Senin, 21 Agustus 2017         PDII LIPI       LIPI       Halaman Depan »

» ISSN ONLINE kontak kami »

Nomor ISSN yang telah diterbitkan :

» Kata kunci : tahun permohonan  
Pisahkan kata kunci dengan spasi. Untuk melihat daftar ISSN lengkap, klik tombol CARI tanpa menuliskan kata kunci apapun... halaman sebelumnya »

Nomor ID : 1497604718
Tanggal permohonan : Jumat, 16 Juni 2017
Nama terbitan : Jurnal ICMES : The Journal of Middle East Studies
Sinopsis : Sebagai negara dengan jumlah penduduk beragama Islam terbesar di dunia Indonesia seharusnya memiliki keterkaitan yang erat dengan negara-negara di kawasan Timur Tengah yang juga merupakan negara-negara dengan mayoritas penduduknya beragama Islam. Kedekatan kultural ini ternyata tidak memiliki korelasi positif yang cukup berarti dengan orientasi politik luar negeri dari masing-masing negara baik dari Indonesia maupun negara-negara Timur Tengah yang bersifat resiprokal, terutama dalam aspek ekonomi-politik. Data menunjukkan bahwa masing-masing pihak tidak saling mengutamakan satu dengan yang lainnya. Saudi Arabia adalah negara yang dianggap representasi negara arab di kawasan Timur Tengah dan Iran adalah negara nonarab yang dianggap sebagai salah satu determinan dari perkembangan di kawasan Timur Tengah. Data menunjukkan bahwa bagi Indonesia dan kedua negara tersebut hubungan di antara mereka bukanlah prioritas yang utama dalam orientasi politik luar negerinya. Bagi Saudi Arabia, selain Amerika Serikat mitra utama dalam kerjasama ekonomi adalah Tiongkok dan Jepang yang secara geografis berada di kawasan Asia Timur yang relatif sama dengan Indonesia. Nilai investasi Saudi Arabia di Tiongkok sebesar US$ 65 miliar atau setara dengan Rp 867 triliun jauh lebih besar daripada investasi di Indonesia yang hanya sebesar US$ 7 milyar atau setara dengan Rp 89 triliun. Jika dilihat dari nilai investasinya, maka di mata Saudi Arabia posisi Indonesia tidak lebih utama daripada Malaysia. Nilai investasi Saudi Arabia di Indonesia jauh lebih kecil daripada investasi Singapura di Indonesia yang pada tahun 2009 mencapai nilai US$ 9,18 milyar atau sekitar Rp. 122 trilyun. Sebagai negara pengimpor minyak, ternyata impor minyak Saudi Arabia ke Indonesia sebesar 6,3 juta ton lebih sedikit daripada Malaysia yang mencapai 7 juta ton dan Singapura yang mencapai 15,98 juta ton pada tahun 2015. Meskipun memiliki kesamaan kultural sebagai negara dengan mayoritas penduduknya beragama Islam tetapi orientasi utama politik luar negeri Saudi Arabia bukan Indonesia. Mitra perdagangan terbesar Saudi Arabia adalah Tiongkok dengan nilai perdagangan sebesar US$ 51,83 miliar atau sekitar Rp 712 triliun pada 2015.Amerika Serikat merupakan mitra dagang Saudi terbesar kedua dengan nilai transaksi US$ 43,1 miliar dan Korea Selatan di urutan ketiga dengan nilai transaksi mencapai US$ 29 miliar. Sementara Indonesia berada di posisi ke 17, dengan nilai transaksi perdagangan hanya US$ 5,5 miliar. Tidak jauh berbeda dengan Saudi Arabia, mitra utama perdagangan Iran adalah bukan Indonesia, melainkan Uni Emirat Arab (23,6 persen) dan Tiongkok (22,3 persen), sedangkan Uni Eropa berada di peringkat kelima (6 persen). Rendahnya nilai kemitraan perdagangan Indonesia dengan Iran terutama dipengaruhi oleh adanya sanksi yang dilakukan oleh beberapa negara barat dan lembaga-lembaga internasional terhadap Iran. Variabel kerjasama bilateral di bidang ekonomi menjadi indikator utama yang menunjukan orientasi politik diantara dua negara. Berdasarkan data di atas dapat disimpulkan bahwa bagi negara-negara Timur Tengah yang diwakili oleh Saudi Arabia dan Iran, Indonesia bukanlah mitra strategis yang dianggap sangat penting. Jika merujuk data kondisi sebaliknya pun berlaku, karena orientasi politik luar negeri Indonesia terutama difokuskan kepada ASEAN, Amerika Serikat dan Tiongkok. Arti Penting Timur Tengah Bagi Indonesia Sebetulnya tidak perlu ada dilema atau dikotomi dalam hal orientasi politik luar negeri Indonesia. Sebagai negara yang secara geografis berada di kawasan Asia Tenggara sangat logis jika Indonesia menjadikan ASEAN sebagai salah satu fokus utamanya, demikian pula dengan Amerika Serikat dan Tiongkok, kedua negara tersebut saat ini adalah aktor terpenting yang mendisain arah politik dan ekonomi global. Tetapi mengabaikan kawasan Timur Tengah juga bukan pilihan yang tepat. Selain secara kultural memiliki keterkaitan yang erat, kawasan Timur Tengah merupakan episentrum ekonomi-politik global, tidak heran jika negara-negara adidaya seperti Amerika Serikat, Rusia dan Tiongkok mengerahkan perhatian utamanya di sana. Arti penting kawasan Timur Tengah bagi duniaadalah selain karena kawasan ini menjadi sumber energi fosil bagi banyak negara juga dalam dimensi keamanan global kawasan ini menjadi penentu arah pendulum kondisi keamanan global. Beberapa perang besar yang terjadi baik sejak masa Perang Dunia I dan II, kemudian masa Perang Dingin maupun pasca Perang Dingin terjadi di kawasan ini. Terlebih lagi kini perang asimetrik yang melibatkan aktor-aktor nonnegara seperti kelompok-kelompok teroris transnasional berasal dari kawasan ini. Saudi Arabia dan Iran merupakan dua aktor utama yang menentukan ke arah mana pendulum yang menggambarkan kondisi keamanan global akan bergerak. Persaingan kedua negara menjadi determinan temperatur politik keamanan di kawasan Timur Tengah. Sebagai negara dengan jumlah penduduk beragama Islam di dunia dan dengan citra sebagai negara muslim moderat (setidaknya hingga beberapa tahun terakhir ini), Indonesia dapat menjadi penengah di antara kedua negara, atau memberi warna, menggeser arah pendulum ke arah yang lebih baik. Bagi negara-negara adidaya seperti Amerika Serikat, Rusia dan Tiongkok, kawasan Timur Tengah mungkin hanya dianggap sebagai sumberdaya atau komoditas yang harus dieksploitasi demi kepentingan nasional mereka belaka. Berbeda dengan mereka Indonesia harus memiliki kesadaran bahwa dalam konteks sistem global, apa yang terjadi di kawasan tersebut dipengaruhi dan memberi pengaruh terhadap sistem global termasuk Indonesia. Sehingga menjadi penting bagi Indonesia untuk menjadikan kawasan Timur Tengah sebagai fokus utama politik luar negerinya. Di sinilah letak relevansi dari arti studi Timur Tengah bagi para sarjana di Indonesia. Para pengkaji studi Timur Tengah Indonesia harus berperan aktif memberikan sumbangan pemikiran memberikan perspektif tentang bagaimana kawasan ini harus dikelola tentang bagaimana sikap pemerintah dan masyarakat Indonesia seharusnya terhadap permasalahan yang ada di kawasan tersebut. Pendekatan transdisiplin yang mengedepankan prinsip-prinsip ilmiah dan logika yang baik perlu menjadi dasar dalam mengembangkan studi Timur Tengah dewasa ini. Para penstudi Timur Tengah yang jujur, adil dan mengedepankan prinsip-prinsip ilmiah harus berada di garis depan, mengingat saat ini terlalu banyak pandangan-pandangan tentang apa yang terjadi di Timur Tengah yang tidak didukung oleh prinsip-prinsip ilmiah. Oleh karena itu, kami dari Pusat Studi Timur Tengah Universitas Padjadjaran menyambut baik penerbitan Jurnal ICMES, The Journal of Middle East Studies. Semoga jurnal ini dapat berkembang dengan baik dan konsisten memberikan pencerahan kepada publik mengenai dinamika Timur Tengah dengan cara-cara yang credible dan ilmiah.
Pengelola : Indonesian Center for Middle East Studies
Kontak : Otong Sulaeman, M.Hum
Jl. Lodaya 65 Burangrang, Bandung
» Tel / fax : 0813 9492 3871 /
» Sampul depan [ bita ]
Penerbit : Indonesian Center for Middle East Studies
Frekwensi terbitan : 6 bulanan
Nomor ISSN : 2580-5657 (media cetak)
Keterangan : » Kategori politik
» SK no. 0005.25805657/JI.3.1/SK.ISSN/2017.07 - 4 Juli 2017 (mulai edisi Vol. 1, No. 1, Juni 2017)

» URL pendek : http://u.lipi.go.id/1497604718
» kirim ke teman
» versi cetak
» berbagi melalui Facebook
» berbagi melalui Twitter
» markah halaman ini

2455 kali diakses »
0 kali dicetak »
0 kali dikirim »

Dikelola oleh PDII dan TGJ LIPI Hak Cipta © 2007-2017 LIPI