphocytes, monocytes and platelets with neurological deficits in stroke ischemia in Bhayangkara Kediri Hospital. Eksidental sampling with sampling techniques and sample size of 56 respondents obtained. Spearman test using bivariate and multivariate linear regression test. Path Analysis test results obtained by koeficien of 0,609. The results showed there were about 60,9 persen the influence of old pre-hospital time with neurological deficits pass through the increase in the number of granulocytes. Analysis of the test results on the Spearman correlation get the most powerful is the increase in the number of granulocytes with neurological deficits with r (correlation) value of 0.801 and the lowest correlation is the relationship between the increase in the number of lymphocytes with neurological deficits with r (correlation) -0.203. It can be concluded that, the old pre-hospital time affect golden period in patients with stroke affecting the patient's neurologic deficits. The longer the pre-hospital phase of the inflammatory process resulting in increased cerebral activation of leukocytes and platelets that may aggravate neurologic deficits. Keywords: Pre-hospital, Golden Period, Neurological Deficit 1 Program Magister Keperawatan Gawat Darurat Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya 2 Laboratorium Patologi Klinik Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya 3 Program Magister Keperawatan Gawat Darurat Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya Korespondensi: Didit Damayanti Telp. 085640259584 Email: didit.damayanti@ymail.com PENDAHULUAN Menurut Ginsberg Lionel (2007), stroke adalah suatu keadaan yang terdiri dari tanda dan atau gejala hilangnya fungsi sistem syaraf pusat fokal atau global yang berkembang dengan cepat (dalam detik atau menit). Gejala-gejala ini berlangsung lebih dari 24 jam atau dapat menyebabkan kematian. Sedangkan menurut Syahrir (2003), stroke atau di sebut sebagai cerebrovasvular acident adalah suatu tanda klinis yang berkembang sangat cepat akibat gangguan fungsi otak fokal maupun global dengan gejala yang berlangsung selama 24 jam atau lebih dan dapat menyebabkan kematian. Stroke adalah penyakit non infeksi yang menempati urutan kedua penyebab kematian setelah setelah penyakit jantung pada sebagian besar negara di dunia (Adiputro, 2011) sedangkan menururt Ginsberg (2007), penyakit stroke merupakan penyebab kematian ketiga tersering di negara maju, setelah penyakit jantung dan kanker. Insiden setiap tahunnya adalah 2 per 1000 populasi. Kasus stroke tidak hanya meningkat di negara maju tetapi juga di negara- negara berkembang seperti Indonesia. Menurut Yayasan Stroke Indonesia (2012), menyebutkan bahwa angka kejadian stroke diperkirakan 200 per 100.000 penduduk dalam setahun. Stroke dapat terjadi di setiap usia, namun paling sering terjadi diatas usia 40 tahun, sehingga setiap peningkatan usia maka semakin tinggi resiko terjadinya stroke. Mass, Matthew et al. (2009) menjelaskan bahwa terdapat banyak mekanisme terjadinya iskemia pada pasien stroke di sistem saraf cerebral, antara lain trombosis, emboli, hipoperfusi sistemik, kerusakan arteri luminal dan kongesti vena cerebral. Menurut Adiputro (2011), menjelaskan bahwa agregasi trombosit memiliki peranan penting dalam pasien stroke. Selain penyebab diatas, terdapat faktor selular yang berperan pada proses terjadinya stroke diantaranya adalah pelepasan neurotransmiter akibat depolarisasi membran sel dan juga faktor inflamasi yang juga dapat menyebabkan infark pada jaringan perifer cerebral. Tsai et al. (2010), juga menjelaskan bahwa selama proses inflamasi, terdapat aktivitas leukosit terutama granulosit (neutrofil), limfosit dan monosit ikut berperan dalam patogenesis stroke akut selama fase kritis peradangan. Peningkatan jumlah leukosit terutama neutrofil, monosit dan limfosit merupakan salah satu pemeriksaan yang dapat mengidentifikasi patogenesis stroke akut. Stroke dapat menyebabkan infark pada jaringan serebral, sehingga besar kemungkinan pasien mengalami defisit neurologis (Hao et al. 2010). Menurut Bustami, Mursyid (2007), menerangkan bahwa stroke atau cerebrovascular disease merupakan keadaan emergency yang membutuhkan penanganan segera. Sehubungan dengan masalah ini, dituntut pengetahuan keluarga dalam mengidentifikasi dan memahami pentingnya waktu dalam mendapatkan pertolongan pada pasien dengan stroke. Dengan adanya pemahaman tentang pentingnya fase pre-hospital serta dengan memanfaatkan waktu emas (golden hour) 3 jam hendaklah diusakan memaksimalkan penanganan yang cepat dan tepat sehingga kerusakan otak lebih lanjut (defisit neurologis) dapat dicegah. Wippoid (2009) menjelaskan bahwa defisit neurologis adalah suatu kumpulan tanda dan gejala dari adanya gangguan lokalisasi sistem saraf pusat. Defisit neurologis dapat terjadi secara akut dan kronik serta dapat kembali pulih kembali seperti semula atau semakin memburuk. Defisit neurologi akibat stroke dapat menyebabkan masalah seperti kehilangan motorik, kehilangan komunikasi, gangguan persepsi, defisit intelektual, dan disfungsi kandung kemih. Untuk mencegah atau mengurangi defisit neurologis pada pasien stroke perlu adanya penanganan yang cepat. Lama waktu per-hospital pada pasien dengan stroke mempengaruhi golden periode pasien sehingga dapat menurunkan defisit neurologis yang akan terjadi dan juga menurunkan angka morbiditas serta mortalitas pada pasien stroke. METODE Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Deskriptif korelasi dengan pendekatan "cross sectional", yaitu menghubungkan antara lama waktu pre-hospital dengan peningkatan jumlah granulosit, limfosit, monosit dan trombosit dengan defisit neurologis pada pasien stroke ischemia di Rumah Sakit Bhayangkara Kediri. Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah aksidental sampling. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Penelitian dilakukan bulan Mei 2013 di ruang IGD RS Bhayangkara Kediri, Jawa Timur. Selama pelaksanaan penelitian didapatkan jumlah sampel sebesar 56 responden pasien stroke ischemia fase hiperakut dan fase akut. Tabel 1. Karakteristik Responden Variabel N Mean Min-Maks Lama waktu pre-hospital 56 20,01 ribu/mm3 2,05-74,3 ribu/mm3 Peningkatan jumlah granulosit 56 7,58 ribu/mm3 1,79-20,37 ribu/mm3 Peningkatan jumlah limfosit 56 2,11 ribu/mm3 0,74-11,02 ribu/mm3 Peningkatan jumlah monosit 56 0,43 ribu/mm3 0,17-2,57 ribu/mm3 Peningkatan jumlah trombosit 56 2,58/microliter 44-611 microliter Defisit neurologis 56 9,14 Feb-26 Tabel 2. Hasil Analisis Bivariat Variabel n r p value Lama waktu pre-hospital & peningkatan jumlah granulosit 56 0,765 0,000 Lama waktu pre-hospital & peningkatan jumlah limfosit 56 0,129 0,342 Lama waktu pre-hospital & peningkatan jumlah monosit 56 0,687 0,000 Lama waktu pre-hospital & peningkatan jumlah trombosit 56 0,24 0,075 Lama waktu pre-hospital & defisit neurologis 56 0,755 0,000 Peningkatan jumlah granulosit & defisit neurologis 56 0,801 0,000 Peningkatan jumlah limfosit & defisit neurologis 56 -0,203 0,133 Peningkatan jumlah monosit & defisit neurologis 56 0,57 0,000 Peningkatan jumlah trombosit & defisit neurologis 56 0,115 0,398 Tabel 3. Hasil Path Analisis Model Koefisien jalur R2 Sub Struktural (Y ke X1 X2 X3 X4) pY1X1 0,715 0,512 PY2X1 0,366 0,134 pY3X1 0,503 0,253 pY4X1 0,392 0,154 Sub Struktural (X1X2X3X4 ke Z1) pZ1Y1 0,852 0,747 pZ1Y2 -0,12 0,747 pZ1Y3 0,058 0,747 pZ1Y4 -0,044 0,747 Dari hasil analisis tabel 3 diatas dapat disimpulkan bahwa lama waktu pre- hospital berpengaruh langsung terhadap peningkatan jumlah granulosit dengan koefisien sebesar 0,715 (pada signifikansi 5 persen). Lama waktu pre-hospital berpengaruh langsung terhadap peningkatan jumlah limfosit dengan koefisien 0,366 (pada signifikansi 5 persen). Lama waktu pre-hospital berpengaruh langsung terhadap peningkatan jumlah monosit dengan koefisien sebesar 0,503 (pada signifikansi 5 persen). Dan lama waktu pre-hospital berpengaruh langsung terhadap peningkatan jumlah trombosit dengan koefisien 0,392 (pada signifikansi 5 persen). Dari hasil analisis tabel 3 juga dapat disimpulkan bahwa peningkatan jumlah granulosit berpengaruh langsung terhadap defisit neurologis dengan koefisien sebesar 0,852 (pada signifikansi 5 persen). Koefisien pengaruh langsung dan tidak langsung dihitung di bawah ini: Direc Effect Lama waktu pre-hospital----->jumlah granulosit = 0,715 Direc Effect jumlah granulosit----->defisit neurologis = 0,852 Indirec Effect Lama waktu pre-hospital ----->defisit neurologis = (0,715)x(0,852) = 0,609 Pada analisis diatas dapat disimpulkan bahwa lama waktu pre-hospital memiliki pengaruh tidak langsung lebih besar dengan defisit neurologis melalui peningkatan jumlah granulosit. Pembahasan 1. Hubungan lama waktu pre-hospital dengan peningkatan jumlah granulosit Dari tabel 2 terlihat bahwa lama waktu pre-hospital memiliki hubungan dengan peningkatan jumlah granulosit dan memiliki kekuatan korelasi yang kuat. Hal ini ditunjukkan dengan nilai Pvalue= 0,000 dan r= 0,765). Berdasarkan fakta tersebut maka jelas bahwa terdapat hubungan antara lama waktu pre-hospital dengan peningkatan jumlah granulosit pada pasien stroke iskemik fase akut dan hiperakut. Pada pasien dengan stroke iskemik terdapat proses kaskade iskemik yang terjadi selama berjam-jam sehingga terjadi pelepasan radikal babas dan rekruitmen faktor inflamasi salah satunya adalah granulosit (Shaheen, 2009). Menurut Pantoni et al.(1998), dan Nikonenko et.al.(2009), dalam jurnal Aggarwal et al.(2010), pada pasien dengan stroke terdapat aktivasi inflamasi dan juga rekruitmen faktor inflamasi seperti leukosit dan adhesi molekul. Leukosit, termasuk granulosit yang di dalamnya terdapat neutrofil dan makrofag memiliki konstribusi terhadap cedera jaringan selama proses stroke iskemik. Menurut Jin et al.(2010), menjelaskan bahwa faktor proinflamasi dan infiltrasi berbagai tipe sel inflamasi seperti granulosit (termasuk neutrofil), sel T, monosit/ makrofak dan lainnya ke dalam jaringan saraf yang mengalami inflamasi di produksi selama fase inflamasi. Leukosit mengalami level tertinggi di dalam darah antara 1 sampai 3 hari (Jin et al. 2010) sedangkan granulosit (nutrofil) mengalami peningkatan antara 24 sampai 72 jam (Hoffbrand, 2005). Hal ini sesuai dengan data lama waktu pre-hospital yang di dapatkan yaitu dengan nilai mean 20,01 jam yang hampir mendekati nilai peningkatan granulosit (neutrofil). Selain hal tersebut peningkatan jumlah granulosit pada pasien dengan stroke iskemik disini sampai mencapai 20, 37 ribu/mm3. Pada peneltian sebelumnya juga terdapat korelasi antara peningkatan jumlah granulosit pada pasien dengan stroke iskemik akut dengan nilai p value = 0,01 (Tsai et al. 2010). Dari hal ini dapat disimpulkan bahwa semakin lama pasien saat fase pre-hospital maka proses inflamasi pada stroke iskemik juga akan semakin meningkat sehingga terjadi aktivasi leukosit terutama granulosit (neutrofil). Leukosit akan dilepaskan di dalam sirkulasi perifer antara 3-6 jam, sedangkan granulosit (neutrofil) akan mencapai puncaknya selama 24 sampai 72 jam (Hoffbrand, 2005). Namun jika pasien memiliki lama waktu prehospital lebih dari 72 jam maka granulosit (neutrofil) akan mengalami penurunan sampai hari ke-tujuh, sehingga semakin lama waktu pre-hospital maka jumlah granulosit akan mengalami penurunan. 2. Hubungan lama waktu pre-hospital dengan peningkatan jumlah limfosit Dari tabel 2 terlihat bahwa lama waktu pre-hospital tidak memiliki hubungan dengan peningkatan jumlah limfosit. Hal ini ditunjukkan dengan nilai Pvalue= 0,342. Berdasarkan fakta diatas sesuai dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Grau et al. (2004) yang menjelaskan bahwa limfosit tidak memiliki hubungan dengan stroke iskemik dengan p value = 0,026. Pada pasien dengan stroke terdapat aktivasi inflamasi dan juga rekruitmen faktor inflamasi seperti leukosit (Pantoni et al. 1998 dan Nikonenko et al. 2009 dalam jurnal Aggarwal et al. 20010). Namun dalam penelitian ini limfosit memiliki kadar yang rendah di dalam sirkulasi perifer, hal ini sesuai dengan teori bahwa selama fase inflamasi stroke iskemik, limfosit banyak berada di kompartmen ekstravaskular di cerebral (Jin et al. 2010), selain hal tersebut limfosit ini juga lebih berperan atau mengalami peningkatan pada inflamasi kronik atau cedera jaringan yang sudah lama (Wu, Chien et al. 2013). Hal diatas sesuai dengan data, bahwa rata-rata jumlah limfosit pada penelitian ini adalah 2,112 ribu/mm3 pada lama waktu pre-hospital rata-rata 20,012 jam. Semakin lama waktu pre-hospital maka inflamasi dan cedera jaringan semakin kronik maka maka terdapat peningkatan jumlah limfosit. Sehingga dapat disimpulkan bahwa lama waktu pre-hospital tidak memiliki hubungan dengan peningkatan jumlah limfosit di dalam sirkulasi perifer selama proses inflamasi stroke iskemik akut. 3. Hubungan lama waktu pre-hospital dengan peningkatan jumlah monosit Dari tabel 2 terlihat bahwa lama waktu pre-hospital memiliki hubungan dengan peningkatan jumlah monosit dan memiliki kekuatan korelasi yang kuat. Hal ini ditunjukkan dengan nilai Pvalue= 0,000 dan r= 0,687). Berdasarkan fakta diatas maka jelas bahwa terdapat hubungan antara lama waktu pre-hospital dengan peningkatan jumlah monosit pada pasien stroke iskemik fase akut dan hiperakut. Hal ini sesuai dengan peneltian sebelumnya juga dijelaskan bahwa terdapat korelasi antara peningkatan jumlah monosit pada pasien dengan stroke iskemik dengan p value < 0,001 (Grau et al. 2004) Pada pasien dengan stroke iskemik terdapat proses kaskade iskemik yang terjadi selama berjam-jam sehingga terjadi pelepasan radikal babas dan rekruitmen faktor inflamasi salah satunya adalah monosit (Shaheen, 2009). Dalam proses inflamasi Monosit mengaktifkan cytokine dan oksida lainnya yang dapat mengiritasi endotelial pe,nulug darah (Wu, Chien et al. 2013) dan berada dalam sirkulasi dinding pembuluh darah serta mengalami migrasi ke serebral dalam 4 – 5 jam (Lakhan, Kirchgessner and Hofer, 2009). Data diatas sesuai dengan data lama waktu pre-hospital yang di dapatkan yaitu dengan nilai minimum maksimum antara 2,05 jam sampai 74,3 jam serta nilai yang sering muncul adalah 5 jam. Selain hal tersebut peningkatan jumlah monosit pada pasien dengan stroke iskemik disini sampai mencapai 2,57 ribu/mm3, sehingga dapat disimpulkan bahwa semakin lama pasien saat fase pre-hospital maka proses inflamasi pada stroke iskemik fase hiperakut dan akut akan semakin meningkat sehingga dapat menyebabkan aktivasi leukosit salah satunya adalah monosit. 4. Hubungan lama waktu pre-hospital dengan peningkatan jumlah trombosit Dari tabel 2 terlihat bahwa lama waktu pre-hospital tidak memiliki hubungan dengan peningkatan jumlah trombosit. Hal ini ditunjukkan dengan nilai Pvalue= 0,075 dan r= 0,240. Berdasarkan fakta dan teori diatas jelas bahwa tidak ada hubungan antara lama waktu pre-hospital dengan peningkatan jumlah trombosit karena peningkatan jumlah trombosit lebih banyak berperan pada pasien dengan stroke hemoragik (Kocaman et al. 2012). Aktivasi trombosit ini memiliki peranan yang penting dalam mekanisme kematian saraf di otak akibat trombosis. Selain hal tersebut juga dapat di dukung dengan data rata-rata jumlah trombosit pada pasien adalah 2, 58 ribu/ mikroliter darah. 5. Hubungan Lama Waktu Pre-Hospital Dengan Defisit Neurologis Dari tabel 2 terlihat bahwa lama waktu pre-hospital memiliki hubungan dengan defisit neurologis. Hal ini ditunjukkan dengan nilai Pvalue= 0,000 dan r= 0,755. Berdasarkan fakta dan teori diatas jelas bahwa semakin lama pasien stroke tidak mendapatkan penanganan maka semakin luas infark sehingga defisit neurologis akan meningkat. Hal ini di dukung oleh nilai rata-rata lama waktu pre-hospital 20,01 jam dan juga rata-rata pasien mengalami defisit sedang (skor NIHSS 9). Menurut Usman, Fritz (2012) dan juga Saver, Jeffrey et al. (2010) telah disebutkan bahwa masa golden period pada pasien dengan stroke adalah 3 jam pertama . Jika melebihi masa golden periode maka beresiko sekali terjadi peningkatan defisit neurologis pada pasien stroke. 6. Hubungan Peningkatan Jumlah Granulosit Dengan Defisit Neurologis Dari tabel 2 terlihat bahwa terdapat hubungan antara peningkatan jumlah granulosit dengan defisit neurologis pada pasien dengan stroke fase akut dan hiperakut, dengan kekuatan korelasi yang kuat. Hal ini ditunjukkan dengan nilai Pvalue= 0,000 dan r= 0,801). Berdasarkan fakta diatas maka jelas bahwa terdapat hubungan antara peningkatan jumlah granulosit dengan defisit neurologis pada pasien stroke iskemik fase akut dan hiperakut. Pada pasien dengan stroke iskemik terdapat proses kaskade iskemik yang terjadi selama berjam-jam sehingga terjadi pelepasan radikal babas dan rekruitmen faktor inflamasi salah satunya adalah granulosit (neutrofil) (Shaheen, 2009). Radikal bebas disini dapat menstimulasi terbentuknya sel pro inflamasi pada sel infark sehingga dapat menyebabkan semakin parahnya cedera dan kerusakan permanen jika tidak segera ditangani. Dari proses inflamasi tersebut jika tidak segera ditangani dapat menyebabkan defisit neurologis lebih lanjut. Hal ini terbukti dengan jumlah granulosit pada penelitian ini sampai mencapai 20, 37 ribu/mm3, dan juga skor nilai defisit neurologis rata-rata 9 (defisit neurologis sedang). 7. Hubungan peningkatan jumlah limfosit dengan defisit neurologis Dari tabel 2 terlihat bahwa tidak terdapat hubungan antara peningkatan jumlah limfosit dengan defisit neurologis pada pasien dengan stroke fase akut dan hiperakut. Hal ini ditunjukkan dengan nilai Pvalue= 0,133 dan r= - 0,203). Berdasarkan fakta diatas maka jelas bahwa limfosit merupakan komponen leukosit yang berperan dalam inflamasi kronik (Wu, Chien et al. 2013), sehingga jumlahnya sedikit pada pasien dengan stroke iskemik akut. Hal ini ditunjukkan dengan jumlah limfosit rata-rata 2,11 ribu/mm3. 8. Hubungan peningkatan jumlah monosit dengan defisit neurologis Dari tabel 2 terlihat bahwa peningkatan jumlah monosit memiliki hubungan dengan defisit neurologis dan memiliki kekuatan korelasi yang sedang. Hal ini ditunjukkan dengan nilai Pvalue= 0,000 dan r= 0,570). Berdasarkan fakta diatas maka jelas bahwa terdapat hubungan antara peningkatan jumlah monosit dengan defisit neurologis pada pasien stroke iskemik fase akut dan hiperakut. Pada pasien dengan stroke iskemik terdapat proses kaskade iskemik yang terjadi selama berjam-jam sehingga terjadi pelepasan radikal babas dan rekruitmen faktor inflamasi salah satunya adalah monosit (Shaheen, 2009). Proses inflamasi ini dapat menyebabkan semakin luas infark dan semakin meningkat defisit neurologis. Hal ini tampak dari peningkatan jumlah monosit pada pasien dengan stroke iskemik disini sampai mencapai 2,57 ribu/mm3. Pada peneltian sebelumnya juga terdapat korelasi antara peningkatan jumlah monosit pada pasien dengan stroke iskemik (Grau et al. 2004). Dari hal ini dapat disimpulkan bahwa semakin lama proses inflamasi pada stroke iskemik sehingga terjadi aktivasi leukosit salah satunya adalah monosit, dan hal ini dapat menyebabkan defisit neurologis lebih lanjut. 9. Hubungan peningkatan jumlah trombosit dengan defisit neurologis Dari tabel 2 terlihat bahwa lama waktu pre-hospital tidak memiliki hubungan dengan peningkatan jumlah trombosit. Hal ini ditunjukkan dengan nilai Pvalue= 0,398 dan r= 0,115. Berdasarkan fakta dan teori diatas jelas bahwa tidak ada hubungan antara peningkatan jumlah trombosit dengan defisit neurologis karena peningkatan jumlah trombosit lebih banyak terjadi pada pasien dengan stroke hemoragik (Kocaman et al. 2012). Menurut Sutedjo (2007), menjelaskan bahwa trombosit adalah suatu komponen darah yang berfungsi dalam proses pembekuan darah. Aktivasi trombosit memiliki peranan yang penting dalam mekanisme kematian saraf otak dan patogenesis trombosis akut (Kocaman et al. 2012). Selain hal tersebut juga dapat di dukung dengan data rata-rata jumlah trombosit pada pasien adalah 2, 58 ribu/ mikroliter darah. 10. Prediksi faktor - faktor yang berhubungan dengan defisit neurologis Berdasarkan tabel 3 didapatkan hasil bahwa lama waktu pre-hospital memiliki hubungan yang paling besar dengan defisit neurologis melalui peningkatan jumlah granulosit. Peningkatan jumlah granulosit memiliki pengaruh yang signifikan pada hubungan lama waktu pre-hospital dengan defisit neurologis pada pasien stroke ischemia fase hiperakut dan akut di RS Bhayangkara Kediri dengan nilai koefisien 0,609 (60,9 persen). Berdasarkan fakta diatas jelas bahwa faktor yang paling berhubungan dengan defisit neurologis adalah peningkatan jumlah granulosit dari pada peningkatan jumlah limfosit, monosit dan trombosit. Hal tersebut sesuai dengan penelitian Grau, Armin et al. (2004) dan Wu, Chien et al (2013) yang menjelaskan bahwa komponen leukosit yang berperan dalam proses inflamasi pada pasien stroke iskemik fase hiperakut dan akut adalah granulosit. Respon inflamasi serebral setelas post iskemik yaitu teraktivasinya atau infiltrasi sel inflamasi seperti granulosit, limfosit T dan monosit (Jin et al. 2010). Granulosit adalah komponen polimorfonuklear yang paling berperan pada saat fase iskemia akut pasien stroke iskemik (Hoffbrand, 2005). Granulosit (neutrofil) ini terstimulasi setelah 24 sampai 72 jam paska infark (Hoffbrand, 2005). Hal tersebut sesuai dengan jumlah granulosit pada penelitian ini sampai mencapai 20, 37 ribu/mm3, dan juga skor nilai defisit neurologis rata-rata 9 (defisit neurologis sedang). Pada pasien dengan stroke iskemik terdapat proses inflamasi yang memiliki peranan yang penting pada pathogenesis stroke iskemik dan cedera saraf. Menurut Dongoran dan Rosa (2007) menjelaskan bahwa proses inflamasi ini diawali dengan plugging dan eksaserbasi blood brain barier. Pada proses plugging terdapat pelepasan mediator vasokonstriksi pada endotel sehingga menyebabkan penurunan perfusi ke serebral, sedangkan pada proses eksaserbasi blood brain barier terdapat pelepasan enzim hidrolitik, proteolitik dan produksi radikal bebas yang merupakan efek dari leukosit sehingga menyebabkan gangguan pada perfusi vaskular (Dongoran dan Rosa, 2007). Dari proses diatas, peningkatan jumlah granulosit (neutrofil) teraktivasi selama proses inflamasi. Proses inflamasi ini dapat menyebabkan serangkaian proses yang dapat meyebabkan gangguan pada perfusi serebral sehingga dapat menurunkan suplai O2 di serebral. Hal ini jika tidak segera tertangani maka dapat menyebabkan defisit neurologis pada pasien dengan stroke iskemik fase hiperakut dan fase akut. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa faktor yang paling kuat hubungannya dengan defisit neurologis adalah peningkatan jumlah granulosit (neutrofil) pada pasien stroke iskemik fase hiperakut dan akut dengan p value = 0,000 yaitu p value < 0,05 dan nila R Square (R2) sebesar 0,738 menunjukkan bahwa ada sekitar 73,8 persen hubungan peningkatan jumlah granulosit dengan defisit neurologis setelah di kontrol oleh variabel lainnya (peningkatan jumlah limfosit dan monosit). Saran Demi perbaikan hasil penelitian, disarankan untuk melakukan penenlitian tentang komponen inflamasi lainnya yang berperan dalam stroke ischemia dan penelitia tentang faktor-faktor pre-hospital yang berperan dalam meningkatkan kualitas hidup pasien. DAFTAR PUSTAKA Adiputra, Hendra. 2011.Perbandingan Agregasi Trombosit Pasien Stroke Iskemik yang Diberikan Anto Agregasi dengan pasien Stroke Iskemik Kasus Baru. USU Institutional Repository. Universitas Sumatra Utara. Aggarwal Ashu et al.2010. Cerebral Ischemic Stroke: Sequels of Cascade. International journal of Pharma and Bio Science. ISSN: 0975-6299. Grau, Armin J et al. 2004. Leucocyte Count as an Independent Predictor of Recurrent Ischemic Events. AHA Journal. Doi: 10.1161/01.STR.0000124122.71702.64. ISSN: 0039-2499. Hao. Q, Leung et al. 2010. The Significance of Microembolic Signals and New Cerebral Infarct on the Progression of neurological Deficit In Acute Stroke Patients with Large Artery Stenosis. 29. 424-430. Doi: 10.1159/000289345. Jin, Rong et al. 2010. Inflammatory Mechanisms in Ischemic Stroke: Role of Inflammatory Cells. Journal of Leucocyte Biology. Doi: 10.1189/jlb.1109766. Kocaman, Umit et al. 2012. The Role Thrombocyte Activation on Early Brain Injury in Experimental Subarachnoid hemorrhage Model. Journal of Neurological Science (Turkish). Doi: 29(4)#33;714-721. Lakhan, Shaheen E et al. 2009. Inflammatory Mechanisms in Ischemic Stroke: Therapetic Approaches. Journal of Translational Medicine. Doi: 10.1186/1479-5676-7-97. Tsai Nai-Wen et al. 2010. Leucocyte Apoptosis in patients With Acute Ischemic Stroke. Clinical and Experimental Pharmacology and Physiology. Doi: 10.1111/j.1440-1681.2010.05398.x. Sjahrir, H. 2003. Stroke Iskemik. Medan: Yandira Agung. Sutedjo. 2006. Buku Saku Mengenal Penyakit Melalui Hasil pemeriksaan Laboratorium. Yogyakarta: Amara Books. Saver, Jeffrey L et al. 2010. The “Golden Hour” and Acute Brain Ischemic: Presenting Features and Lytic Therapy in> 30 000 Patients Arriving Within 60 Minutes of Stroke Onset. AHA Journal. Doi: 10.1161/STROKEAHA.110.583815. ISSN: 0039-2499. Tsai. Nai-Wen, Chang. Wen-Neng et al. 2010. Leucocyte Apoptosis in patients with Acute Ischemic Stroke. 37: 884-888. Doi: 10.1111/j.1440.2010.05398.x. Wippoid. 2008. Focal Neurologic Deficit. AJNR Am J Neurologic. 29: 1998-2000 Wu, Tzy-haw et al. 2013. Total White Blood Cell Count or Neutrophil Count Predict Ischemic Stroke Events Among Adult taiwanese: Report from a Community- Based Cohort Study. BMC Neurology. Doi: 10.1186/1471-2377-13-7. ABSTRACT DESCRIPTION OF FACTORS AFFECTING DYSMENORRHEA ON VII GRADE STUDENTS OF STATE ISLAMIC JUNIOR HIGH SCHOOL KANIGORO KRAS KEDIRI By: Nyta Ellisa Muttaqin1, Qorinah Estiningtyas Sakilah Adnani2, Neny Triana3 Dysmenorrhea is one of gynecological disorders which causes uncomfortable feeling on girls while in their period time. Factors that consist of nutrient status and anxiety level can make heavier dysmenorrhea. Therefore, take actions to prevent and handling dysmenorrhea is needed. To prevent dysmenorrhea is possible with giving an explanation to the clients about the process of menstruation and dysmenorrhea also recommend them to have enough rest and exercise. The objective of this research is to identify description of factors affecting dysmenorrhea on VII grade students of State Islamic Junior High School Kanigoro, Kras, Kediri. Research method used descriptive with one variable which is the affecting factors of dysmenorrhea. Population in this research were all of the VII grade students State Islamic Junior High School Kanigoro, Kras, Kediri, who experience dysmenorrhea disorder as many as 132 students, and then sample were taken with size of 99 respondents. Research was held on 8th of Decembers 2012 and 24th,26th,27th of Decembers 2012. Sampling technique that used proportionate stratified random sampling. Research result data were collected by using questionnaire, then tabulating given score then percentage. From result of research got almost half from respondent that is 40 respondents (40 persen) experiences dysmenorrhea that effect by anxiousness and most of respondent that was 57 respondents (58 persen) experiences dysmenorrhea that effect by nutrient status. Most of the respondents are having thin nutrient status. Body deficiency in weight can cause dysmenorrhea, that’s because there is only a little fat network then it causes hipoplation on blood vessel, reducing the durability to pain. Dysmenorrhea is caused by the imbalance of autonomous nerve to miometrium, causing excessive stimulation on sympatic nerve, making circularly fiber on istmus and istium uteri internum become hypertonic. Key words : factors, affecting, dysmenorrhea ¹Program Studi DIII Kebidanan STIKES Karya Husada Kediri ² Dosen Program Studi DIII Kebidanan STIKES Karya Husada Kediri ³ Dosen Program Studi DIII Keperawatan STIKES Karya Husada Kediri Korespondensi: Qorinah Estinningtyas Sakilah Adnani Email: Qorinahestiningtyas.yahoo.co.id PENDAHULUAN Menstruasi adalah siklus alami yang terjadi secara regular untuk mempersiapkan tubuh perempuan setiap bulannya terhadap kehamilan. Menstruasi biasanya diawali pada usia remaja, 9-12 tahun. Ada sebagian kecil yang mengalami lebih lambat dari itu, 13-15 tahun meski sangat jarang terjadi. Cepat atau lambatnya usia untuk mulai menstruasi sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor, misalnya kesehatan pribadi perempuan yang bersangkutan, nutrisi, berat badan, dan kondisi psikologis serta emosionalnya. Menstruasi akan terjadi 3-7 hari. Rata-rata perempuan mengalami siklus menstruasi selama 21-40 hari. Hanya sekitar 15 persen perempuan yang mengalami siklus menstruasi selama 28 hari (Anurogo & Wulandari, 2011: 10-17). Banyak dysmenorrhea merasa sakit ketika menstruasi, keluhan ini disebut dysmenorrhea dan biasanya baru timbul 2 atau 3 tahun sesudah menarche (Jones, 2009: 38). Rata-rata lebih dari 50 persen perempuan di setiap Negara mengalami dysmenorrhea. Di Amerika angka presentasenya sekitar 60 persen dan di Swedia sekitar 72 persen. Sementara di Indonesia angkanya diperkirakan 55 persen perempuan usia produktif yang tersiksa oleh dysmenorrhea selama menstruasi. Angka kejadian (prevalensi) dysmenorrhea berkisar 45-95 persen di kalangan perempuan usia produktif (Proverawati dan Misaroh, 2009: 83). Faktor-faktor psikogenik seperti stress emosional dan ketegangan yang dihubungkan dengan sekolah atau pekerjaan dapat memperberat nyeri dysmenorrhea (Lowdermilk, 2005: 989). Selain itu, faktor yang dapat menimbulkan dysmenorrhea primer adalah status gizi. Overweight merupakan faktor resiko dari dismenore primer (Anurogo & Wulandari, 2011: 56). Namun di sisi lain ternyata seseorang dengan underweight juga dapat mengalami dismenore primer (Boriboonhirunsarn dkk, 2004). Di Amerika Serikat, prevalensi dysmenorrhea diperkirakan 45-90 persen. Tingginya angka tersebut diasumsikan dari berbagai gejala yang belum dilaporkan. Banyak perempuan yang membeli obat sendiri dan tidak berkunjung ke dokter. Dysmenorrhea juga bertanggung jawab atas ketidakhadiran saat bekerja dan sekolah, sebanyak 13-51 persen perempuan telah absen sedikitnya sekali, dan 5-14 persen berulang kali absen. Kerugian ekonomi di Amerika Serikat tiap tahun dari kasus dysmenorrhea diperkirakan mencapai 600 juta jam kerja dan 2 miliar dolar. Jumlah ini akan terus bertambah setiap tahun dengan banyak permasalahan psikologis kejiwaan yang tidak terselesaikan secara tuntas (Anurogo dan Wulandari, 2011: 37-38). Dalam studi epidemiologi pada populasi remaja (berusia 12-17 tahun) di Amerika Serikat, Klein dan Litt melaporkan prevalensi dysmenorrhea 59,7 persen. Dari mereka yang mengeluh nyeri, 12 persen berat, 37 persen sedang, dan 49 persen ringan. Studi ini juga melaporkan bahwa dysmenorrhea menyebabkan 14 persen remaja putri sering tidak masuk sekolah. Masih di Amerika Serikat, puncak insiden dysmenorrhea primer terjadi pada akhir masa remaja dan di awal usia 20-an. Insiden dysmenorrhea pada remaja putri dilaporkan sekitar 92 persen. Insiden ini menurun seiring dengan bertambahnya usia dan meningkatnya kelahiran. Studi longitudinal dari Swedia melaporkan dysmenorrhea pada 90 persen perempuan yang berusia kurang dari 19 tahun dan 67 persen perempuan yang berusia 24 tahun (Anurogo dan Wulandari, 2011: 38). Kondisi di Indonesia, lebih banyak perempuan yang mengalami dysmenorrhea tidak dilaporkan atau berkunjung ke dokter. Rasa malu ke dokter dan kecenderungan untuk meremehkan penyakit sering membuat data penderita penyakit tertentu di Indonesia tidak dapat dipastikan secara mutlak. Boleh dikatakan 90 persen perempuan Indonesia pernah mengalami dysmenorrhea. Jumlah penderita yang ada di lapangan selalu lebih banyak dari laporan yang bisa diklaim oleh Dinas Kesehatan dan instansi terkait (Anurogo dan Wulandari, 2011: 39). Hasil penelitian yang dilakukan Gunawan (2002) di empat SLTP di Jakarta menunjukkan bahwa kejadian nyeri menstruasi ditemukan tinggi pada siswi SLTP dengan faktor gizi kurang, kurang melakukan kegiatan fisik, siswi dengan kecemasan sedang sampai berat. Berdasarkan data yang didapatkan dari UKS (Unit Kesehatan Sekolah) MTsN Kanigoro Kecamatan Kras Kabupaten Kediri didapatkan bahwa dari 193 siswi kelas VII tahun 2012 yang pernah mengalami dysmenorrhea sebanyak 132 siswi (68,39 persen). Mengingat begitu banyak para remaja yang mengalami dysmenorrhea, sedangkan pada usia remaja mereka sedang berada dalam masa proses pembelajaran di sekolah, dikhawatirkan dysmenorrhea akan mengganggu aktifitas mereka. Hal ini sesuai dengan pernyataan Permasalahan nyeri menstruasi adalah permasalahan yang paling sering dikeluhkan saat perempuan datang ke dokter berkaitan dengan menstruasi. Kondisi ini bertambah parah bila disertai dengan kondisi psikis yang tidak stabil, seperti stres, depresi, cemas berlebihan, dan keadaan sedih atau gembira yang berlebihan (Anurogo dan Wulandari, 2011: 31). Untuk faktor status gizi terhadap dysmenorrhea hal ini sesuai dengan perempuan yang tubuhnya sangat gemuk atau kurus. Hal ini bisa memengaruhi siklus menstruasinya karena sistem metabolisme didalam tubuhnya tidak bekerja dengan baik (Proverawati & Misaroh, 2009: 80). Oleh karena itu diperlukan tindakan pencegahan dan penanganan dysmenorrhea. Penanganan dysmenorrhea dapat dengan memberikan penjelasan kepada klien tentang proses haid dan dysmenorrhea serta menganjurkan klien untuk istirahat dan olahraga yang cukup. METODE PENELITIAN Pada penelitian ini desain yang digunakan adalah deskriptif yaitu prosedur pemecahan masalah yang diselidiki menggambarkan atau melukiskan keadaan subyek atau obyek penelitian pada saat sekarang, berdasarkan faktor yang ada. Variabel yang digunakan dalam variabel ini adalah variabel mandiri yaitu variabel yang tidak dipengaruhi oleh variabel yang lain. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah faktor-faktor yang mempengaruhi dysmenorrhea. Sampel pada penelitian ini adalah 99 siswi kelas VII tahun 2012 pada tanggal 8, 24, 26 Desember 2012 di MTsN Kanigoro Kecamatan Kras Kabupaten Kediri yang mengalami dysmenorrhea. Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan teknik proportionate stratified random sampling yaitu suatu cara pengambilan sampel yang digunakan bila anggota populasinya homogen atau berstrata secara proporsional (Hidayat, 2007: 73). HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian 1. Status gizi Tabel 1: Status gizi No Status gizi Frekuensi Prosentase 1. Gemuk 4 4,04 persen 2. 3. Normal Kurus 39 56 39,39 persen 56,57 persen Jumlah 99 100 persen 2. Tingkat kecemasan Tabel 2: Tingkat kecemasan No Tingkat Kecemasan Frekuensi Prosentase 1. Berat 11 11,11 persen 2. 3. 4. Sedang Ringan Tidak cemas 40 38 10 40,40 persen 38,38 persen 10,11 persen Jumlah 99 100 persen Pembahasan Pada remaja putri, kematangan organ-organ seksnya ditandai dengan tumbuhnya rahim, vagina dan ovarium secara cepat. Ovarium menghasilkan ovum (telur) dan mengeluarkan hormon – hormon yang diperlukan untuk kehamilan, menstruasi dan perkembangan seks sekunder. Pada masa inilah (sekitar usia 11-15 tahun), untuk pertama kalinya remaja putri mengalami menarche (menstruasi pertama). Menarche diikuti oleh menstruasi yang terjadi dalam interval yang tidak beraturan. Untuk jangka waktu 6 bulan sampai satu tahun atau lebih, ovulasi mungkin tidak selalu terjadi. Menstruasi awal sering ditandai dengan sakit kepala, sakit punggung, kadang-kadang kejang, serta merasa lelah, depresi, dan mudah tersinggung. Masa remaja merupakan masa yang sangat penting dalam setiap perkembangan manusia. Adanya salah interpretasi dan perubahan yang terjadi pada masa remaja ini akan dapat menyebabkan terjadinya masalah kesehatan, kejiwaan, tingkah laku dan kepribadian. Masalah gizi pada remaja timbul karena perilaku gizi yang salah, yaitu ketidakseimbangan antara konsumsi gizi dengan kecukupan gizi yang dianjurkan. Remaja putri sering melewatkan dua kali waktu makan dan lebih memilih camilan. “Makanan sampah” (junk food) kini semakin digemari oleh remaja, baik sebagai camilan maupun untuk konsumsi makan sehari-hari. Disebut makanan sampah karena sangat sedikit (bahkan ada yang tidak sama sekali) mengandung kalsium, zat besi, riboflavin, asam folat, vitamin A dan C, sementara kandungan lemak jenuh, kolesterol, dan natrium tinggi. Proporsi lemak sebagai penyedia kalori lebih 50 persen total kalori yang terkandung dalam makanan itu (Arisman, 2004). Responden yang mengalami dysmenorrhea sebagian besar (56,57 persen) termasuk dalam status gizi kurus. Hal ini menunjukkan status gizi berpengaruh terhadap kejadian dysmenorrhea. Kekurangan berat badan dapat mengakibatkan dysmenorrhea, karena di dalam tubuh orang yang mempunyai kekurangan berat badan terdapat sedikit jaringan lemak yang dapat mengakibatkan hipoplasi pembuluh darah (relaksasi pembuluh darah oleh jaringan lemak) pada organ reproduksi perempuan sehingga menurunkan ketahanan terhadap rasa nyeri. Faktor konstitusi merupakan penyebab nyeri menstruasi. Faktor ini, yang erat hubungannya dengan faktor tersebut di atas, dapat juga menurunkan ketahanan terhadap rasa nyeri. Faktor-faktor seperti anemia, penyakit menahun, dan sebagainya dapat memengaruhi timbulnya dysmenorrhea (Hanifa, 2005). Hal ini sesuai dengan pernyataan perempuan yang tubuhnya sangat gemuk atau kurus. Hal ini bisa memengaruhi siklus menstruasinya karena sistem metabolisme didalam tubuhnya tidak bekerja dengan baik, sehingga siklus menstruasinya pun akan terganggu (Proverawati & Misaroh, 2009: 80). Selain itu, faktor yang dapat menimbulkan dysmenorrhea adalah status gizi. Overweight merupakan faktor resiko dari dysmenorrhea (Anurogo & Wulandari, 2011: 56). Namun di sisi lain seseorang dengan underweight juga dapat mengalami dismenore primer (Boriboonhirunsarn dkk, 2004). Untuk menentukan status gizi dapat menggunakan indeks massa tubuh dengan formulasi penentuan membagi berat badan dengan tinggi badan kuadrat. Pada usia remaja biasanya telah mengalami perbaikan gizi dan adanya kesadaran tentang pola hidup sehat sehingga mempengaruhi Indeks Massa Tubuh yang normal (Notoatmojo, 2007). Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa dysmenorrhea dipengaruhi oleh status gizi. Pada hasil peneltian didapatkan lebih banyak yang mengalami dysmenorrhea dengan status gizi kurus. Hasil penelitian ini sama dengan penelitian yang dilakukan oleh Susanto, Nasrudin, dan Abdulloh yang menemukan adanya hubungan antara status gizi terhadap dysmenorrhea. Selain itu penelitian yang mendukung dilakukan oleh Yustiana pada tahun 2009 bahwa terdapat hubungan antara status gizi dengan keluhan dysmenorrhea. Penelitian yang dilakukan Gunawan pada tahun 2002 di empat SLTP di Jakarta menunjukkan bahwa nyeri menstruasi ditemukan tinggi pada siswi SLTP dengan faktor gizi kurang. Hasil dari penelitian ini dengan demikian sesuai dengan teori yang ada. Sedangkan dari hasil penelitian yang telah dilakukan sebagian besar perempuan yang mengalami dysmenorrhea termasuk dalam status gizi kurang. Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan, gambaran faktor-faktor yang mempengaruhi dysmenorrhea pada siswi kelas VII MTsN Kanigoro Kecamatan Kras Kabupaten Kediri dengan status gizi kurus. Kecemasan dapat timbul dari beberapa faktor, diantaranya faktor-faktor yang mempengaruhi kecemasan yaitu pertama, faktor interpersonal yang dapat menimbulkan kecemasan akibat ketidakmampuan berhubungan dengan diri sendiri karena tidak dapat memecahkan suatu masalah dalam dirinya. Kedua, faktor keluarga merupakan faktor yang penting yang dapat menimbulkan kecemasan karena di dalam suatu keluarga terdiri dari beberapa orang yang mempunyai sifat yang berbeda sehingga akan mempunyai pendapat yang berbeda, perbedaan pendapat itulah yang dapat menimbulkan kecemasan (Stuart dan Sundeen, 1998: 179). Ketiga, faktor perilaku yang tidak kalah pentingnya dalam menimbulkan kecemasan karena kecemasan dapat berasal dari sifat putus asa seseorang terhadap sesuatu keinginan yang tidak dapat tercapai misalnya seseorang tidak mendapat nilai terbaik dari ujian yang sudah dijalani (Suliswati, 2005: 111-112). Tubuh bereaksi saat mengalami kecemasan, faktor kecemasan ini dapat menurunkan ketahanan terhadap rasa nyeri. Tanda pertama yang menunjukkan keadaan kecemasan adalah adanya reaksi yang muncul yaitu menegangnya otot tubuh individu dipenuhi oleh hormon stress yang menyebabkan tekanan darah, detak jantung, suhu tubuh, dan pernafasan meningkat. Di sisi lain saat cemas tubuh akan memproduksi hormon adrenalin, estrogen, progesteron serta prostaglandin yang berlebihan. Estrogen dapat menyebabkan peningkatan kontraksi uterus secara berlebihan, sedangkan progesteron bersifat menghambat kontraksi. Peningkatan kontraksi secara berlebihan ini menyebabkan rasa nyeri. Selain itu hormon adrenalin juga meningkat sehingga menyebabkan otot tubuh tegang termasuk otot rahim dan dapat menjadikan nyeri ketika menstruasi (Isnaeni, 2010). Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan, gambaran faktor-faktor yang mempengaruhi dysmenorrhea pada siswi kelas VII MTsN Kanigoro Kecamatan Kras Kabupaten Kediri dengan tingkat kecemasan sedang. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Dari hasil penelitian yang dilaksanakan di MTsN Kanigoro Kecamatan Kras Kabupaten Kediri didapatkan kesimpulan gambaran faktor-faktor yang mempengaruhi dysmenorrhea pada siswi kelas VII MTsN Kanigoro Kecamatan Kras Kabupaten Kediri dengan status gizi kurus. Dari hasil penelitian yang dilaksanakan di MTsN Kanigoro Kecamatan Kras Kabupaten Kediri didapatkan kesimpulan gambaran faktor-faktor yang mempengaruhi dysmenorrhea pada siswi kelas VII MTsN Kanigoro Kecamatan Kras Kabupaten Kediri dengan tingkat kecemasan sedang. Saran 1. Bagi responden Menambah informasi tentang dysmenorrhea baik melalui konsultasi dengan petugas kesehatan dan membaca media cetak maupun media massa yang berhubungan dengan dysmenorrhea, sehingga dapat mengurangi kecemasan yang dapat menyebabkan dysmenorrhea atau memperparah dysmenorrhea sehingga dapat mencegah terjadinya dysmenorrhea. 2. Bagi pihak sekolah Pihak sekolah utamanya UKS diharapkan memberikan kebijakan-kebijakan pemberian fasilitas dan bekerja sama dengan tenaga kesehatan (bidan, perawat) untuk pemberian perawatan, atau menyediakan obat-obatan pereda nyeri. 3. Bagi Institusi pendidikan Institusi pendidikan utamanya perpustakaan diharapkan dapat menambah buku-buku tentang obstetri dan ginekologik khususnya mengenai dysmenorrhea yang dipengaruhi oleh faktor status gizi dan tingkat kecemasan untuk meningkatkan pengetahuan dan memudahkan penelitian selanjutnya. 4. Bagi peneliti selanjutnya Bagi peneliti selanjutnya dapat dijadikan sebagai referensi untuk melakukan penelitian dengan jumlah sampel yang sesuai dengan wilayah yang lebih luas misal 1 sekolah kabupaten dan waktu penelitian yang lebih lama, sebaiknya dilakukan wawancara, serta diharapkan tanda dan gejala dari skala HARS alangkah baiknya apabila peneliti selanjutnya melihat langsung gejala-gejala kecemasan yang terjadi pada responden. Penelitian selanjutnya diharapkan menggunakan desain penelitian analitik. DAFTAR PUSTAKA Anurogo, Dito dan Wulandari, Ari. (2011). Cara Jitu Mengatasi Nyeri Haid. Yogyakarta: Andi Aryani, Ratna. (2010). Kesehatan Remaja. Jakarta: Salemba Medika Azwar, Saifuddin. (2007). Metode Penelitian, Yogyakarta: Pustaka Pelajar Baziad, Ali, dkk. (1993). Endokrinologi Ginekologi. Jakarta: KSERI Chandranita, Fajar, Ida Bagus Gde, Manuaba. (2010). Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan, dan KB untuk Pendidikan Bidan Edisi 2. Jakarta: EGC Elmart, Foezi Citra. (2012). Mahir Menjaga Organ Intim Wanita. Solo: Tinta Medina Hacker, Moore, dan Gambone. (2004). Essentials of Obstetrics and Gynecology 4th Edition. Philadelphia, Pennsylvania: Elsevier Inc Hidayat, Alimul. (2007). Metode Penelitian Kebidanan dan Teknis Analisis Data. Jakarta: Salemba Medika . (2008). Metode Penelitian Keperawatan dan Teknis Analisis Data. Jakarta: Salemba Medika Hollingworth, Tony. (2011). Diagnosis Banding dalam Obstetri & Ginekologi A-Z. Jakarta: EGC Kartono, Kartini. (2006). Psikologi Wanita 1 Mengenal Gadis Remaja & Wanita Dewasa. Bandung: Mandar Maju Laila, Najmi. (2011). Buku Pintar Menstruasi. Jogjakarta: Bukubiru Notoatmodjo, Soekidjo. (2010). Metodologi Penelitian Kesehatan, Jakarta: Rineka Cipta Nursalam. (2003). Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan (Pedoman Skripsi, Tesis dan Instrumen Penelitian Keperawatan). Surabaya: Salemba Medika . (2011). Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan (Pedoman Skripsi, Tesis dan Instrumen Penelitian Keperawatan). Surabaya: Salemba Medika Prawirohardjo, Sarwono dan Wiknjosastro, Hanifa. (2008). Ilmu Kandungan Edisi Kedua Cetakan Kelima. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Prawirohardjo Proverawati, Atikah dan Misaroh, Siti. (2009). Menarche Menstruasi Pertama Penuh Makna. Yogyakarta: Nuha Medika Pudiastuti, Ratna Dewi. (2012). Tiga Fase Penting Wanita. Jakarta: Kelompok Gramedia Saraswati, Sylvia. (2010). 52 Penyakit Perempuan. Yogyakarta: Katahati Waryana. (2010). Gizi Reproduksi. Yogyakarta: Pustaka Rihama Widyastuti, Yani dkk. (2009). Kesehatan Reproduksi. Yogyakarta: Fitramaya ABSTRACT CORRELATION OF STRESSOR AND MOTIVATION WITH WORK PERFORMANCE AMONG NON-EDUCATIONAL STAFF AT THE KARYA HUSADA KEDIRI POLYTECHNIC OF HEALTH PROFESSION By: Wahyu Nuraisya Quality of management education is an important aspect for the continuity of education and the acquisition of quality outcomes. Human resource management requires good performance of educational and non-educational personnel in providing their services For non-educational staff, the overwhelming demands of their job description to serve students and the lecturers is an example of stressor. Motivation are also among factors that may influence performance. This study aims to determine the corelation of stressors and motivation of non-educational staff with their performance as assessed on their job descriptions. This study is an analytical study carried out among all non-educational staff at the Karya Husada Kediri Polytechnic of Health. Performance Assessment was based on approved check list for accreditation while motivation and stress level were determined based on standardised questionnaire Correlation analysis using Pearson test showed opposing result between work stressor (r = -0.315) versus motivation (r = 0.408) pertaining to one’s performance. To a certain level , stressors and motivation correlates simultaneously with the performance (r = 0.599). Some personnel were found to have a high stress. Good motivation support better performance. Stress played a double sided role, as when it is overt it became a constraint toward good performance. Appropriate management are needed among those personnel with overt stress, and program is needed to elevate the less-than-expected motivation of the staff. . Key words: work performance, motivation, stressors, non-educational personnel, job descriptions Korespondensi: Wahyu Nuraisya. Program Studi DIII Kebidanan STIKES Karya Husada Kediri HP. 081553116852 E-mail : w.nuraisya@gmail.com PENDAHULUAN Sistem pendidikan nasional mempunyai peran utama dalam mengelola pengembangan dan pembinaan sumber daya manusia (SDM) sebagai kekuatan sentral dalam proses pembangunan. Salah satu bidang penting dalam administrasi / manajemen pendidikan adalah berkaitan dengan personil, baik itu peserta didik, tenaga pendidik maupun tenaga kependidikan. Tenaga pendidik dengan tenaga kependidikan merupakan sumber daya manusia yang saling berkaitan dalam proses meningkatkan kualitas pendidikan.3 Pencapaian keberhasilan proses pendidikan diperlukan kinerja yang baik dari tenaga kependidikan dengan melaksanakan uraian tugasnya. Penilaian kinerja idealnya dilakukan secara tertib, objektif dan berkelanjutan. Setiap institusi pendidikan kesehatan harus memiliki perencanaan kinerja, menentukan bagaimana kinerja harus diukur, mengenali dan merencanakan cara mengatasi kendala, serta mencapai pemahaman bersama tentang pekerjaannya. Kinerja akan menjadi baik apabila tenaga kependidikan dalam melaksanakan tugasnya mempunyai kondisi yang stabil baik fisik, psikis maupun perilaku. Stresor kerja merupakan kondisi psikis yang dapat mempengaruhi emosi, dan kemampuan tenaga kependidikan dalam proses berpikir dan bekerja. Perubahan kondisi tersebut akan menentukan motivasi dari tenaga kependidikan dalam pencapaian prestasi kerja yang baik. METODE Penelitian ini adalah analitik korelatif dengan metode potong lintang (cross sectional). Populasi dalam penelitian ini adalah semua tenaga kependidikan di institusi pendidikan kesehatan Karya Husada Kediri dengan teknik Total Sampling. Pengumpulan data dilaksanakan pada tanggal 10 Februari sampai dengan 20 Maret tahun 2012. Jenis data yang dipergunakan adalah data primer dengan instrument pengumpulan data menggunakan kuesioner. Data yang terkumpul dilakukan uji analisis jalur. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian 1. Distribusi frekuensi umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan dan lama kerja Tabel 1: Tabel Karakteristik Tenaga Kependidikan di institusi pendidikan kesehatan Karya Husada Kediri (n=48) Karakteristik Responden Jumlah Persentase ( persen) Usia (tahun) 20 – 30 th 31 – 40 th >40 th 6 18 24 12,5 37,5 50 Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan 29 19 60,4 39,6 Tingkat pendidikan SD – SMP SMA – Diploma Sarjana 11 22 15 22,9 45,8 31,3 Lama bekerja < 20 tahun ≥ 20 tahun 35 13 72,9 27,1 2. Proporsi stresor kerja, motivasi kerja dan kinerja tenaga kependidikan berdasarkan uraian tugasnya di institusi pendidikan Kesehatan Karya Husada Kediri Tabel 4.2 Tabel Proporsi Stresor Kerja, Motivasi Kerja dan Kinerja Tenaga Kependidikan Berdasarkan Uraian Tugasnya di Institusi Pendidikan Kesehatan Karya Husada Kediri Variabel Kategori Kinerja ∑ Rendah Sedang Tinggi n persen N persen n persen Stresor kerja Rendah Sedang Tinggi 4 8 4 20 53,3 30,8 10 7 9 50 46,7 69,2 6 0 0 30 0 0 20 15 13 Total 16 33,3 26 54,2 6 12,5 48 Motivasi kerja Rendah Sedang Tinggi 8 5 3 42,1 29,4 25 11 12 3 57,9 70,6 25 0 0 6 0 0 50 19 17 12 Total 16 33,3 26 54,2 6 12,5 48 3. Tabulasi silang karakteristik responden dengan kinerja tenaga kependidikan berdasarkan uraian tugasnya di institusi pendidikan kesehatan Karya Husada Kediri Tabel 3: Tabulasi Silang Karakteristik Responden dengan Kinerja Tenaga Kependidikan Berdasarkan Uraian Tugasnya di Institusi Pendidikan Kesehatan Karya Husada Kediri Variabel Kategori Kinerja ∑ Rendah Sedang Tinggi n persen N persen n persen Stresor kerja Rendah Sedang Tinggi 4 8 4 20 53,3 30,8 10 7 9 50 46,7 69,2 6 0 0 30 0 0 20 15 13 Total 16 33,3 26 54,2 6 12,5 48 Motivasi kerja Rendah Sedang Tinggi 8 5 3 42,1 29,4 25 11 12 3 57,9 70,6 25 0 0 6 0 0 50 19 17 12 Total 16 33,3 26 54,2 6 12,5 48 Keterangan : diuji dengan menggunakan uji Chi-Square Berdasarkan tabel diatas, dapat disimpulkan diantara karakteristik umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan dan lama kerja hanya pada jenis kelamin yang memiliki hubungan bermakna (p<0,05) dengan kinerja. 4. Korelasi antara stresor kerja dan motivasi kerja dengan kinerja tenaga kependidikan berdasarkan uraian tugasnya di institusi pendidikan kesehatan Karya Husada Kediri Tabel 4: Korelasi antara Stresor Kerja dan Motivasi Kerja dengan Kinerja Tenaga Kependidikan Berdasarkan Uraian Tugasnya di institusi Pendidikan Kesehatan Karya Husada Kediri Korelasi kinerja dengan Koefisien korelasi (r) Nilai-p Ket. Stresor kerja Motivasi kerja -0,311 0,408 0,031 0,004 Korelasi lemah Korelasi sedang Nilai r dihitung berdasarkan uji korelasi Pearson Berdasarkan Tabel 4 tampak bahwa terdapat korelasi yang bermakna (p<0,05) antara stresor kerja dengan kinerja tenaga kependidikan berdasarkan uraian tugasnya. Begitu juga dengan motivasi kerja mempunyai korelasi yang bermakna (p<0,05) antara motivasi kerja dengan kinerja tenaga kependidikan berdasarkan uraian tugasnya. 5. Korelasi simultan antara stresor kerja dan motivasi kerja dengan kinerja tenaga kependidikan berdasarkan uraian tugasnya di institusi pendidikan kesehatan Karya Husada Kediri Tabel 5: Korelasi Simultan antara Stresor Kerja dan Motivasi Kerja dengan Kinerja Tenaga Kependidikan Berdasarkan Uraian Tugasnya di Institusi Pendidikan Kesehatan Karya Husada Kediri Variabel Koef B SE t Koefisien jalur Nilai p Stresor Kerja 0,378 0,181 2,086 0,254 0,043 Motivasi Kerja 0,393 0,097 4,063 0,495 0,000 Konstanta -17,859 Berdasarkan hasil analisis regresi multiple secara simultan terdapat korelasi yang bermakna (p<0,05) antara stresor kerja dan motivasi kerja dengan kinerja tenaga kependidikan berdasarkan uraian tugasnya, dengan koefisien regresi multiple 0,599 dan model regresi Y = -17,859 – 0,378X1 + 0,393X2 ( Y=kinerja, X1=stresor kerja dan X2=motivasi kerja). Tampak bahwa semakin rendah stresor kerja dan semakin tinggi motivasi kerja, maka semakin tinggi kinerja tenaga kependidikan berdasarkan uraian tugasnya. Dan dari hasil statistik diketahui koefisien determinan (R2) yaitu 0,359 artinya stresor kerja dan motivasi kerja hanya 35,9 persen mempengaruhi kinerja tenaga kependidikan berdasarkan uraian tugasnya, jadi sisa 64,1 persen dipengaruhi variabel selain stresor kerja dan motivasi kerja. Pembahasan 1. Korelasi stresor kerja dengan kinerja tenaga kependidikan berdasarkan uraian tugasnya di institusi pendidikan kesehatan Karya Husada Kediri Dari hasil uji statistik tampak bahwa terdapat korelasi yang bermakna (p<0,05) antara stresor kerja dengan kinerja tenaga kependidikan berdasarkan uraian tugasnya di institusi pendidikan kesehatan Karya Husada Kediri. Korelasi antara stresor kerja dengan kinerja menunjukkan bahwa stresor kerja yang dialami tenaga kependidikan berhubungan dengan stresor yang berasal dari lingkungan pekerjaan. Stresor tersebut bersifat fungsional/bersifat membantu. Stresor yang dimaksud merupakan pemicu stres yang secara sederhana hal ini berarti bahwa stresor mempunyai potensi untuk mendorong atau menggangu pelaksanaan kerja, tergantung seberapa besar tingkat stres. Selain itu karena adanya tuntutan pekerjaan, menjadikan stresor yang dialami tenaga kependidikan merupakan suatu tantangan dalam menghadapi, dan menyelesaikan suatu pekerjaan yang diberikan sesuai dengan bidang pekerjaannya. Menurut Fred luthans menyampaikan hal yang sama bahwa secara khusus, jika karyawan merasa bahwa mereka mempunyai sedikit kontrol pada lingkungan pekerjaan dan pekerjaan mereka sendiri, maka mereka akan mengalami stres. Studi menunjukkan bahwa jika karyawan diberi kontrol pada lingkungan kerja, seperti diberi kesempatan untuk terlibat dalam proses pengambilan keputusan yang mempengaruhi mereka, hal ini akan mengurangi stres kerja. 2. Korelasi motivasi kerja dengan kinerja tenaga kependidikan berdasarkan uraian tugasnya di institusi pendidikan kesehatan Karya Husada Kediri Dari hasil uji statistik tampak bahwa terdapat korelasi yang bermakna (p<0,05) antara motivasi kerja dengan kinerja tenaga kependidikan berdasarkan uraian tugasnya di institusi pendidikan kesehatan Karya Husada Kediri. Hubungan seseorang dengan pekerjaannya sangat mendasar dan karena itu sikap seseorang terhadap pekerjaannya itu sangat mungkin menentukan keberhasilan dan kegagalannya. Sikap terhadap kepuasan kerja merupakan faktor yang diyakini dapat mendorong dan mempengaruhi semangat kerja karyawan agar karyawan dapat bekerja dengan baik dan secara langsung akan mempengaruhi prestasi karyawan. Motivasi terbentuk dari sikap (attitute) karyawan dalam menghadapi situasi kerja di tempat kerja. Menurut Herzberg, kepuasan kerja menjadi menarik untuk diamati karena memberikan manfaat, baik dari segi individu maupun dari segi kepentingan organisasi. Salah satu cara yang ditempuh untuk meningkatkan kinerja yaitu keseimbangan antara sumber instrinsik maupun ekstrinsik. Motivasi sebagai dorongan karyawan untuk melakukan tindakan karena mereka ingin melakukannya. Apabila individu termotivasi, mereka akan membuat pilihan yang positif untuk melakukan sesuatu. Motivasi dapat muncul dari dalam diri individu masing-masing dan dapat juga dari lingkungan sekitar yaitu dari luar institusi. 3. Pengaruh stresor kerja dan motivasi kerja terhadap kinerja tenaga kependidikan berdasarkan uraian tugasnya di institusi pendidikan kesehatan Karya Husada Kediri Pada pengujian hipotesis diketahui terdapat pengaruh langsung antara stresor kerja dan motivasi kerja terhadap kinerja tenaga kependidikan. Stres sebenarnya dapat sangat membantu atau bersifat fungsional, tetapi juga dapat berperan salah atau merusak kinerja. Pada penelitian ini didapatkan bahwa stresor kerja yang dialami tenaga kependidikan Karya Husada Kediri secara sederhana menyebabkan stres optimal yang mempunyai potensi untuk mendorong pelaksanaan kerja tenaga kependidikan. Berdasarkan model stres-kinerja yang menunjukkan hubungan antara stres dan kinerja. Bila tidak ada stres, tantangan-tantangan kerja juga tidak ada, dan kinerja cenderung rendah. Sejalan dengan meningkatkan stres prestasi kita cenderung naik. Karena stres membantu karyawan untuk menggerahkan segala sumber daya dalam memenuhi berbagai persyaratan atau kebutuhan pekerjaan. Stres adalah suatu rangsangan sehat untuk memotivasi para karyawan agar memberikan tanggapan terhadap tantangan-tantangan pekerjaan. Tenaga kependidikan harus mempunyai motivasi dan kemampuan dalam menghadapi dan melaksanakan keseluruhan tugas-tugas yang menjadi tanggungjawabnya. Tugas-tugas tersebut biasanya berdasarkan indikator-indikator keberhasilan yang sudah ditetapkan. Sebagai hasilnya akan diketahui bahwa tenaga kependidikan masuk dalam tingkatan kinerja tertentu. Kinerja tenaga kependidikan merupakan hasil kerja karyawan baik dari segi kualitas maupun kuantitas berdasarkan standar kerja yang telah ditentukan. Standar kerja yang berlaku di institusi pendidikan kesehatan Karya Husada Kediri berdasarkan pada uraian tugasnya yang meliputi tiga komponen penting yaitu uraian dalam merencanakan, melaksanakan dan melaporkan / mengevaluasi tugas masing-masing bidang pekerjaan tenaga kependidikan. Kinerja tenaga kependidikan akan tercapai apabila didukung oleh atribut individu, upaya kerja dan dukungan organisasi. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan 1. Stresor kerja yang dialami tenaga kependidikan di institusi pendidikan kesehatan Karya Husada Kediri merupakan stresor yang bersifat membantu karyawan untuk menggerakkan segala sumber daya dalam memenuhi kebutuhan pekerjaannya. 2. Motivasi kerja tenaga kependidikan yang baik meningkatkan kinerja yang baik pula, karena motivasi sebagai dorongan karyawan untuk melakukan tindakan yang ingin dilakukannya yang dapat bersumber dari intrinsik maupun ekstrinsik. 3. Stresor kerja dan motivasi kerja sama-sama berpengaruh terhadap kinerja tenaga kependidikan berdasarkan uraian tugasnya, tetapi motivasi kerja yang mempunyai pengaruh lebih besar terhadap kinerja. Saran Guna pelaksanaan manajemen pendidikan khususnya manajemen sumber daya manusia dengan baik dan memberikan kontribusi yang baik terhadap lulusan, tenaga kesehatan STIKES Karya Husada Kediri melalui peningkatan kinerja dan kualitas tenaga kependidikan diharapkan mulai dari pimpinan STIKES Karya Husada Kediri maupun ketua prodi-prodi berupaya mengatur sumber daya manusia agar proporsi sumber daya manusia dengan motivasi kerja yang tinggi bertambah. Serta mengadakan evaluasi terhadap faktor-faktor penyebab stresor tinggi dan pemecahannya. Dan Pentingnya mengikuti pelatihan manajemen sumber daya manusia atau manajemen stres sehingga terhindar dari tahapan stresor yang tinggi dan dapat memotivasi diri agar kinerja tenaga kependidikan berdasarkan uraian tugasnya dapat tercapai secara maksimal. DAFTAR PUSTAKA Ahsan N, Abdullah Z, Yong Gun Fie D, Shah Alam S. 2009. A Study of Job Stres on Job Satisfication among University Staff in Malaysia. European Journal of Sosial Sciences. Vol.8 No. 1. Arikunto S. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Edisi ke-5. Jakarta : Rineka Cipta. Nopember Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi. 2009. Akreditasi Program Studi Diploma. Jakarta. Buku II Penyusunan Portofolio. Jakarta. Darman. 2007. Manajemen Konflik dan Stres Kerja. UMB : Pusat Pengembangan Bahan Ajar. hlm.7-15. Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Direktorat Akademik. 2009. Pedoman Kompetisi Kualitas Layanan Akademik Tenaga Administrasi Akademik. Jakarta. Dessler Gary. 2006. Manajemen Sumber Daya Manusia. Edisi ke-1. Vol. 10. Klaten : PT. Intan Sejati. hlm. 350-321. Devonport TJ, Biscom K, Lane AM. Sources of Stres and the Use of Anticipatory, Preventative and Proactive Coping Strategies by Higher Education Lecturers. JOHLSTE. Vol. 7 No.1 ISSN: 1473-8376 Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional. 2009. Dosen. Pedoman Penjaminan Mutu Akademik Universitas Indonesia. 2007 : 3. Badan Penjaminan Mutu Akademik Universitas Indonesia (BPMA UI). Tersedia dari www.ui.ac.id/download/files/bpma/Dosen..pdf Fahmi I. 2010.Manajemen Kinerja Teori Dan Aplikasi. Bandung : Alfabeta. hlm. 75-64. Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia. 2009. Pedoman Penilaian Kinerja UPI. Tersedia dari www.file.upi.edu/Direktori/FIP/Jur.PEDAGOGIK/pedoman_kinerja.pdf Garniwa I, 2007.Hubungan Stres Kerja Terhadap Motivasi Serta Dampaknya Terhadap Prestasi Kerja Dosen Tetap Universitas Widyatama. www.google.com.jurnal.pdii.lipi.go.id/admin/jurnal/6209115126_1829-8540.pdf Gulo W. 2007. Metodologi Penelitian. Edisi ke-5. Jakarta : PT. Gramedia Widiasarana Indonesia. Handoko TH. 2001. Manajemen Personalia Dan SDM. Edisi ke-5. Yogyakarta : BPFE. hlm. 204-199. Hastono SP, Sabri L. 2010. Statistik Kesehatan. Edisi ke-5. Jakarta : Rajawali pers. Holmstrom S, Molander B, Jansson J, Bergqvist MB. 2008. Evaluation of a Swedish version of the Job Stres Survey. Scandinavian Journal of Psychology. 49. hlm. 277–286. Istijanto OEI. 2010. Riset Sumber Daya Manusia. Edisi ke-4. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama. hlm. 186-190, 237. Jackson JH, Mathis RL. Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta : PT. Salemba Emban Patria. 2002. hlm. 108-75. Kandasamy K. 2011. Bab 2 Tinjauan Pustaka Konsep Stres. Repository.usu.ac.id. Kementrian Pendidikan Nasional Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Direktorat Pendidik dan Tenaga Kependidikan. 2011. Pedoman Umum Pemilihan Tenaga Administrasi Akademik Berprestasi tahun Kousar S. Doger IA. Ghozal S. Khattak I. 2006. Occupatoinal Stres and Job Performance Original Article. Journal Pakistan of Psichiatric Society. Vol. 3. No. 2. Luthans F. 2006. Perilaku Organisasi. Edisi ke-10. Yogyakarta : ANDI. hlm. 286-288. Manajemen Pendidikan di Indonesia tahun 2010. Tersedia dari: www.http//edukasi.kompasian.com. Manajemen Pendidikan di Indonesia tahun 2011. Tersedia dari : www.http//edukasi.kompasian.com. Manajemen SDM pendidikan tersedia dari : http://uharsputra.wordpress.com/pendidikan/manajemen-sdm-pendidikan/6-11-2011 Mangkunegara AAAP. 2010. Evaluasi Kinerja SDM. Edisi ke-5. Bandung : Rifka Aditama. hlm. 29-9, 77-61. Mayor JD, Faber MA, Xu X. 2007. SeventFive Years of Motivation Measures (1930-2005) : A Descriptive analysis. Milbourn G. 2006. Teaching the job stres Audit to Business School Student : Causes, measures, reduction, Journal of American Academy of Business. Vol.8. No.2. hlm 44-50. Moeheriono. 2009. Pengukuran Kinerja Berbasis Kompetensi. Jakarta : Ghalia Indonesia. hlm. 60-144. National Safety Council. 2004. Manajemen Stres. Jakarta : EGC. Pannen P. 2001. Pendidikan Sebagai Sistem. Jakarta: Pusat Antar Universitas Untuk Peningkatan dan Pengembangan Aktivitas Instruksional Direktorat Jenderan Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional (PAU-PPAI) Universitas Terbuka. hlm. 2-1,8. Radityo R. 2009. Hubungan Sumber Stres Kerja Dengan Kinerja Karyawan Perusahaan Teknologi Informasi Pada PT.X. FPSi UI. Rini JF. 2002. Stres Kerja. Jakarta : 1 Maret 2002. Tersedia dari www.team e-psikologi.com Rivai V. 2010. Manajemen Sumber Daya Manusia Untuk Perusahaan: Dari Teori Kepraktik. Edisi ke-3. Jakarta : Rajawali Pers. hlm. 584-547, 839-837, 1012-1008. Robbins SP, Judge TA. 2008. Perilaku Organisasi. Edisi ke-1. Vol. 12. Jakarta : Salemba Empat. hlm. 253-220, 324-311. Samsudi S. 2006. Manajemen Sumber Daya Manusia. Edisi ke-1. Bandung : CV. Pustaka Setia. hlm. 159. Sartono M. Peningkatan Kinerja Profesi Tenaga Kependidikan Melalui Kegiatan Pelatihan Berbasis ICT Dan WEB. Tersedia dari : http://www.slideshare.net/sarhaji/peningkatan-kinerja-profesi-tenaga-pendidikan Satari MH, Wirakusumah FF. 2011. Konsistensi Penelitian Dalam Bidang Kesehatan. Bandung : PT. Refika Aditama . Schuler, E. 2002. Definition and Conceptualization of Stres in Organizations. Thousand Oaks: Sage, hlm. 189. Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Karya Husada Pare Kediri. Statuta Tahun Akademik 2008/2009. Siagian SP. 2004. Teori Motivasi dan Aplikasinya. Edisi ke-3. Jakarta : Rineka Cipta. hlm. 140-125. Staren ED. 2009. Optimizing Staff Motivation. In leadership article. Sugiyono. 2004. Statistik untuk Penelitian. Edisi ke-6. Bandung : Alfabeta. hlm. 21, 52, 243. Sutisna M. 2006. Konsep pendidikan tinggi dan Filosofi penyelenggaraan Program Diploma, Bandung: Pusbandik Politeknik dan Progam Diploma. Tampubolon DP. 2001. Perguruan Tinggi Bermutu. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama. hlm. 171-195. UU RI No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Tersedia dari www.inherent-dikti.net/files/sisdiknas.pdf Van den Hombergh P, et al. 2009. High Workload and Job Stres are Associated with Lower Practice Performance in General Practice : an Observational Study in 239 General Practice in the Netherlands. BMC Health Services Research. Yosep I. 2007. Keperawatan Jiwa. Bandung : PT. Resika Aditama. ANALISIS KEBIJAKAN PROGRAM KB PRIA DI KOTA PADANG PROVINSI SUMATERA BARAT TAHUN 2013 Dewi Susanti PENDAHULUAN Masalah yang dihadapi beberapa negara berkembang dewasa ini umumnya bersumber pada permasalahan kependudukan, rendahnya kesadaran masyarakat tentang hak-hak reproduksi dan masih tingginya laju pertumbuhan penduduk, yang tidak sebanding dengan daya dukung lingkungan (BKKBN, 2010). Keprihatinan akan permasalahan kependudukan melahirkan sebuah konsep pembangunan berwawasan kependudukan, atau konsep pembangunan yang bekelanjutan. Langkah pertama dan merupakan strategi yang monumental adalah kesadaran lebih dari 120 pemerintah/ negara yang berjanji melalui konferensi internasional tentang pembangunan dan kependudukan (ICPD) di Cairo pada tahun 1994 untuk bersama-sama menyediakan pelayanan kesehatan reproduksi bagi semua orang tanpa diskriminasi “Secepat mungkin paling lambat tahun 2015” dilanjutkan dengan Millenium Development summit (MDS) pada bulan September 2000 di New York (Amerika Serikat) dengan kesepakatan yang dikenal dengan Millenium Development Goals (MDGs). Menurut Undang-Undang Nomor 52 Tahun 2009 tentang Perkembangan Penduduk dan Pembangunan Keluarga, KB adalah upaya mengatur kelahiran anak, jarak dan usia ideal melahirkan, mengatur kehamilan melalui promosi, perlindungan, dan bantuan sesuai kehamilan, mengontrol waktu saat kelahiran dalam hubungan dengan umur suami isteri serta menentukan jumlah dengan hak reproduksi untuk mewujudkan keluarga yang berkualitas. Berdasarkan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2010-2014 visi dan misi BKKBN berubah menjadi “Penduduk Seimbang 2015” dan “Mewujudkan Pembangunan yang Berwawasan Kependudukan dan Mewujudkan Keluarga Kecil Bahagia Sejahtera” yang merupakan hasil revitalisasi visi misi sebelumnya yakni “Seluruh Keluarga Ikut KB” dengan “Mewujudkan Keluarga Kecil Bahagia Sejahtera”. Hasil Sensus Penduduk Indonesia tahun 2010, dilaporkan bahwa jumlah penduduk mencapai 237,6 juta jiwa atau 3,4 juta jiwa lebih besar dari penetapan proyeksi penduduk sebesar234,2 juta jiwa atau bertambah 32,5 juta dari jumlah penduduk tahun 2000. Oleh sebab itu Program KB Nasional yang merupakan komponen pembangunan nasional diharapkan mewujudkan keluarga kecil bahagia sejahtera Korespondensi: Dewi Susanti. Prodi D3 Kebidanan Poltekkes Kemenkes Padang Hp. 085321902858 E-mail : dhendra05@gmail.com dengan mencegah kelahiran minimal 100 juta pada Tahun 2008. Program ini meliputi pengendalian kelahiran dan pembinaan kesehatan reproduksi serta pembangunan keluarga sebagai “beyond family planning”, dengan arah kebijakan Program KB Nasional Tahun 2014. Keberhasilan program KB nasional selama ini terukur dari menurunnya tingkat fertilitas (TFR) yang pada awal program berkisar pada angka 5,61 (SP tahun 1971) menjadi sekitar 2,23 (tahun 2007) (berdasarkan hasil sensus 2008) dan berdasrkan SDKI 2012 diperoleh TFR 2,6. Keberhasilan program KB ditandai juga dengan meningkatnya usia kawin pertama yang kini menjadi sekitar 18,9 tahun, yang kesemuanya akan berpengaruh terhadap kesehatan ibu dan anak. Secara umum hal tersebut diatas menjadikan wanita Indonesia mempunyai jarak kelahiran yang cukup panjang, karena data menunjukkan median jarak kelahiran mencapai angka sekitar 21,3 bulan (RJPMN) tahun 2010-2014). Meningkatnya partisipasi pria dalam berKB merupakan salah satu indikator keberhasilan program KB nasional yang berwawasan gender, dengan target pencapaian adalah 10 persen. Kota Padang adalah salah satu kota yang ada di provinsi Sumatera barat, sebagaian besar masayarakat adalah suku minang dengan budaya matrilineal dengan masyarakat yang sangat agamis namun terbuka dan kritis terhadap inovasi baru, hal ini diprediksi merupakan faktor strategis dalam pencapaian program KB terutama KB pria. Kota Padang terdiri dari 11 kecamatan dengan jumlah penduduk tahun 2010 adalah 833.584 jiwa, kondisi geografis yang berbukit, daerah pinggir pantai dan masih ada daerah-daerah yang kurang mendapat perhatian, dengan fasilitas kesehatan yang terdiri dari 240 Bidan Praktik Swasta (BPS), 20 Puskesmas, 1 Rumah Sakit Umum Pusat, 1 Rumah Sakit Umum daerah, Beberapa Rumah Sakit Swasta, Klinik KB dan PKBI. Dengan telah dilaksanakannya berbagai upaya dalam meningkatkan partisipasi pria dalam ber KB, perlu dilakukan evaluasi terhadap program untuk dapat menilai tingkat keberhasilan dan tolak ukur untuk program selanjutnya. ISI Konsep Dasar KB menurut WHO (World Health Organization) adalah tindakan yang membantu pasangan suami isteri untuk menghindari kehamilan yang tidak diinginkan, mendapatkan kelahiran yang memang diinginkan, mengatur interval diantara anak dalam keluarga. Tujuan pembangunan Program KB Nasional di masa mendatang adalah meningkatkan kualitas program KB untuk memenuhi hak-hak reproduksi, kesehatan reproduksi, pemberdayaan keluarga, pengentasan keluarga miskin, peningkatan kesejahteraan anak, pemberdayaan perempuan dan pengendalian kelahiran agar terwujud keluarga kecil yang bahagia dan sejahtera yang pada akhirnya menuju terwujudnya keluarga berkualitas. Penyelenggaraan Program KB Nasional pada era baru adalah agar dapat memenuhi kepastian hukum dan peraturan perundang-undangan yang diatur secara menyeluruh dengan dibatasi oleh norma globalisasi, asas kepatutan dan keadilan, transparansi, demokrasi serta akuntabilitas. Upaya atau batasan-batasan dimaksud adalah untuk penguatan dan pemberdayaan keluarga dalam mencapai masyarakat madani sebagaimana ditetapkan dalam UU No.10 th 1992 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Sejahtera, dan telah dijabarkan melalui Peraturan Pemerintah Nomor 21 dan 27 tahun 1994. Sesuai dengan UU Nomor 10 tahun 1992 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Sejahtera, amanat GBHN 1999, UU No.22 tahun 1999, UU No.25 tahun 1999 tentang Propenas, membawa perubahan pada visi dan misi Program KB Nasional. Visi “Norma Keluarga Kecil Bahagia dan Sejahtera” menjadi Visi baru, yaitu “Keluarga Berkualitas 2015” suatu keluarga yang sejahtera, sehat, maju, mandiri, memiliki jumlah anak ideal, berwawasan kedepan, bertanggung jawab, harmonis dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Program pengendalian penduduk tahun 2010 – 2014 mempunyai 2 fokus penting yang menjadi tanggung jawab BKKBN yaitu revitalisasi program KB dan penyerasian kebijakan pengendalian penduduk dengan sasaran Rencana Kerja Program (RKP) 2010 -2014. Untuk mencapai penurunan laju pertumbuhan penduduk 1,1 persen, TFR menjadi 2,1, maka sasaran yang akan dicapai pada tahun 2014 yaitu : 1. Meningkatnya CPR (cara modern) dari 57,4 persen (SDKI 2007) menjadi 65 persen. 2. Menurunnya kebutuhan KB tidak terlayani (unmet need) dari 9,1 persen menjadi sekitar 5 persendari semua PUS 3. Meningkatnya usia kawin pertama perempuan dari 19,8 tahun menjadi 21 tahun. 4. Menurunnya ASFR 15-19 tahun dari 35 menjadi 30/1000 perempuan. 5. Menurunya kehamilan yang tidak di inginkan dari 19,7 persen menjadi sekitar 15 persen 6. Meningkatnya peserta KB baru pria dari 3,6 persen menjadi sekitar 5 persen. 7. Meningkatnya kesetaraan ber-KB PUS pra S dan KS 1 anggota kelompok usaha ekonomi produktif dari 80 persen menjadi 82 persen dan pembinaan keluarga menjadi sekitar 70 persen. 8. Meningkatnya partisipasi keluarga yanyg mempunyai anak remaja dalam kegiatan pengasuhan dan pembinaan tumbuh kembang anak melalui BKB dari 3,2 juta menjadi 5,5 juta, dar remaja (BKR) dari 1,5 juta menjadi 2,7 juta. 9. Menurunnya disparitas TFR, CPR dan Unmet need antar wilayah dan antar sosial ekonomi (pendidikan dan sosial ekonomi). 10. Meningkatnya keserasian kebijakan pengendalian penduduk dengan pembangunan lainnya. 11. Terbentuknya BKKBD di 435 kabupaten dan kota. 12. Meningkatnya jumlah klinik KB yang memberikan pelayanan KB sesuai SOP (informed concent) dari 20 persen menjadi 85 persen. Untuk peserta KB Pria, pencapaian secara nasional pada bulan Februari 2011 sebanyak 40.096 peserta KB Pria atau 8,79 persen dari PPMPB Pria sebesar 456.330. Apabila dilihat permetode kontrasepsi maka jumlah dan persentasenya adalah sebagai berikut: 1.751 peserta MOP atau 8,76 persen dari PPMPB Pria MOP sebanyak 20.000. Sedangkan yang menggunakan Kondom sebanyak 38.345 peserta atau 8,79 persen dari PPMPB pria Kondom sebesar 436.330. Grafik 1: Pencapaian Peserta KB Baru Pria Terhadap PPM PB Pria Per Provinsi Bulan Februari 2011 Pada Grafik 1, pencapaian peserta KB Pria terhadap PPMPB pria yang tertinggi yaitu Provinsi Sumatera Barat, Bali, Bengkulu, Kepulauan Riau, Kalimantan Selatan. Sedangkan tingkat pencapaian peserta KB pria terhadap PPM-PB pria yang dibawah target bulanan (8,33 persen) adalah Provinsi Kalimanatan Timur, papua Barat, Papua, Sulawesi Barat, Kalimantan Barat, Sumatera Utara, Gorontalo, Nusa Tenggara Barat, Jawa Timur, Nusa Tenggara Timur, Jawa Tengah, Maluku, Sulawesi Selatan dan Bangka Belitung. Sedangkan pencapaian peserta KB baru pria secara nasional sampai Februari 2010 sebanyak 73.189 peserta KB pria atau 16,04 persen dari PPMPB pria sebesar 456.330. Apabila dilihat permetode kontrasepsi maka jumlah dan persentasenya adalah sebagai berikut: 2.963 peserta MOP atau 14,82 persen dari PPMPB pria MOP sebanyak 20.000. Sedangkan yang menggunakan Kondom sebanyak 70.226 peserta atau 16,09 persen dari PPMPB pria Kondom sebesar 436.330. Berdasarkan permasalah sebagaimana terurai diatas, maka implementasi kebijakan keluarga berencana di Kota Padang terdapat beberapa permasalahan yang dapat diidentifikasikan sebagai berikut: 1. Rendahnya kesertaan pria dalam program Keluarga Berencana (KB), yang persentase pencapaiannya masih rendah yaitu .2.85 persen (MOP:0,14 persen dan Condom 2,71 persen), Sedangkan target yang akan dicapai adalah 10 persen. 2. Rendahnya kemampuan berkomunikasi tenaga pelaksana di tingkat lapangan (Penyuluh Keluarga Berencana) dalam memberikan penyuluhan tentang permasalahan KB pria. 3. Kurang adanya kepastian bentuk organisasi pelaksana di tingkat Kota Padang yang menangani program KB pria, karena kurang adanya dukungan politis yang memadai. 4. Masih sangat terbatasnya pilihan alat kontrasepsi yang tersedia bagi pria/bapak. 5. Sumber daya manusia pelaksana di tingkat lapangan yang kurang baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Tabel 1: Peserta KB Aktif bulan April Tahun 2013 Di Kota Padang No Alat Kontrasepsi Jumlah Persentase 1. IUD 256 6,10 2. MOP 153 0,14 3. MOW 1.787 1,64 4. Implant 5 .448 5,00 5. Suntik 61.710 56,64 6. Pil 30.256 27,77 7. Kondom 2.953 2,71 Jumlah 108.951 100,00 Sumber: BKKBN Sumbar, 2013 Pengharaman operasi kontrasepsi KB pria vasektomi melalui Fatwa MUI (Majelis Ulama Indonesia) tahun 2009, yang disiarkan dalam pertemuan ulama di Padang Panjang (Kota Serambi Mekah) Sumatera Barat, salah satunya mempengaruhi rendahnya tingkat tersebut.Walaupun setelah itu fatwa tersebut dicabut. Berdasarkan Rakernas Program KB tahun 2000, yang mengamanatkan perlunya ditingkatkan peran pria/laki-laki dalam Keluarga Berencana, ditindak lanjuti melalui Keputusan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan/Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional Nomor 10/HK-010/B5/2001 tanggal 17 Januari 2001 Tentang Organisasi dan Tata Kerja Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional, dengan membentuk Direktorat Partisipasi Pria di Bawah Deputi Bidang Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi yang bertugas merumuskan kebijakan operasional Peningkatan Partisipasi pria, diputuskan perlunya intervensi khusus melalui program peningkatan partisipasi pria yang tujuan akhirnya ”Terwujudnya keluarga berkualitas melalui upaya peningkatan kualitas pelayanan, promosi KB dan kesehatan reproduksi yang berwawasan gender pada tahun 2015”. Salah satu sasaran programnya adalah meningkatkan pria/suami sebagai peserta KB, motivator dan kader, serta mendukung istri dalam KB dan kesehatan reproduksi, yang tolok ukurnya (1) Meningkatnya peserta KB Kondom dan Medis Operasi Pria (MOP) 10 persen, dan (2) Meningkatnya motivator/kader pria 10 persen. Untuk mendukung efektifitas pelaksanaan di lapangan, Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Kepala BKKBN melalui Keputusan nomor : 70/HK-010/B5/2001, Tentang Organisasi dan Tata Kerja Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional Propinsi dan Kabupaten/Kota membentuk Seksi khusus Peningkatan Patisipasi Pria di bawah Bidang Pengendalian Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi yang bertugas menyusun paket informasi sesuai kondisi sosial, menyiapkan, dan mengembangkan segmentasi sasaran dalam rangka peningkatan partisipasi KB pria yang pelaksanaanya secara tekhnis di kecamatan dan desa dilaksanakan oleh PLKB dan PPLKB. Upaya peningkatan kesertaan KB pria diperkuat Melalui Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 7 tahun 2005 tentang Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2004-2009 disebutkan bahwa: “Sasaran pembangunan kependudukan dan pembangunan keluarga kecil berkualitas adalah terkendalinya pertumbuhan penduduk dan meningkatnya keluarga kecil berkualitas ditandai dengan : (1) Menurunnya rata-rata laju pertumbuhan penduduk menjadi sekitar 1,14 persen per tahun; Total fertilitas rate (TFR) menjadi 2,2 per perempuan; persentase pasangan usia subur yang tidak terlayani menjadi 6 persen; (b) Meningkatnya kesertaan KB laki-laki menjadi 4,5 persen, (c) Meningkatnya penggunaan kontrasepsi yang efektif dan efisien, (d) Meningkatnya usia kawin pertama perempuan menjadi 21 tahun, (e) Meningkatnya partisipasi keluarga dalam tumbuh kembang anak, (f) Meningkatnya keluarga Pra Sejahtera dan Sejahtera I yang aktif dalam uasaha ekonomi produktif; dan (g) Meningkatnya jumlah institusi masyarakat dalam penyelenggaraan pelayanan keluarga berencana dan kesehatan reproduksi. Perkembangan pelaksanaan program peningkatan kesertaan KB pria di lapangan ternyata belum seperti apa yang diharapkan. Dalam kenyataannya terdapat beberapa permasalahan yang muncul dalam implementasi program yang dilaksanakan, antara lain : Operasionalisasi program yang dilaksanakan selama ini lebih mengarah kepada wanita sebagai sasaran, penyiapan tempat pelayanan, tenaga pelayanan dan juga penyediaan alat dan obat kontrasepsi (Alokon) untuk pria sangat terbatas, hampir semuanya adalah untuk wanita, demikian juga adanya prioritas penggunaan Metoda Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) juga hampir semuanya untuk wanita. Kondisi demikian ini ikut mempengaruhi kemampuan dan keterampilan petugas (PLKB) dalam mengkomunikasikan dan memasarkan alat kontrasepsi bagi pria, karena kurang terbiasa dan sangat terbatasnya pilihan kontrasepsinya. Kondisi yang mempengaruhi implementasi peningkatan kesertaan KB pria adalah permasalahan kelembagaan. Keputusan Menteri Pemberdayaan Perempuan/Kepala BKKBN yang merujuk pada Keputusan Presiden Nomor 20 tahun 2000 Tentang Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional yang ditandatangani oleh Presiden Abdurrahman Wahid, dimana BKKBN merupakan instansi vertikal menjadi tidak berarti ketika harus berhadapan dengan Peraturan Pemerintah Nomor 8 tahun 2003 tentang SOTK di daerah yang terbit pada masa Presiden Megawati, yang juga menerbitkan Kepres Nomor 103 tahun 2001 yang menggariskan bahwa sebagian besar kewenangan BKKBN harus sudah diserahkan kepada daerah maksimal akhir tahun 2003. Kondisi yang demikian ini berdampak pada terombang-ambingnya kelembagaan yang menangani program, karena masing-masing daerah sangat beragam dalam menilai kepentingan program KB. Upaya-upaya yang dilakukan dalam pencapaian program KB pria di Sumatera Barat adalah: 1. Menggerakkan dan Memberdayakan Seluruh Masyarakat dalam Program KB 2. Meningkatkan dukungan lintas sektor seperti TNI/Polri/Pegawai Negeri Sipil/BUMN/BUMD agar Program KB Pria lebih integral dan komprehensif 3. Menata Kembali Pengelolaan Program KB 4. Memperkuat SDM Operasional Program KB 5. Meningkatkan Ketahanan dan Kesejahteraan Keluarga melalui Pelayanan KB 6. Meningkatkan Pembiayaan Program KB 7. Meningkatakan upaya intensifikasi advokasi dan KIE serta peningkatan akses dan kualitas pelayanan KB terutama di daerah tertinggal, terpencil, serta perbatasan dan daerah dengan unmet need tinggi merupakan tantangan yang dihadapi ke depan. 8. Meningkatkan advokasi kepada pemerintah daerah tentang pentingnya program KB, dan meningkatkan jumlah dan kompetensi tenaga pengelola/pelaksana program KB di daerah. 9. Meningkatkan peran kelompok-kelompok kegiatan yang ada di tingkat masyarakat sebagai media dalam meningkatkan kesertaan ber-KB pria. 10. Meningkatkan upaya kesertaan ber-KB di daerah dengan CPR rendah, meningkatkan pemakaian kontrasepsi jangka panjang, dan meningkatkan kesertaan pria dalam ber-KB. 11. Meningkatkan kesertaan ber-KB dan akses terhadap pelayanan KB di daerah dengan TFR tinggi serta penyediaan pelayanan KB gratis bagi penduduk miskin 12. Menumbuhkan persepsi masyarakat perlu waktu dan pendekatan langsung, kesabaran dan ulet dengan menampilkan tokoh panutan. Evaluasi Kebijakan Program KB Pria di Kota Padang Provinsi Sumatera Barat Tahun 2013 Program pencapaian KB Pria di Sumatera Barat mengacu pada: 1) Pendekatan persuasif dilaksanakan kepada Ninik Mamak, Alim Ulama, kaum cerdik pandai Sumatera Barat umumnya kota Padang khususnya terhadap fatwa MUI yang mengharamkan Vasektomi walaupun akhirnya fatwa tersebut dicabut, dengan mengusung tingkat kepadatan penduduk, keadaan sosial ekonomi, 2) Peran serta aktif bagi pegawai TNI/Polri/PNS/BUMN/BUMD dalam menggiatkan program KB Pria sebagai Role Model, 3) Penyuluhan, brosur, leaflet, media informasi lainnya dengan membuat kesan dan pesan sebaik mungkin tentang manfaat KB pria, baik bagi kesehatan pria maupun keluarga dan lingkungannya, 4) Ketersediaan fasilitas, kemudahan akses dan tenaga pelayanan yang kompeten, 5) Pembentukan dan pelatihan PLKB. Prediksi keberhasilan program dimana masyarakat Sumatera Barat umumnya dan Kota Padang khususnya dengan budaya matrilineal merupakan posisi strategis dalam pencapaian keberhasilan program KB Pria berbasis gender. Masyarakat yang sangat agamais namun terbuka dan kritis, dengan peran serta aktif ninik mamak, alim ulama, cerdik pandai, membuat program KB Pria dapat diterima di masyarakat dan berhasil dilaksanakan. Kebijakan program KB Pria di Kota Padang adalah: 1. Pendekatan persuasif Ninik Mamak, Alim Ulama, kaum cerdik pandai Sumatera Barat umumnya Kota Padang. 2. Advokasi terhadap pimpinan TNI/Polri/PNS/ BUMN/BUMD dalam menggiatkan program KB Pria mampu mengkampanyekan program KB pria dan menjadi Role model. 3. Pelatihan Tenaga kesehatan agar kompeten dalam pelayanan kontrasepsi pria. 4. Advokasi terhadap Pengambil kebijakan, mencakup DPRD, Dinas Kesehatan dan Pemko. 5. Pelatihan PLKB. Analisis Kebijakan Program 1. Pendekatan persuasif Ninik Mamak, Alim Ulama, kaum cerdik pandai Kota Padang Sumatera Barat. Efektivitas : cukup baik 1) Tidak ada pertentangan KB pria ditengah kaum ninik mamak, alim ulama, cerdik pandai kota padang, KB pria (MOP dan condom) dapat diterima dengan baik. 2) Adanya sambutan baik dari kaum pemuka masyarakat sersebut. 3) Adanya pelatihan secara berkala terhadap kaum ninik mamak, alim aim ulama dan cerdik pandai kota padang yang dilakukan oleh BKKBN. Efisiensi : cukup baik. 1) Sumber dana pelatihan totalitas berasal dari BKKBN, dana yang terbatas sehingga dibuatnya kebijakan prioritas pelatihan terhadap kaum ninik mamak, alim ulama dan cerdik pandai. 2) Pelaksanaan pelatihan secara brkala. 3) Untuk pelatiah tahap satu yang dimulai pada juni 2009 dengan Penetapan 3 orang perwakilan(1 orang alim ulama, 1 orang cerdik pandai dan 1 orang ninik mamak) dari tiap-tiap kecamatan. 4) Pelatihan dilaksanakan di BKKBN Propinsi Sumatera barat dengan narasumber dari tim Widyasawara internal. 5) Pemberian transport pada peserta pelatihan dengan mengacu pada Perda uang harian Rp.100.000/hari. Kecukupan : baik 1) Anggaran biaya sudah ditetapkan pada tiap tahun. Anggaran mengacu pada rencana anggaran biaya yang telah dibuat sebelumnya.(tidak ada masalah tipe I dan tipe II). Perataan : cukup merata 1) Pelatihan tahap 1 bulan juni 2009 diikuti oleh 33 orang yang berasal dari 11 kecamatan. 2) Pelatihan tahap 2 (Desember 2009), tahap 3 (Juni 2010)dan pelatihan tahap 3 (desember 2010).ikuti oleh masing masing peserta sebanyak 99 orang dengan perwakilan dari tiap-tiap lecamatan sebanyak 9 orang. Pemilihan diserahkan pada masing-masing pemerintah kecamatan. Responsivitas : baik 1) Bagi sasaran pendekatan persuasif (ninik mamak, alim ulama, cerdik pandai) sangat mendukung dengan memberikan partisipasi aktif dalam memberikan opini di masyarakat lingkungan tempat tinggal terhadap KB pria. Ketepatan : sangat tepat. 1) Program KB pria sebagai salah satu indikator program KB berbasis gender 2) Masyarakat Sumatera Barat dengan latar belakang budaya matrilineal merupakan posisi strategis untuk keberhasilan pencapaian program kb pria. 3) Masyarakat minang yang sangat agamais namun cukup terbuka dan kritis terhadap program KB pria. 4) Prediksi keberhasilan program kb di Sumatera Barat cukup baik, jika diikuti dengan program yang tepat dengan berpedoman pada faktor demografis, sosial ekonomi, budaya dan agama. 2. Advokasi terhadap pimpinan TNI/Polri/PNS/BUMN/BUMD dalam menggiatkan program KB Pria mampu mengkampanyekan program KB pria dan menjadi Role model. Efektivitas : kurang baik 1) Selama tahun 2009-2012 telah dilaksanakan advokasi terhadap pimpinan TNI, Polri dan PNS. 2) Dari 153 akseptor MOP 57 (34,6 persen) peserta MOP adalah dari kalangan PNS, TNI dan Polri. 3) Belum ada bentuk aksi TNI, Polri dan PNS dalam mengkampanyekan KB pria. 4) Tidak ada himbauan secara tertulis pimpinan TNI, Polri dan PNS terhadap bawahanya. Aksi pimpinan baru berupa informasi tentang KB pria dan himbauan secara lisan. Efisiensi : cukup. 1) Advokasi dilaksanakan oleh tim BKKBN dengan mengundang para pimpinan TNI, Polri dan PNS untuk mendapat penjelasan tentang program KB pria. Kecukupan : baik 1) Anggaran biaya sudah ditetapkan pada tiap tahun anggaran mengacu pada rencana anggaran biaya yang telah dibuat sebelumnya. Perataan : kurang merata 1) Advokasi belum terlaksana secara continu dan hanya mencakup sebagain kecil pimpinan (tidak ada advokasi terhadap pimpinan swasta maupun dinas/departemen lain). Responsivitas : baik 1) Responsivitas pimpinan TNI, Polri dan PNS cukup baik, terlihat dari antusias memenuhi undangan pertemuan yang dilaksanakan pada juli 2009. 2) Sambutan baik terhadap program KB pria (MOP dan Condom). Ketepatan : sangat tepat guna 1) TNI, Polri dan PNS merupakan Role Model. 2) Tingkat pendidikan yang tinggi mempermudah pemahaman tentang program maupun inti dari KB pria. 3) Aturan yang mengikat TNI, Polri dan PNS, bahwa jumlah anak yng ditanggung adalah 2 orang. 3. Pelatihan Tenaga kesehatan agar kompeten dalam pelayanan kontrasepsi pria. (promosi dan pelayanan teknis) Efektivitas : cukup 1) Tenaga kesehatan sebagai ujung tombak pelaksanaan pelayanan kesehatan termasuk KB. 2) Tenaga kesehatan yang kompeten akan mencegah terjadinya drop out dalam berKB yang disebabkan ketidaknyamanan, efek samping maupun komplikasi KB. 3) Dalam kaitanya dengan MOP, belum ada pelatiah bagi dokter sebagai pelaksana teknis tindakan bedah MOP. Efisiensi : kurang. 1) Sumber dana pelatihan totalitas berasal dari BKKBN, dana yang terbatas dibuatnya kebijakan prioritas pelatihan terhadap tenaga kesehatan. 2) Pelatihan yang telah dilakanakan selama 2009-2010 adalah pelatihan MKET dan ABPK, belum terencana pelatihan teknis MOP bagi dokter. 3) Pelaksanaan pelatihan secara berkala. Kecukupan : baik 1) Anggaran biaya sudah ditetapkan pada tiap tahun anggaran mengacu pada rencana anggaran biaya yang telah dibuat sebelumnya.(tidak ada masalah tipe I dan tipe II). Perataan : kurang merata. 1) Pelatihan terhadap tenaga kesehatan baru dilaksnakan selama 2 kali yaitu : tahun 2009 tentang pelatihan MKET (IUD dan Implant), tahun 2010 tentang pelatihan ABPK (alat bantu pengambilan keputusan). 2) Tidak ada pelatihan teknis terhadap tenaga kesehatan ayng bertindak langsung dalam pelaksanaan MOP. 3) Pada Puskesmas Padang Pasir, Nanggalo, Alai, dengan prioritas promosi program kb pria menunjukkan peningkatan akseptor MOP selama tahun 2010(17 orang) Responsivitas : baik 1) Adanya antisiasme dari peserta pelatihan ABPK yang yang dilaksanakan pada tahun 2010. 2) Peserta menyadari posisinya dalam program KB pria. Ketepatan : kurang tepat guna. 1) Pelatihan seharusnya diprioritaskan pada tenaga teknis pelaksana MOP hal ini bertujuan untuk mencegah terjadinya kegagalan tindakan, kepuasan akseptor terhadap pelayanan maupun komplikasi. 2) Pelatihan promosi kesehatan tentang KB pria belum ada. 3) Pelaksanaan penyuluhan oleh tenaga kesehatan belum maksimal dimasyarakat, dikarenakan adanya prioritas program terhadap pencapaian MKET (IUD dan Implant). 4) Masih banyak pria pasangan usia subur yang belum ternformasi tentang KB pria. 4. Advokasi terhadap Pengambil kebijakan, mencakup DPRD, Dinas Kesehatan dan Pemerintah Kota. Efektivitas : cukup 1) Belum ada advokasi terhadap DPRD. 2) Sambutan baik pemerintah kota terhadap program KB pria. 3) Adanya slogan dari pemerintah kota bahwa KB adalah tanggung jawab pria. 4) Adanya kesepakatan dinas kesehatan kota dengan BKKBN akan pentingnya pencapaian KB 5) pria yang berbasis gender. 6) Pelayanan MOP sebagai salah satu jenis yang ditanggung dalam JAMKESMAS. Efisiensi : cukup baik. 1) Adanya pertemuan antara dinas kesehatan dan BKKBN Provinsi Sumateran Barat dalam 2) kesatuan misi dalam KB pria. 3) Advokasi terhadap pemerintahan Kota. Kecukupan : baik 1) Anggaran biaya sudah ditetapkan pada tiap tahun anggaran mengacu pada rencana anggaran biaya yang telah dibuat sebelumnya.(tidak ada masalah tipe I dan tipe II). Perataan : kurang merata. 1) Belum ada advokasi terhadap DPRD. 2) Tidak ada keputusan/kebijakan DPRD terhadap program KB pria. Responsivitas : baik 1) Kesamaan visi dinas kesehatan kota, Pemerintah Kota dan BKBN Provisnsi dalam pencapaian program KB pria. Ketepatan : cukup tepat guna. 1) Aksi pengambil kebijakan merupakan kunci utama dalam keberhasilan suatu program. 2) Advokasi yang terlaksana adalah pada dinas kesehatan kota dan pemerintah kota. 3) Unmet need dikarenakan biaya yang mahal dan pelayanan gratis bagi pengguna kartu jamkesmas yang belum tepat sasaran 5. Pembentukan dan Pelatihan PLKB. Efektivitas : cukup baik 1) Adanya kerelaan dari Pelaksana lapangan KB dalam program KB pria. 2) Adanya pelatihan secara berkala terhadap PLKB yang dilakukan oleh BKKBN. Efisiensi : cukup. 1) Sumber dana pelatihan totalitas berasal dari BKKBN, dana yang terbatas dibuatnya kebijakan prioritas pelatihan terhadap PLKB. 2) Pelaksanaan pelatihan secara brkala. 3) Jumlah PLKB yang sudah dilatih selama 2009-2010 adalah 70 orang. 4) Pelatihan dilaksanakan di BKKBN Propinsi Sumatera barat dengan narasumber dari tim 5) Widyasawara internal. 6) Pemberian transport pada peserta pelatihan dengan mengacu pada Perda uang harian 7) Rp.100.000/hari. Kecukupan : baik 1) Anggaran biaya sudah ditetapkan pada tiap tahun anggaran mengacu pada rencana anggaran biaya yang telah dibuat sebelumnya.(tidak ada masalah tipe I dan tipe II). Perataan : kurang merata 1) Peserta pelatihan belum mewakili daerah yang ada di kota Padang. 2) Adanya disparitas peserta pelatihan ( belum adanya PLKB di daerah bungus, kelurahan parak 3) buruk dan pauh yang merupakan daerah yang agak jauh dari pantauan tenaga kesehatan). Responsivitas : kurang 1) Tim PLKB masih kurang dalam mempromosikan program KB pria, hal ini disebabkan belum adanya petunjuk jelas tugas PLKB dilapangan. 2) Kegiatan baru sebatas pelatihan terhadap PLKB. 3) Masih banya masyarakat yang belum merasakan keberadaan PLKB. 4) Masih banyak masyarakat yang tidak mengetahuai secara spesifik program KB pria. Ketepatan : cukup tepat 1) PLKB yang dibentuk diharapkan mampu memberikan penyuluhan, informasi dan penegasan terhadap program KB pria. 2) PLKB sudah memahami karakteristik masyarakat setempat. 3) PLKB berdasarkan kemampuan dan pengaruhnya dimasyarakat. PENUTUP Keimpulan Secara umum pencapaian akseptor KB pria masih jauh dari target yang diharapkan yaitu 10 persen, sedangkan pencapaian hanya 2,85 persen (MOP 0,14 persen dan Kondom 2,71 persen). Target nasional yang tercapaian 2010 adalah 3,8 persen. Dilihat dari kebijakan program KB pria di Kota Padang sudah baik, namun dalam pelaksanaanya belum maksimal. Hal ini dapat dilihat dari jajaran pengambilan kebijakan yang belum diadvokasi secara merata, Kendala lain juga ditemui bahwa tingginya Unmeet need KB pria dikarenakan biaya yang mahal dan pelayanan gratis bagi pengguna kartu jamkesmas yang belum tepat sasaran. Pendekatan persuasif ayng dilakukan pada pemuka msyarakat sedikit mendapat hambatan dikarenakan tidak ada kriteria yang jelas dalam pemilihan perwakilan pemuka masyarakat yang diestafetkan pada pemerintah kecamatan sehingga masih ada daerah-daerah yang belum terwakili. Pelatihan terhadap tenaga kesehatan belum menjawab kebutuhan program KB pria, dimana pelatihan teknis MOP belum ada. Aksi dilapangan Tenaga kesehatan dalam mengkampanyekan/promosi kesehatan KB pria belum optimal dikarenakan prioritas program lebih kepada MKET (IUD dan Implant) sehingga masih banya masyarakat yang tidak mengeahui secara spesifik KB pria. Tidak jelasnya petunjuk teknis tugas PLKB sehingga masyarakat belum merasakan keberadaannya. Rekomendasi 1. Perlu Advokasi secara merata terhadap pengambil kebijakan. 2. Penetapan pelatihan terhadap tenaga kesehatan berdasarkan prioritas. 3. Optimalisasi kegiatan tenaga kesehatan pada tingkat puskesmas dalam penyuluhan/promosi KB pria. 4. Adanya petunjuk teknis tugas dan tanggung jawab PLKB dilapangan DAFTAR PUSTAKA BKKBN-Fak.Ekonomi Universitas Indonesia 2004. Solusi bagi Pembangunan Bangsa, Info Demografi, Wahana Peningkatan Pengetahuan Kependudukan, Vol. XIII, Nomor 1, Jakarta. Kementerian Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembaungan Nasional. 2009. Laporan penyelenggaraan MUSRENBANGNAS RPJMN 2010-2014. Jakarta. Peraturan Presiden RI Nomor 5 tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RJPMN) tahun 2010-2014. Suratun, et al. 2008. Pelayanan KB Dan Pelayanan Kontrasepsi. Jakarta : Trans Info Media. Waluyo P. 2011. Evaluasi Pelaksanaan Program KB Nasional Tahun 2010 disampaikan dalam Konsultasi bidang program kependudukan dan KB Nas. Batam
Pengelola : STIKES KARYA HUSADA KEDIRI
» http://www.stikes-khkediri.ac.id
Kontak : Reni Yuliastutik
Jl. Soekarno Hatta No 7 Po Box. 153
» Tel / fax : 0354 399912 /
» Sampul depan [ 272.314 bita ]
Penerbit : STIKES KARYA HUSADA KEDIRI
Frekwensi terbitan : 1 tahunan
Nomor ISSN : 2339-0670 (media cetak)
Keterangan : » Kategori kesehatan
» SK no. 0005.003/JI.3.2/SK.ISSN/2013.10 - 3 Oktober 2013 (mulai edisi 3 Oktober 2013)

» URL pendek : http://u.lipi.go.id/1380347664
» kirim ke teman
» versi cetak
» berbagi melalui Facebook
» berbagi melalui Twitter
» markah halaman ini

6224 kali diakses »
1.767 kali dicetak »
0 kali dikirim »

Dikelola oleh PDII dan TGJ LIPI Hak Cipta © 2007-2017 LIPI